BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Setiap manusia memiliki intelektual yang
berbeda. Perbedaan intelektual tersebut membuat seseorang ada yang memiliki IQ
tinggi dan ada juga yang rendah. Hal itu juga mampu mempengaruhi proses belajar
dan mengajar siswa. Siswa yang memiliki IQ yang tinggi dia akan memiliki
kemampuan menangkap pelajar dengan cepat. Sedangkan yang memiliki IQ rendah dia
akan agak lambat dalam menangkap pelajaran.
Ilmu yang mempelajari IQ seseorang merupakan
ilmu yang penting bagi seorang guru. Hal itu dilakukan mengingat dengan seorang
guru mengetahui tinggi rendahnya seorang murid akan memudahkan guru untuk
memberikan pembelajaran sesuai dengan kemampuan murid. Oleh karena itu akan
dibahas secara mendalam tentang mental manusia.
B. Rumusan
Masalah
- Apa yang dimaksud retardasi mental?
- Apa yang dimaksud psikotik?
- Apa yang dimaksud neuropsikologis?
C. Tujuan
- Mengetahui apa yang dimaksud
retardasi mental
- Mengetahui
apa yang dimaksud
psikotik.
- Mengetahui apa yang
dimaksud neuropsikologis.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Retardasi Mental
Retardasi mental atau disabilitas intelektual adalah gangguan
intelektual yang ditandai dengan kemampuan mental atau intelegensi di bawah
rata-rata. Orang dengan retardasi mental mempelajari kemampuan baru, namun
lebih lambat. Terdapat berbagai derajat retardasi mental, mulai dari ringan
hingga sangat berat. Kemampuan intelegensi biasanya diukur dengan menggunakan
skor IQ. Seseorang dikatakan retardasi mental apabila didapati skor IQ < 70.[1]
1.
Gejala
Retardasi Mental
Retardasi mental biasanya diketahui saat kecil. Terdapat
beberapa gejala dan tanda dari retardasi mental pada anak-anak. Gejala ini
muncul bergantung dari berat ringannya penyakit. Beberapa tanda dan gejala
retardasi mental yaitu:
a. Sering berputar, duduk-berdiri, merangkak, atau terlambat
berjalan.
b. Memiliki gangguan dalam berbicara, atau sering telat dalam
berbicara.
c. Lamban dalam memelajari sesuatu hal yang sederhana, seperti
berpakaian, membersihkan diri, dan makan.
d. Kesulitan mengingat barang
e. Kesulitan untuk berhubungan dengan orang lain.
f. Gangguan perilaku, seperti tantrum.
g. Kesulitan dalam diskusi penyelesaian masalah atau pola
pikir logis.
Anak dengan retardasi mental berat biasanya akan disertai
dengan masalah kesehatan lainnya. Masalah ini terkait kejang, gangguan mood
(cemas dan autisme), kelainan motorik, gangguan penglihatan atau gangguan
pendengaran.
2. Penyebab Retardasi
Mental
3.
Retardasi mental disebabkan
oleh gangguan perkembangan otak. Namun, penyebab pasti dari retardasi mental
hanya bisa ditentukan dengan pasti sepertiga dari seluruh angka kejadian.
Berikut ini penyebab paling sering dari retardasi mental:
a.
Kelainan genetik. Kelainan
seperti sindrom down dan sindrom fragile X yang berkaitan erat dengan kelainan
genetik dapat menyebabkan retardasi mental.
b.
Masalah selama kehamilan,
beberapa keadaan saat kehamilan dapat menyebabkan gangguan perkembangan otak
janin, seperti penggunaan alkohol, obat-obatan terlarang, gizi buruk, infeksi,
dan preeklamsia.
c.
Masalah selama masa bayi,
Retardasi mental dapat disebabkan bayi yang selama masa kelahiran tidak
mendapatkan asupan oksigen yang cukup, atau bayi yang sangat prematur sehingga
paru-paru belum matang secara sempurna.
d.
Cedera atau penyakit yang
lainnya, infeksi seperti meningitis, atau campak dapat menyebabkan retardasi
mental. Cedera kepala berat, keadaan hampir tenggelam, malnutrisi ekstrem,
infeksi otak dapat berpengaruh terhadap retardasi mental.
4. Faktor Risiko Retardasi
Mental
5.
Beberapa faktor yang dapat
meningkatkan risiko retardasi mental pada anak antara lain:
a.
Faktor biologis, contohnya pada kelainan kromosom pada pengidap
sindrom down.
b.
Faktor metabolik, beberapa kelainan metabolik dapat meningkatkan
risiko retardasi mental seperti penyakit phenylketonuria (PKU), dimana tubuh
tidak dapat mengubah asam amino fenilalanin menjadi tirosin.
c.
Faktor prenatal, perawatan pra kelahiran yang buruk dapat
meningkatkan risiko retardasi mental pada bayi, contohnya konsumsi alkohol pada
kehamilan dan infeksi cytomegalovirus saat
kehamilan.
d.
Faktor psikososial, lingkungan rumah dan keluarga dapat menjadi
penyebab timbulnya retardasi mental terutama tipe sosio-kultural, yang merupakan
retardasi mental ringan.
6. 4. Diagnosis Retardasi Mental
7.
Retardasi mental dapat
dicurigai dari beberapa sebab. Misal jika bayi memiliki abnormalitas fisik
karena kelainan genetik atau kelainan metabolik, berbagai macam pemeriksaan
dapat pula dikerjakan untuk menegakkan diagnosis tersebut. Pemeriksaan darah,
urine atau pencitraan otak dapat dilakukan untuk melihat kelainan struktural
otak, atau elektroensefalogram juga dapat dilakukan untuk melihat kemungkinan
kejang yang dapat terjadi. Tiga faktor yang dapat menentukan diagnosis
retardasi mental yaitu: wawancara dengan kedua orang tua, observasi terhadap
anak, dan uji intelegensi dan kemampuan adaptif. Seorang anak dapat dikatakan
mengidap retardasi mental jika memiliki kekurangan dalam IQ dan kemampuan
adaptif.
8.
5.
Pencegahan Retardasi Mental
9.
Beberapa penyebab retardasi
mental. Salah satu yang paling sering dan dapat dicegah adalah sindrom janin
alkohol. Sehingga, wanita hamil sebaiknya tidak mengonsumsi alkohol.
Pemeriksaan kehamilan yang baik juga dapat mencegah timbulnya retardasi mental.
Asupan vitamin, vaksin dan edukasi yang diberikan petugas kesehatan dapat
membantu mengurangi faktor risiko. Pada keluarga yang memiliki riwayat penyakit
keturunan, konseling genetik dapat dilakukan sebelum merencanakan kehamilan.
Beberapa pemeriksaan seperti USG dan pengambilan cairan ketuban, dapat
dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya retardasi mental. Meskipun, pemeriksaan
ini hanya sebagai penapisan sebelum persalinan, bukan sebagai pengobatan.
10.
6.
Pengobatan Retardasi Mental
11.
Terdapat beberapa program
pengobatan pada anak dengan retardasi mental. Semakin cepat didiagnosis, maka
semakin baik pula perkembangan yang dapat diusahakan saat
pengobatan. Untuk bayi dan anak-anak, intervensi awal meliputi terapi
wicara, terapi okupasi, terapi motorik-fisik, konseling keluarga, latihan
penggunaan alat khusus hingga program pengaturan nutrisi. Pada anak usia
sekolah dengan retardasi mental, anak dapat didaftarkan pada program sekolah
khusus untuk retardasi mental untuk dapat meningkatkan kemampuan adaptabilitas
anak.
B.
Psikotik
Gangguan psikotik adalah sekelompok penyakit serius yang memengaruhi
pikiran seseorang. Ada banyak jenis gangguan psikotik, di antaranya mungkin
sudah tidak asing lagi bagi kamu karena sering kamu dengar. Gangguan psikotik
dapat menyulitkan pengidapnya untuk berpikir jernih, membuat penilaian yang
baik, merespons secara emosional, berkomunikasi secara efektif, memahami
kenyataan, dan berperilaku dengan tepat. Bila gejalanya sudah parah, orang
dengan gangguan psikotik dapat mengalami kesulitan untuk tetap berhubungan
dengan kenyataan dan seringkali tidak mampu menjalani kehidupan sehari-hari.[2] Namun, bahkan
gangguan psikotik yang parah biasanya bisa diobati. Berikut ini jenis-jenis
gangguan psikotik:
1. Skizofrenia Orang yang mengidap skizofrenia dapat mengalami perubahan perilaku dan gejala
lainnya, seperti delusi dan halusinasi, yang dapat bertahan lebih dari 6 bulan.
Penyakit ini biasanya memengaruhi pengidap di tempat kerja atau sekolah, serta
dalam hubungan dengan orang lain.
2. Gangguan Skizoafektif, Orang dengan gangguan ini memiliki gejala skizofrenia dan
juga gangguan mood, seperti depresi
atau gangguan bipolar.
3. Gangguan Skizofreniform, Orang dengan gangguan
ini mengalami gejala skizofrenia, tetapi berlangsung lebih singkat, antara 1–6
bulan.
4. Gangguan Psikotik Singkat, Orang dengan penyakit
ini dapat secara tiba-tiba mengalami periode pendek perilaku psikotik yang
seringkali sebagai respons terhadap peristiwa yang traumatis, seperti kematian
anggota keluarga. Sesuai namanya, gangguan psikotik singkat seringkali dapat
sembuh dengan cepat, biasanya kurang dari sebulan.
5. Gangguan Delusi,
Gejala utama gangguan delusi adalah memiliki
khayalan yang melibatkan situasi kehidupan nyata yang seolah-olah terjadi,
tetapi kenyataannya tidak. Misalnya, merasa diikuti seseorang, dijadikan target
incaran seseorang, atau memiliki penyakit. Khayalan tersebut berlangsung
setidaknya selama 1 bulan.
6. Gangguan Psikotik Bersama, Gangguan psikotik
bersama atau yang disebut juga folie à deux terjadi ketika seseorang memiliki khayalan
berhubungan dengan orang lain yang mengadopsi khayalan tersebut juga.
7. Gangguan Psikotik yang Diinduksi Zat, Gangguan psikotik ini
disebabkan oleh penggunaan atau penarikan obat-obatan, seperti halusinogen dan
crack kokain, yang menyebabkan halusinasi, delusi, dan omongan yang
membingungkan.
8. Gangguan Psikotik karena Kondisi Medis Lain, Halusinasi, delusi,
atau gejala lain yang dialami seseorang disebabkan oleh penyakit lain yang
memengaruhi fungsi otak, seperti cedera kepala atau tumor otak.
9. Parafrenia, Kondisi ini memiliki gejala yang mirip dengan skizofrenia,
tetapibiasanya terjadi pada usia lanjut atau pada lansia.
C.
Neuropsikologis
Neurologi atau neuro adalah cabang dari ilmu kedokteran yang
menangani kelainan pada sistem saraf. Dokter yang
mengkhususkan dirinya pada bidang neurologi disebut neurolog dan memiliki
kemampuan untuk mendiagnosis, merawat,
dan memanejemen pasien dan kelainan saraf. Kebanyakan para neurolog dilatih untuk
menangani pasien dewasa. Untuk anak-anak dilakukan oleh neurolog pediatrik,
yang merupakan cabang dari pediatri atau ilmu
kesehatan anak.[3]
Psikologi adalah salah satu bidang ilmu pengetahuan dan ilmu
terapan yang mempelajari tentang perilaku, fungsi mental, dan proses mental manusia melalui prosedur ilmiah. Seseorang
yang melakukan praktik psikologis disebut sebagai psikolog. Para psikolog
berusaha untuk memperbaiki kualitas hidup seseorang melalui intervensi tertentu
baik pada fungsi mental, perilaku individu maupun kelompok, yang didasari atas
proses fisiologis, neurologis, dan
psikososial.[4]
Neuropsikologi adalah bidang psikologi klinis dan
eksperimental yang berupaya mempelajari hubungan antara struktur dan
fungsi otak dengan
proses dan perilaku psikologis.[5] Istilah neuropsikologi telah digunakan untuk penelitian
lesi pada
manusia dan hewan. Istilah ini juga diterapkan untuk upaya mencatat aktivitas
listrik dari sel-sel individual (atau sekelompok sel) pada primata-primata
(termasuk manusia). Pendekatan neuropsikologi bersifat ilmiah,
menggunakan neurosains, dan memiliki
sudut pandang mengenai pemrosesan
informasi yang
sejalan dengan psikologi kognitif dan sains kognitif.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Ganguan
intelektual atau retardasi mental merupakan salah satu jenis penyakit yang
sering di hadapi oleh dokter. Oleh karena itu ilmu yang membahas tentang
intelektual semakin dikembangkan. Hal itu memicu munculnya bidang keilmuan baru
yaitu neuropsikologis. Ilmu tersebut membahas tentang kesehatan mental
seseorang dan perilaku psikologis manusia.
B.
Saran
Ilmu mengenai intelektual manusia merupakan
ilmu yang cukup penting. Melalui ilmu tersebut seorang guru paud akan
mengetahui tinggi rendahnya IQ seorang murid. Sehingga guru mampu membedakan
dan memberikan pembelajaran sesuai dengan IQ murid.
DAFTAR
PUSTAKA
Sarwono, Sarlito W. 2012. Pengantar Psikologi
Umum. Jakarta: Rajawali pers.
https://id.wikipedia.org/wiki/Neurologi
https://id.wikipedia.org/wiki/Neuropsikologi
https://www.halodoc.com/artikel/ini-9-gangguan-psikotik-yang-sering-didengar
https://www.halodoc.com/kesehatan/retardasi-mental
[2]
https://www.halodoc.com/artikel/ini-9-gangguan-psikotik-yang-sering-didengar
diakses pada tanggal 11-3-2021 pukul 18.44
[4]
Sarlito W Sarwono, Pengantar
Psikologi Umum (Jakarta: Rajawali pers, 2012), hlm.12.

0 Komentar