PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Bermain merupakan salah satu kegiatan yang pasti
dirasakan oleh seorang anak. Melalui bermain anak akan merasakan gembira dan
kebebasan dalam lingkup yang kecil. Berbagai macam permaianan dapat dimainakan
oleh setiap anak. Tentu dalam permainan ada yang bersifat negatif dan ada yang
positif serta ada yang membahayakan dan ada yang tidak. Hal itu menjadikan
pentingnya pengawasan terhadap anak saat bermain. Salah satunya pada lingkungan
anak paud terbilang anak masih sangat muda dan tidak banyak yang dapat
menentukan mana baik mana buruk.
Peran orang tua juga sangat penting dalam proses
anak yang sedang bermain. Mengingat lingkungan sekitar rumah merupakan
lingkungan pertama dan lingkungan utama dalam proses bermain anak. Selain di
lingkugan sekitar di lingkungan pendidikan tentunya akan menjadi salah satu
lingkungan bermain juga bagi anak, mengingat banyaknya teman sepermainana yang
akan membuat anak semakin gembira saat bermain. Di lingkungan Pendidikan tentu
tidak terlepas dari pengawasan seorang tenaga pendidik. Oleh karena itu akan
dibahas terkait keterlibatan orang tua dan peran pendidik pada saat anak
bermain.
B. Rumusan
Masalah
- Bagaimana
peran pendidik dalam proses bermain anak?
- Apa keterlibatan
orang tua dalam proses bermain anak?
C.
Tujuan
- Mengetahui peran pendidik dalam
proses bermain anak.
- Mengetahui keterlibatan orang tua
dalam proses bermain anak.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Peran Pendidik Dalam Proses Bermain Anak
Secara umum peran guru
dalam kegiatan bermain dapat dilihat dari pengertian guru atau pendidik itu
sendiri. Seperti yang telah dipaparkan dalam pengertian diatas dapat
disimpulkan jika peran seorang guru secara umum adalah perencana, pendidik,
pengajar, pembimbing, pengarah, pelatih, penilai, dan pengevaluasi (evaluator).
Lalu pada jenjang pendidikan anak usia dini, peran seorang guru juga berperan
sebagai pengasuh dan pelindung.
Jika bermain dapat menyebabkan
rasa kenyamanan dalam diri anak dalam melakukan serangkaian kegiatan
pembelajaran. Hal tersebut tidak akan lepas dari peran seorang guru dalam
kegiatan bermain anak. Dimana bermain adalah salah satu aktivitas belajar anak
yang didalamnya membutuhkan peran besar seorang guru demi tercapainya
tujuan-tujan perkembangan pada anak. Peran guru dalam kegiatan bermain anak
antara lain.
- Perencana
Guru sebagai perencana
kegiatan bermain anak. Dengan tanpa adanya perencanaan, maka apa yang kita
harapkan dari proses bermain anak tersebut tidak akan tercapai, seperti
berkembangnya aspek motorik anak yang kita harapkan akan berkembang lebih baik,
namun karena tidak adanya perencanaan yang matang dari seorang guru maka
perkembangan aspek anak tersebut kurang maksimal. Ketika seorang guru menjadi
perencana kegiatan, pastilah dia juga menjadi seorang inovator, dimana seorang
guru tersebut membuat beragam permainan baru guna mendorong anak untuk
mengembangkan minat dan kemampuannya, dalam hal ini guru juga disebut sebagai
pendorong kreativitas anak dan motivator yang memberikan stimulus pada anak
untuk bereksplorasi dengan permainan. Selain itu, guru juga disebut peneliti,
karena sebelum membuat inovasi permainan, seorang guru haruslah mengerti
permainan apa yang tepat untuk digunakan pada anak-anak tersebut, dan cara yang
digunakan adalah meneliti hal apa saja yang dibutuhkan anak.
- Pendidik
Pendidik berasal dari
kata didik, yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) didik (di*dik)
/ mendidik (men*di*dik) / memelihara dan memberi latihan (ajaran,
tuntunan, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Jadi pendidik
berarti orang yang memelihara dan memberi latihan mengenai akhlak dan
kecerdasan pikiran. [1]
Dengan kata lain, guru juga
berperan besar dalam pembentukan akhlak seorang anak dengan menjadi seorang
teladan dan model yang baik bagi anak. Maka permainan di jenjang pendidikan
anak usia dini lebih banyak bersifat imitasi. Seperti dalam ungkapan Jawa, guru
merupakan akronim dari digugu lan ditiru. Digugu berarti semua
perintahnya dapat dipercaya dan dilaksanakan. Ditiru berarti semua
tingkah laku guru akan ditiru atau diteladani. Dalam hal ini, peran guru dalam
permainan anak adalah sebagai tokoh panutan atau uswatun hasanah (suri
tauladan yang baik) yang patut dicontoh oleh anak didiknya.
- Fasilitator
dan Pengajar
Fasilitator adalah orang
yang memfasilitasi, sedangkan pengajar berasal dari kata dasar ajar, menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pengajar (peng*a*jar) / orang yang
mengajar (seperti guru, pelatih). Sedangkan proses atau cara mengajar disebut
pengajaran. Kegiatan bermain anak tidak akan berjalan jika tidak adanya
fasilitas dari guru.[2]
Diposisi ini guru menjadi
seorang fasilitator bagi anak mulai dari alat permainan, aturan main, maupun
cara pelaksanaannya. Menjadi fasilitator bukan hanya sebagai penyedia sarana
prasarana saja akan tetapi juga menyediakan layanan, maka dalam hal ini guru
juga berperan sebagai pengajar dan pelatih. Sebagai fasilitator, pengajar, dan
pelatih maka seorang guru dituntut berperan aktif, kreatif, dan dinamis. Dengan
aktifnya seorang guru dalam kegiatan bermain anak, disini seorang guru juga
berperan menjadi seorang aktor yang haus menyesuaikan dengan anak didiknya dan
juga sebagai teman bagi anak didiknya.[3]
- Penilai
Seorang guru juga
berperan sebagai penilai dari kegiatan bermain anak. Dimana guru mengamati
aspek yang berkembang pada setiap anak. Dari hasil penilaian itulah guru dapat
merencanakan model permainan baru untuk anak didiknya yang sesuai kebutuhan
perkembangannya.
- Pengasuh
Dalam jenjang pendidikan
usia dini, guru juga berperan sebagai pengasuh, termasuk dalam kegiatan bermain
anak. Karena pada dasarnya anak adalah sosok individu yang masih bergantung
pada orang dewasa untuk melakukan kegiatan dalam hidupnya (mencoba mandiri dan
mengontrol dirinya sendiri). Maka mereka membutuhkan peran pengasuh termasuk
dalam kegiatan bermain mereka. Ketika anak menangis karena bertengkar saat
bermain (belum mampu mengontrol diri sendiri), maka guru juga berperan sebagai
pendamai dan penasehat.
Dimana seorang guru
membantu anak didik dalam menyelesaikan konflik yang terjadi dengan menawarkan
cara penyelesaian tanpa menimbulkan pertikaian dan juga menasehati mereka untuk
saling memaafkan. Dengan tujuan, jika nanti terjadi konflik atau permasalahan
lagi, anak mampu menyelesaikannya dengan baik (tanpa pertikaian).
B.
Keterlibatan
Orang Tua Dalam Proses Bermain Anak
Seperti yang diketahui,
bermain merupakan salah satu cara untuk menstimulasi kecerdasan anak, dimana dia
bisa mengoptimalkan berbagai jenis kemampuannya. Artinya, dengan bermain, anak
dapat mengasah motorik halus dan kasarnya, mengembangkan fantasi, persepsi
ruang, kemampuan verbal dan numerik, mengenal tekstur, warna, nada, dan
sebagainya tanpa beban. Kemampuan yang diperoleh dari pengalaman bermain secara
alami diyakini akan memfasilitasi perkembangan berbagai jenis kecerdasan.[4]
Seperti kutipan
yang dikemukakan oleh Howard Gardner – psikolog pendidikan dari Universitas
Harvard, AS, manusia memiliki kecerdasan yang meliputi kecerdasan bahasa
(linguistic intelligence), kecerdasan logik-matematik (logical-mathematical
intelligence), kecerdasan spasial-visual (visual-spatial intelligence),
kecerdasan kinestik-tubuh (bodily-kinesthetic intelligence), kecerdasan musik
(musical intelligence), kecerdasan interpersonal/sosial (interpersonal
intelligence), kecerdasan intrapersonal (intrapersonal intelligence), dan
kecerdasan naturalis (naturalist intelligence). Dengan bermain, hampir semua
jenis kecerdasan tersebut bisa dihasilkan.
Salah satu peran
sentral orang tua adalah memotivasi anak. Misalnya, saat Bunda harus
menjelaskan manfaat dari permainan yang akan dimainkan si kecil. Orangtua juga
harus mengetahui apakah permainan itu dapat membahayakan si kecil atau tidak.
Peran memotivasi juga muncul saat Bunda melakukan dialog dengan si kecil untuk
meningkatkan rasa percaya diri anak, kemandirian, inisiatif, kreativitas, serta
bahasa anak. Namun jangan lupa pula untuk memberikan kebebasan anak dalam
menentukan permainan yang diinginkan. Biarkan dia mengeluarkan ide atau
gagasannya sendiri. Nah, dari sinilah muncul kembali peran orang tua lainnya,
yaitu fungsi mengawasi. Memberikan kebebasan si kecil untuk memilih jenis
permainan yang ia inginkan harus juga disertai dengan proses pengawasan dari
orang tua saat si kecil memainkan permainan tersebut.
Selain itu, orang
tua juga bisa bertindak sebagai mitra bermain bersama anak. Fungsi inilah yang
menunutut keterlibatan Bunda untuk bermain bersama si kecil. Dalam hal ini,
bila Anda bermain bersama si kecil, jangan sampai terjadi persaingan antara
Bunda dan si kecil, atau Bunda yang bertindak otoriter karena tidak mau
dikalahkan oleh si kecil. Berilah si kecil kesempatan untuk bisa mengeksplorasi
kemampuannya, meskipun sebenarnya ia belum mahir. Berikan kemenangan untuk si
kecil saat bermain permainan lomba akan memacu motivasinya agar bersemangat
untuk melakukan jenis perlombaan lainnya. Sesekali, Bunda pun bisa membuat
suatu kondisi dimana si kecil berada dalam posisi kalah. Kekalahan ini
bertujuan untuk membentuk jiwa berjuang anak agar tidak mudah menyerah pada
setiap usaha.
1.
Peran Orang Tua Saat Bermain Dengan Si Kecil
a.
Peran Motivasi
Saat si kecil
bermain suatu permainan, ada satu peran vital orang tua yakni memotivasi.
Dengan memberikan motivasi, si kecil akan semakin percaya diri dan yakin akan
kemampuan yang ia miliki. Dalam hal ini, orang tua tidak perlu ikut terlibat
langsung mengikuti permainan dengan si kecil. Contoh permainan yang memerlukan
peran motivasi dari orang tua adalah permainan ketangkasan atau lomba.
b.
Peran Mengawasi
Peran mengawasi
ini bisa ditujukan pada jenis permainan baik yang membutuhkan keterlibatan
orang tua maupun yang tidak memerlukan keterlibatan orang tua saat si kecil
bermain. Pengawasan mutlak dilakukan apapun jenis permainannya, terlebih bila
si kecil masih berusia bayi ataupun balita. Hal ini untuk mencegah si kecil
dari situasi yang tidak diinginkan, misalnya jatuh saat bermain, cedera karena
terkena benda berbahaya saat bermain, atau kecelakaan akibat bertabrakan dengan
teman atau lawan mainnya.[5]
c.
Peran sebagai mitra bermain.
Sedangkan peran
yang satu ini muncul ketika Bunda sebagai orang tua ikut terjun langsung dalam
permainan bersama si kecil. Peran ini akan memunculkan rasa kekompakkan dan
melatih si kecil untuk bisa bekerja sama saat bermain. Contoh permainan yang
membutukan peran ini antara lain menyusun puzzle, lego, permainan ketangkasan
orang tua dan anak, dan lain-lain.
2.
Menciptakan Suasana Bermain Yang Menyenangkan
a.
Tunjukkan wajah ceria sebelum memulai bermain, selama, dan
setelah bermain, meskipun Bunda sudah merasa lelah. Hal ini akan membuat si
kecil nyaman saat bermain dengan Bunda.
b.
Perbanyak komunikasi verbal dengan si kecil saat bermain.
Komunikasi verbal akan membuat si kecil semakin bersemangat dan pandai untuk
mengetahui hal-hal baru dari permainan tersebut.
c.
Sesekali, tunjukkan mimik-mimik lucu dari wajah Bunda kepada
bayi Bunda, sehingga akan membuat si kecil tertawa geli.
d.
Jika Bunda memainkan permainan dengan si kecil yang bersifat
ketangkasan, berilah kesempatan sesekali pada si kecil untuk bisa meraih
kemenangan. Dengan begitu, si kecil akan merasa termotivasi.
e.
Jangan lupa memberikan tepuk tangan dan sedikit sanjungan,
seperti “Horeee, kamu pintar!” kepada si kecil sebagai upaya motivasi dan
menumbuhkan kepercayaan dirinya.
f.
Setelah selesai bermain, ajarkan si kecil untuk membereskan
mainannya dengan cara menyenangkan, seperti misalnya sembari bernyanyi atau
mengajaknya berlomba membereskan mainan. Bunda pun bisa sesekali memberikan
reward tertentu pada si kecil kalau ia mau membereskan mainannya sendiri,
misalnya dengan memberikan kue favoritnya.
3.
Manfaat Bermain Bagi Si Kecil
a. Memberikan
kehangatan pada si kecil.
b. Mempererat ikatan
batin antara Bunda dan si kecil (bonding).
c. Memotivasi anak
supaya dapat mengeksplorasi kemampuannya.
d. Memberikan rasa
aman dan nyaman bagi si kecil.
e. Membangkitkan
rasa percaya diri, kemandirian, inisiatif, kreativitas anak.
f.
Memenuhi kebutuhan jiwa si kecil.
g. Sebagai sarana
transfer ilmu dan pengetahuan dari Anda ke si kecil.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Peran pendidik dalam bermain anak itu sangat penting. Hal itu dapat diketahui
dari beberapa penjelasan yang menjelasakan peran pendidik pada dalam kegiatan
bermain anak. Melalui peran pendidik akan banyak memberikan pengaruh positif
pada saat bermain anak. Selain pendidik orang tua juga banyak terlibat dalam proses
bermain anak. Mengetahui orang tua merupakan guru pertama yang akan memberikan pengetahuan
kepada anak. Selain itu orang tua juga menjadi orang pertama yang mengawasi
anak tertuma di lingkungan bermain anak.
B.
Saran
Sebaiknya
seorang pendidik tidak hanya sekedar memberikan pengajaran kepada murid. Mengetahui
di lingkungan sekolah atau pendidikan merupakan wadah dimana tanggungjawab
orang tua diwakilkan kepada guru dalam mendidik anak. Selain itu orang tua juga
sangat berperan penting dalam pendidikan anak karena dengan adanya orang tua
mengawasi anak akan menjadi lebih mudah dalam menjaga dan mendidik anak di
lingkungan bermain.
DAFTAR
PUSTAKA
Fadillah, Muhammad. 2014. Desain
Pembelajaran PAUD: Tinjauan Teoritik dan Praktik. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.
Uyoh, Sadulloh, dkk. 2010. PEDAGOGIK
(Ilmu Mendidik,). Bandung: Alfabeta.
https://www.ibudanbalita.com/forum/diskusi/Peran-Orang-Tua-Saat-Anak-Bermain
[1]
https://kbbi.web.id/didik diakses
pada tanggal 18-3-2021 pada pukul 13.25
[2]
https://kbbi.web.id/ajar diakses pada
tanggal 18-3-2021 pada pukul 13.46
[3]
Sadulloh Uyoh dkk, PEDAGOGIK (Ilmu Mendidik), (Bandung: Alfabeta,
2010), hlm.132.
[4]
https://www.ibudanbalita.com/forum/diskusi/Peran-Orang-Tua-Saat-Anak-Bermain
diakses pada tanggal 18-3-2021 pukul 13.53
[5]
Muhammad Fadillah, Desain Pembelajaran PAUD: Tinjauan Teoritik dan
Praktik, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2014), hlm.79.

0 Komentar