BAB I

PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang

Pendidikan merupakan salah satu hal yang paling penting bagi kehidupan manusia. Melalui Pendidikan seseorang akan mampu mengembangkan kampuan dan mengetahui berbagai hal. Pendidikan juga dapat dijadikan sebagai jembatan bagi seseorang yang ingin mencapai cita-citanya dalam hidup. Semakin tinggi Pendidikan seseorang juga akan semakin tinggi kualitas berfikirnya. Agama Islam menjadi salah satu agama yang menjadi mayoritas di Indonesia. Hal itu dapat dilihat dari begitu banyaknya orang muslim yang tersbar di seluruh Indonesia.

Di Indonesia sendiri pendidikan menjadi salah satu hal yang menjadi pokok pemabahasan yang mendalam. Beberapa diantara pembahasan tersebut adalah tentang hukuman/punishment mengingat Indonesia merupakan negara hukum. Hukuman itu tersediri memiliki banyak konteks salah satunya dalam Islam siapa yang banyak berbuat dosa maka akan mendapat hukuman tersendiri. Untuk mengetahui hal itu dalam makalah akan membahas tentang hukuman yang dibahas dalam ayat Al-Qur’an.

B.       Rumusan Masalah

1.         Bagamana Tafsir Al-Qut'an tentag punnishment?

2.         Bagaimana Tafsir Al-Qut'an tentag reward?

C.      Tujuan

1.         Mengetahui Tafsir Al-Qut'an tentag punishment.

2.         Mengetahui tafsir Tafsir Al-Qut'an tentag reward.


BAB II

PEMBAHASAN

A.    Tafsir Al-Qut'an Tentag Punnishment

Punnishment merupakan kata yang berasal dari Bahasa Inggris yang artinya hukuman. Menurut Amin Danien Indrakusuma menjelaskan bahwa hukuman adalah tindakan menjatuhkan hukuman kepada anak secara sadar dan sengaja sengingga menimbulkan nestapa, dan dengan adanya  nestapa itu anak akan menjadi sadar akan perbuatannya dan berjanji di dalam hatinya untuk tidak mengulanginya.[1]

Berdasarkan pengertian hukuman di atas dapat diartikan bahwa hukuman merupakan sangsi yang diberikan kepada orang melakukan kesalahan. Begitu juga dengan negara Indonesia merupakan negara hukum bagi siapa saja warga negara melanggar undang-undang yang berlaku maka akan mendapat hukuman. Hal yang sama juga berlaku dalam Islam yang mana di dalam Islam juga terdapat aturan yang mengatur umat-Nya agar mentaati aturan yang telah ada. Bagi siapa yang melanggar aturan maka akan mendapatkan hukuman. Hukuman bagi seorang umat yang melanggar aturan telah tertuang dalam Al-Qur’an seperti yang dibahas dalam beberapa ayat berikurt:

1.      Al-Qur’an Surah Al-An’am ayat.6

öNs9r& (#÷rttƒ öNx. $uZõ3n=÷dr& `ÏB OÎgÎ=ö7s% `ÏiB 5bös% öNßg»¨Y©3¨B Îû ÄßöF{$# $tB óOs9 `Åj3yJçR ö/ä3©9 $uZù=yör&ur uä!$yJ¡¡9$# NÍköŽn=tã #Y#uôÏiB $uZù=yèy_ur t»yg÷RF{$# ̍øgrB `ÏB öNÍkÉJøtrB Nßg»uZõ3n=÷dr'sù öNÍkÍ5qçRäÎ/ $tRù't±Sr&ur .`ÏB öNÏdÏ÷èt/ $ºRös% tûï̍yz#uä ÇÏÈ  

Artinya: Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyak generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, Padahal (generasi itu) telah Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, Yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepadamu, dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri, dan Kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain.

Pemaparan Tafsir Jalalayn tentang ayat tersebut adalah (Apakah mereka tidak memperhatikan) dalam perjalanan-perjalanan mereka menuju ke negeri Syam dan negeri-negeri lainnya (berapa banyak) kalimat khabariah atau bukan kata tanya yang artinya betapa banyaknya (generasi-generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka) umat-umat yang terdahulu (padahal mereka telah Kami teguhkan) Kami berikan kedudukan (di muka bumi) melalui kekuatan dan kekuasaannya (yaitu keteguhan yang belum pernah Kami menganugerahkan) Kami berikan (kepadamu) dalam Lafal ini terkandung pengertian iltifat/peralihan dari orang ketiga ke orang kedua yang maksudnya ditujukan kepada orang ketiga (dan Kami curahkan) hujan (atas mereka dengan derasnya) tahap demi tahap (dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka) di bawah rumah-rumah tempat tinggal mereka (kemudian Kami binasakan mereka karena dosa-dosa mereka sendiri) oleh sebab kedustaan mereka terhadap para nabi (dan Kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain).[2]

2.      Al-Qur’an Surah Al-An’am ayat 42

ôs)s9ur !$uZù=yör& #n<Î) 5OtBé& `ÏiB y7Î=ö6s% Oßg»tRõs{r'sù Ïä!$yù't7ø9$$Î/ Ïä!#§ŽœØ9$#ur öNßg¯=yès9 tbqãã§Ž|ØtGtƒ ÇÍËÈ  

Artinya: Dan Sesungguhnya Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat yang sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri.

Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia 42. Sesungguhnya Kami telah mengutus banyak rasul kepada umat-umat sebelum kamu -wahai Rasul- kemudian mereka mendustakan para rasul tersebut dan berpaling dari ajaran yang dibawanya. Maka Kami hukum mereka dengan kesusahan seperti kemiskinan dan musibah pada tubuh mereka seperti penyakit supaya mereka mau tunduk dan patuh kepada Rabb mereka.[3]

3.      Al-Qur’an Surah Al-An’am ayat 88

y7Ï9ºsŒ yèd «!$# Ïöku ¾ÏmÎ/ `tB âä!$t±o ô`ÏB ¾ÍnÏŠ$t6Ïã 4 öqs9ur (#qä.uŽõ°r& xÝÎ6yss9 Oßg÷Ztã $¨B (#qçR%x. tbqè=yJ÷ètƒ ÇÑÑÈ  

Artinya: Itulah petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya di antara hamba-hambaNya. seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.

Menurut M. Quraish Shihab dalam tafsirnya Al-Misbah menjelaskan bahwa Petunjuk besar yang mereka dapatkan itu adalah petunjuk dari Allah yang Dia berikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Tetapi apabila mereka yang terpilih itu menjadi musyrik, sungguh akan hilang perbuatan baik yang telah mereka kerjakan dan mereka tidak akan mendapat pahala.[4]

4.      Al-Qur’an Surah Al-An’am ayat 120

(#râsŒur tÎg»sß ÉOøOM}$# ÿ¼çmoYÏÛ$t/ur 4 ¨bÎ) šúïÏ%©!$# tbqç7Å¡õ3tƒ zOøOM}$# tb÷rtôfãy $yJÎ/ (#qçR%x. tbqèùÎŽtIø)tƒ ÇÊËÉÈ  

Artinya: Dan tinggalkanlah dosa yang nampak dan yang tersembunyi. Sesungguhnya orang yang mengerjakan dosa, kelak akan diberi pembalasan (pada hari kiamat), disebabkan apa yang mereka telah kerjakan.

Tafsir Al-Wajiz / Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir negeri Suriah menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan dosa adalah kemaksiatan yang membuat peakunya berdosa yakni terjerumus ke dalam dosa dan kesengsaraan dalam perkara-perkara yang berkaitan dengan hak-hak Allah dan hak-hak hambaNya. Allah melarang hamba-hambaNya melakukan dosa yang lahir dan batin kecuali setelah dia mengetahui dan mencarinya, maka mengetahui dan mencari kemaksiatan hati dan badan adalah sesuatu yang wajib atas setiap mukallaf. Banyak orang tidak mengenal banyak kemaksitan, lebih-lebih kemaksiatan hati seperti kufur, ujub, riya dan sebagiannya sehingg banyak orang tertimpa olrhnya sementara dia tidak menyadari dan merasa dan ini termasuk berpaling dari ilmu dan tidak adanya bashirah. Kemudian Allah menjelaskan bahwa orang-orang yang melakukan dosa batin dan lahir akan dibalas sesuai dengan hasil perbuatanya dan sesuai kadar dosanya sedikit atau banyak.balasan ini akan hadir di Akhirat, dan bisa jadi seorang hamba di hukum di dunia, maka hal itu mengurangi keburukannya.[5]

5.      Al-Qur’an Surah Al-An’am ayat 135

$uZ­/u $uZù=yèô_$#ur Èû÷üyJÎ=ó¡ãB y7s9 `ÏBur !$uZÏF­ƒÍhèŒ Zp¨Bé& ZpyJÎ=ó¡B y7©9 $tRÍr&ur $oYs3Å$uZtB ó=è?ur !$oYøn=tã ( y7¨RÎ) |MRr& Ü>#§q­G9$# ÞOŠÏm§9$# ÇÊËÑÈ  

Artinya: Ya Tuhan Kami, Jadikanlah Kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) diantara anak cucu Kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada Kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji Kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.

Berdasarkan penjelaskan Tafsir Jalalayn menjelaskan bahwa (Katakanlah) kepada mereka ("Hai kaumku! Berbuatlah sepenuh kemampuanmu) sesuai dengan keadaanmu (sesungguhnya aku pun berbuat pula) sesuai dengan keadaanku. (Kelak kamu akan mengetahui siapakah di antara kita) man menjadi maushul dan menjadi maf`ul dari Lafal al-`ilm (yang akan memperoleh hasil yang baik dari dunia ini.") akibat yang dipuji di akhirat nanti, apakah kami atau kamu? (Sesungguhnya tidak akan mendapat keberuntungan) kebahagiaan (orang-orang yang lalim itu) yaitu orang-orang kafir.[6]

B.     Tafsir Al-Qut'an Tentag Reward

Reward atau dalam Bahasa Indonesia biasa dikenal dengan penghargaan. Penghargaan merupakan suatu hadiah yang diberikan kepada individu yang telah berprestasi yang berhasil melakukan sesuatu yang baik. Jika dalam persepektif Islam penghargaan lebih dikenal dengan balasan bagi orang yang telah melakukan perbuatan baik atau telah melakukan perbuatan yang telah diperintahkan. Beberapa balasan yang didapat ketika seorang muslim melakukan hal baik akan dibahas dalam beberapa ayat berikut:

1.      Al-Qur’an Surah Al-An’am ayat 84

$uZö6ydurur ÿ¼ã&s! t,»ysóÎ) z>qà)÷ètƒur 4 ˆxà2 $oY÷ƒyyd 4 $·mqçRur $oY÷ƒyyd `ÏB ã@ö6s% ( `ÏBur ¾ÏmÏG­ƒÍhèŒ yмãr#yŠ z`»yJøn=ßur šUqƒr&ur y#ßqãƒur 4ÓyqãBur tbr㍻ydur 4 y7Ï9ºxx.ur ÌøgwU tûüÏZÅ¡ósßJø9$# ÇÑÍÈ  

Artinya: Dan Kami telah menganugerahkan Ishak dan Yaqub kepadanya. kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk; dan kepada Nuh sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebahagian dari keturunannya (Nuh) Yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun. Demikianlah Kami memberi Balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.

Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir / Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah 84 Kami telah menganugerahkan Ishak dan Ya’qub bin Ishak kepada Ibrahim. Kepada masing-masing keduanya telah Kami beri petunjuk kepada kebenaran serta Kami jadikan keduanya sebagai Nabi. Serta kepada Nuh sebelum itu juga telah Kami beri petunjuk, Kami jadikan Nuh sebagai Rasul pertama untuk manusia. Kami jadikan keturunan Nuh sebagai Nabi, yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun. Itu adalah jumlah keturunan yang baik dari Ibrahim, sebab kemuliaan anak bersambung kepada kemuliaan para leluhurnya. Sebagaimana Kami beri balasan [ara Nabi yang telah berbuat kebaikan dengan berjuang dan berdakwah, maka Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan petunjuk agama dan menuntun manusia.[7]

2.      Al-Qur’an Surah Al-An’am ayat 132

øŒÎ)ur $uZù=yèy_ |MøŠt7ø9$# Zpt/$sWtB Ĩ$¨Z=Ïj9 $YZøBr&ur (#räσªB$#ur `ÏB ÏQ$s)¨B zO¿Ïdºtö/Î) ~?|ÁãB ( !$tRôÎgtãur #n<Î) zO¿Ïdºtö/Î) Ÿ@Ïè»yJóÎ)ur br& #tÎdgsÛ zÓÉLøt/ tûüÏÿͬ!$©Ü=Ï9 šúüÏÿÅ3»yèø9$#ur Æìž29$#ur ÏŠqàf¡9$# ÇÊËÎÈ  

Artinya: Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. dan Jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: "Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i'tikaf, yang ruku' dan yang sujud".

M. Quraish Shihab dalam menafsirkan Surah Al-An-am ayat 132 menjelaskan bahwa Masing-masing orang yang berbuat baik dan buruk ada tingkatan-tingkatan balasannya. Yang berbuat baik akan dibalas kebaikan dan yang berbuat buruk akan dibalas dengan keburukan pula. Allah adalah Pencipta dan Penentu kadar sesuatu, tidak akan lengah dengan apa yang mereka kerjakan. Pekerjaan mereka ada dalam buku yang mencatat semua yang kecil dan yang besar.[8]

3.      Al-Qur’an Surah Al-An’am ayat 160

 

`tB uä!%y` ÏpuZ|¡ptø:$$Î/ ¼ã&s#sù çŽô³tã $ygÏ9$sWøBr& ( `tBur uä!%y` Ïpy¥ÍhŠ¡¡9$$Î/ Ÿxsù #tøgä žwÎ) $ygn=÷WÏB öNèdur Ÿw tbqßJn=ôàムÇÊÏÉÈ  

Artinya: Barangsiapa membawa amal yang baik, Maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan Barangsiapa yang membawa perbuatan jahat Maka Dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).

Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia 60. Orang mukmin yang datang pada hari Kiamat dengan membawa kebajikan akan dilipatgandakan (pahalanya) oleh Allah sebanyak sepuluh kali lipat. Sedangkan orang yang datang dengan membawa keburukan hanya akan dihukum berdasarkan besar atau kecilnya keburukan tersebut, tidak akan dilebihkan dari itu. Dan pada hari Kiamat nanti mereka tidak akan dizalimi dengan cara dikurangi (pahala) kebajikannya maupun ditambah hukuman keburukannya.[9]

4.      Al-Qur’an Surah Al-Kahfi ayat 88

$¨Br&ur ô`tB z`tB#uä Ÿ@ÏHxåur $[sÎ=»|¹ ¼ã&s#sù ¹ä!#ty_ 4Óo_ó¡çtø:$# ( ãAqà)uZyur ¼çms9 ô`ÏB $tR̍øBr& #ZŽô£ç ÇÑÑÈ  

Artinya: Adapun orang-orang yang beriman dan beramal saleh, Maka baginya pahala yang terbaik sebagai balasan, dan akan Kami titahkan kepadanya (perintah) yang mudah dari perintah-perintah kami".

Tafsir Jalalayn menjelaskan (Adapun orang-orang yang beriman dan beramal saleh, maka baginya pahala yang terbaik) yakni surga; diidhafatkannya lafal Jazaa-an kepada lafal Al Husna mengandung makna penjelasan. Dan menurut qiraat yang lain lafal Jazaa-an dibaca Jazaa-u'; sehubungan dengan bacaan ini Imam Al-Farra' mengatakan bahwa dinashabkannya lafal Jazaa-an karena dianggap sebagai kalimat penafsir, maksudnya bila ditinjau dari segi nisbatnya (dan akan Kami titahkan kepadanya perintah yang mudah dari perintah-perintah Kami)" maksudnya Kami akan memberikan perintah kepadanya dengan perintah yang mudah untuk ia laksanakan.[10]

5.      Al-Qur’an Surah Al-Isra’ ayat 7

÷bÎ) óOçFY|¡ômr& óOçFY|¡ômr& ö/ä3Å¡àÿRL{ ( ÷bÎ)ur öNè?ù'yr& $ygn=sù 4 #sŒÎ*sù uä!%y` ßôãur ÍotÅzFy$# (#qä«ÿ½Ý¡uŠÏ9 öNà6ydqã_ãr (#qè=äzôuÏ9ur yÉfó¡yJø9$# $yJŸ2 çnqè=yzyŠ tA¨rr& ;o§tB (#rçŽÉi9tFãŠÏ9ur $tB (#öqn=tã #·ŽÎ6÷Ks? ÇÐÈ  

Artinya: Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, Maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam mesjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai.

Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir / Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah menjelaskan Jika kalian memperbaiki perbuatan dan perkataan kalian dengan menaati Tuhan kalian maka kalian telah berbuat baik pada diri kalian, karena imbalan atas hal itu adalah bagi kalian sendiri. Dan jika kalian berbuat kerusakan dan kemaksiatan maka atas kalian itu musibah yang buruk. Dan apabila telah datang saat lain (hukuman lain) atas kerusakan kedua di bumi, Kami akan mengutus mereka (kaum dari Babilonia) agar mereka memberi dampak buruk, hina dan menyedihkan bagi kalian, yaitu agar mereka memberi kalian kehinaan, penderitaan dan keburukan, lalu mereka masuk ke dalam Baitul Maqdis dan menghancurkannya, sebagaimana mereka masuk ke dalamnya pertama kali, kemudian mereka merobohkan dan memberi kehancuran yang dahsyat terhadap sesuatu yang mendominasi mereka, yaitu negeri kalian.[11]

 

 


BAB III

PENUTUP

A.    Kesimpulan

Kehidupan manusia pada dasarkan tidak terlepas dari dua perbuatan yaitu baik dan buruk. Bagi siapa yang melakukan perbuatan buruk makan akan mendapatkan hukuman yang setimpal akan apa yang telah dilakukannya. Kemudian juga sebaliknya siapa yang telah melakukan perbuatan baik maka akan mendapat balasan baik. Semua itu sudah dijelaskan dalam ayat Al-Qur’an yang mana telah dibahas sebelumnya pada pembahasan pertama.

B.     Saran

Setelah mengetahui bahwa setiap perbuatan setiap manusia terutama umat muslim pasti akan mendapatkan balasan. Oleh karena itu sebaiknya setiap manusia harus melakukan perbuatan sesuai dengan aturan yang ada dalam Islam.

DAFTAR RUJUKAN

Minan, Ahmad Zuhri. 2020. Hukuman Dalam Pendidikan. Malang: Ahlimedia Press.

 

https://tafsirq.com/6-Al-An'am/ayat-6

 

https://tafsirweb.com/2166-quran-surat-al-anam-ayat-42.html

 

https://tafsirq.com/6-Al-An'am/ayat-88#tafsir-quraish-shihab

 

https://tafsirweb.com/2244-quran-surat-al-anam-ayat-120.html

 

https://tafsirq.com/6-Al-An'am/ayat-135

 

https://tafsirweb.com/2208-quran-surat-al-anam-ayat-84.html

 

https://tafsirq.com/6-Al-An'am/ayat-132#tafsir-quraish-shihab

 

https://tafsirweb.com/2284-quran-surat-al-anam-ayat-160.html

 

https://tafsirq.com/18-al-kahf/ayat-88

 

https://tafsirweb.com/4611-quran-surat-al-isra-ayat-7.html

 



[1] Ahmad Minan Zuhri, Hukuman Dalam Pendidikan, (Malang: Ahlimedia Press, 2020), hlm.9.

[2] https://tafsirq.com/6-Al-An'am/ayat-6 diakses pada tanggal 25-12-2020 pukul 2.14

[3] https://tafsirweb.com/2166-quran-surat-al-anam-ayat-42.html diakses pada tanggal 25-12-2020 pukul 2.24

[4] https://tafsirq.com/6-Al-An'am/ayat-88#tafsir-quraish-shihab diakses pada tanggal 25-12-2020 pukul 2.28

[5] https://tafsirweb.com/2244-quran-surat-al-anam-ayat-120.html diakses pada tanggal 25-12-2020 pukul 2.31

[6] https://tafsirq.com/6-Al-An'am/ayat-135 diakses pada tanggal 25-12-2020 pukul 2.36

[7] https://tafsirweb.com/2208-quran-surat-al-anam-ayat-84.html diakses pada tanggal 25-12-2020 pukul 2.43

[8] https://tafsirq.com/6-Al-An'am/ayat-132#tafsir-quraish-shihab diakses pada tanggal 25-12-2020 pukul 2.54

[9] https://tafsirweb.com/2284-quran-surat-al-anam-ayat-160.html diakses pada tanggal 25-12-2020 pukul 2.58

[10] https://tafsirq.com/18-al-kahf/ayat-88 diakses pada tanggal 25-12-2020 pukul 3.20

[11] https://tafsirweb.com/4611-quran-surat-al-isra-ayat-7.html diakses pada tanggal 25-12-2020 pukul 3.23