BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penyakit mental adalah
suatu gangguan atau penyakit yang dapat menghalangi seseorang untuk menjalani
kehidupan sehari – harinya dengan normal, karena penyakit mentalnya tersebut
membuat seseorang tidak dapat menjalani kehidupannya sesuai keinginannya
sendiri secara sadar. Jika kita mengamati dengan tepat perilaku setiap orang,
akan terlihat berbagai macam ekspresi yang mereka tunjukkan dalam berbagai
situasi yang sama. Apa yang menyebabkan orang – orang bertingkah laku berbeda
pada situasi yang sama inilah yang menjadi objek penelitian para ahli.
Penelitian mengenai hal tersebut berada di bawah cabang ilmu psikologi yaitu
yang sering disebut sebagai ilmu kesehatan mental atau sejarah kesehatan
mental.
Bidang kesehatan mental bukan
merupakan bidang yang baru dalam sejarah keberadaan manusia. Kata mental
dilihat dari segi bahasa adalah berasal dari kata “mens” atau “mentis” yang
artinya roh atau jiwa. Dengan demikian, ilmu kesehatan mental artinya
adalah ilmu yang memperhatikan atau membahas perawatan mental atau jiwa
seseorang. Objek khusus dari penelitian mental tersebut adalah manusia, yang
diamati atau diteliti dari kondisi mentalnya masing – masing. Kesehatan mental
manusia bisa berada dalam keadaan baik hingga yang buruk, dan hampir setiap
orang pernah mengalami fase – fase yang bervariasi antara keadaan baik dan
buruk tersebut. Guna untuk mengetahui lebih dalam
tentang sejarah, prinsip, dan fungsi kesehatan mental. Oleh karena itu akan
dibahas secara mendalam dalam makalah ini.
B. Rumusan Masalah
- Bagaimana sejarah kesehatan mental?
- Bagaimana prinsip-prinsip kesehatan mental?
- Apa fungsi kesehatan mental?
C. Tujuan
- Mengetahui sejarah kesehatan mental.
- Mengetahui prinsip-prinsip kesehatan mental.
- Mengetahui
fungsi kesehatan mental.
BAB II
PEMBAHASAN
Keberadaan penyakit mental telah ada sejalan
dengan keberadaan manusia, walaupun ketika kehidupan manusia tidak semaju zaman
sekarang. Bahkan ketika seorang manusia belum dapat memberikan istilah untuk
menjelaskan keadaan mentalnya sendiri. Ketika seseorang mengalami masalah
mental, tentunya ia akan membutuhkan orang lain untuk mengatasi masalahnya
tersebut. Namun karena keterbatasan ilmu pengetahuan, pada zaman dulu masalah
kesehatan mental seringkali dihubungkan dengan gangguan setan atau roh halus,
atau gejala alam dan kemarahan para dewa. Berbagai macam penafsiran manusia
mengenai kondisi mental seseorang menimbulkan berbagai macam cara untuk
mengatasinya pula. Misalnya, orang yang menderita gangguan pasif agresif, atau gangguan kepribadian histrionik, dianggap sebagai hal yang
mistis. Kesehatan mental bisa kita lihat perkembangannya sejak masa purba
hingga ke masa sekarang. Beberapa masa perkembangan kesehatan mental adalah:[1]
1. Zaman Pra Sejarah
Pra sejarah adalah masa dimana keberadaan manusia purba
yang masih berkembang. Pada zaman ini tentunya manusia sudah merasakan berbagai
macam gangguan mental, namun mereka menanggapinya sebagai suatu hal yang lebih
mistis seperti gangguan roh jahat, alam, maupun akibat perbuatan
musuhnya. Penyakit mental seringkali dianggap sebagai suatu hal yang
berhubungan dengan demonologi, yaitu suatu
pendapat atau doktrin yang menyebutkan bahwa seseorang berperilaku tidak
normal, abnormal yang disebabkan karena pengaruh suatu kekuatan jahat atau
jatuh kepada kuasa kegelapan yang berhubungan dengan kekuatan setan. Cara
mengatasi gangguan mental ini pun menjadi sesuai dengan anggapan dan kesimpulan
mereka, yaitu menggunakan mantera dan ramuan tertentu untuk menyembuhkan
seseorang yang sedang terkena gangguan mental.
Pada masa ini banyak terdapat keberadaan dukun sebagai
juru penyembuh bagi orang – orang yang mengalami gangguan mental. Biasanya tiap
suku atau kelompok mempunyai satu dukun kepercayaan mereka sendiri. Para dukun
ini pun mempunyai metode tersendiri yang sesuai pada zaman tersebut untuk
mengobati penyakit mental pasiennya, dan mereka benar – benar setia kepada
anggota suku atau kelompoknya. Akan tetapi para dukun ini juga memiliki
kebijakan tersendiri yaitu menyingkirkan orang sakit yang benar – benar
membahayakan kelompok atau sukunya.
- Zaman Roma Kuno dan Yunani Kuno
Banyak cendekiawan atau para ahli yang bermunculan
di masa ini yaitu antara lain dua orang ilmuwan terkemuka di Yunani,
dokter Aesculapius dan Hipokrates yang salah satunya telah turut berperan dalam
mulai adanya pendekatan yang dilakukan secara rasional dan lebih manusiawi
terhadap kondisi orang yang mengalami penyakit mental. Selain itu ada beberapa
ilmuwan lainnya seperti:
a. Phytagoras (500 SM) – Cendekiawan yang menjadi
orang pertama dalam memberikan penjelasan secara ilmiah terhadap penyakit
mental.
b. Hippokrates (460-377 SM) – Dikenal juga
sebagai Bapak Kedokteran, dialah yang menemukan ilmu medis modern dengan
memisahkannya dari agama, takhayul, sihir dan kepercayaan terhadap dewa – dewa.
Dijelaskan oleh Hippokrates bahwa peranan otak sangat penting dalam
mempengaruhi pikiran seseorang dan juga perilaku dan emosinya. Ilmu somatogenesis dipelopori
oleh Hippokrates, yaitu suatu pemikiran dimana kondisi tubuh atau soma seseorang
dipengaruhi oleh pikiran dan perilaku individu tersebut.
c. Plato (429-347 SM) – Menyatakan bahwa gangguan
mental seseorang merupakan sebagian dari gangguan moral, fisik, dan juga adanya
gangguan dari dewa – dewa. Plato menyatakan bahwa seorang penjahat adalah orang
yang mengalami gangguan mental. Ia juga menyatakan bahwa budaya menjadi faktor
yang penting dalam berpikir dan bertindak.
d. Asclepiades, Aretacus dan Galenius – Tiga
dokter dari Yunani yang memberikan penjelasan dengan pendekatan naturalistik
mengenai gangguan mental. Mereka menyatakan bahwa penderita gangguan mental
harus diberikan perlakuan yang lebih manusiawi dan mendapatkan perawatan di
rumah sakit.
- Zaman
Kegelapan
Satu kekurangan dari zaman para cendekiawan
Yunani adalah bahwa pendekatan – pendekatan ilmiah yang dikemukakan para ahli
waktu itu kurang memperhatikan aspek takhayul yang masih dipercaya banyak
orang. Itulah sebabnya pada masa kegelapan ini berbagai ilmu demonologi kembali
muncul, dan jalan keluar melalui exorcisme atau pengusiran setan kembali
digunakan. Ketahuilah juga berbagai teori dalam bidang psikologi, antara lain teori
psikologi industri, teori
kepercayaan diri dan teori
identitas sosial.
4. Zaman Pertengahan
Zaman ini berada pada kurun waktu antara 400 hingga 1500
SM, dimana pengaruh dari kalangan gereja dan Kristen mulai meluas. Ada beberapa
peristiwa penting pada masa ini yaitu:
a.
Pada tahun 1484 Paus
Innocent VIII meminta para pendeta di seluruh Eropa untuk menghukum mati para
tukang sihir sehingga lebih dari seratus ribu orang telah dibunuh karena
dituduh sebagai penyihir.
b.
Pada abad ke lima
belas dan enam belas, dibangun suatu tempat penampungan bagi orang – orang yang
menderita penyakit mental untuk memisahkannya dari kehidupan normal. Tempat
tersebut dinamakan Asylum. Henry VIII membangun London’s
Hospital of St. Mary of Bethlehem yang dikenal dengan nama Bedlam untuk
menjadi tempat penampungan pasien gangguan mental.
c.
Bersamaan dengan
perkembangan agama Islam, di negara – negara Arab juga berkembang ilmu
kedokteran dan ilmu pengetahuan lainnya. Sebagai efek dari perkembangan
berbagai jenis keilmuan ini, banyak pula didirikan rumah sakit. Sebuah rumah
sakit khusus didirikan di Fez, Maroko lalu pada abad ke 12 juga didirikan
sebuah rumah sakit untuk penderita gangguan mental di Damaskus.
5. Zaman Renaissance
Masih ada lingkungan yang mendasari penyakit mental
dengan pengobatan takhayul dan perlakuan yang tidak manusiawi pada zaman ini.
Walaupun demikian, mulai ada beberapa ilmuwan yang memberikan pencerahan
terhadap pasien gangguan mental.
a.
Paracelsus
(1493 – 1541) – Ilmuwan dari Swiss ini menolak demonology dan
mengemukakan teori bahwa penyebab gangguan mental adalah penyakit psikologis.
b.
Agrippa
(1486-1535) – Di Jerman, Heinrich Cornelius Agrippa berupaya
melawan korban- korban kemunafikan dan korban pelaksanaan Inqusisi.
c.
Johann
Weyer (1515-1585) – Murid dari Agrippa ini mengeluarkan pernyataan
bahwa orang yang dahulu disebut sebagai tukang sihir adalah sebenarnya orang
yang menderita gangguan mental.
d.
Vinsensius
de Paul (1581-1660) – Ilmuwan yang berasal dari Paris ini menyatakan
bahwa penyakit mental tidak ada bedanya dengan penyakit fisik dan memberi
anjuran untuk melakukan pendekatan yang lebih manusiawi terhadap penderitanya.
6. Abad ke 17 hingga ke 20
Ciri yang menandai pertengahan abad 18 adalah banyaknya
pembaruan – pembaruan sosial, politik dan ilmu pengetahuan. Pada awal zaman ini
mulai ada kecenderungan terhadap memberikan perawatan khusus untuk pasien
gangguan jiwa. Dengan memusatkan penelitian terhadap klasifikasi dan sistem
perawatan, mengidentifikasi, menyelidiki, dan mengobati berbagai penyakit
secara rasional termasuk penyakit mental.
a.
Phillipe
Pinel (1745-1826) – Pada permulaan abad ke 19 ia memulai penelitian
pada pengobatan psikiatri dengan mempelopori perlakuan serta pengertian yang
lebih manusiawi terhadap orang – orang penderita gangguan mental.
b.
Willam
Tuke (1732-1822) – Mendirikan “York Retreat” dalam waktu hampir bersamaan
dengan ketika Phillipe Pinel mendirikan rumah sakit di Perancis.
c.
Anton
Muller (1755-1827) –
d.
orang yang bekerja
di sebuah rumah sakit untuk penyakit mental di Jerman. Ia menyerukan perawatan
yang manusiawi terhadap penderita gangguan mental dan menentang kekejaman yang
mengekang pasien – pasien di rumah sakit tersebut.
e.
Vicenzo
Chiarugi (1759 – 1820) – Buku karyanya yang terbit di Italia berjudul
“Hundred Observations” mengenai pengamatannya kepada para pasien sakit mental
dan juga menuntut perawatan yang lebih manusiawi untuk mereka.’
f.
Benjamin
Rush (1745 – 1813) – Pelopor perawatan yang lebih manusiawi terhadap
orang sakit mental dan dikenal sebagai “Bapak Psikiatri Amerika”.
g.
Clifford
Wittingham Beers (1876-1943)
– Mendirikan Connecticut
Society for Mental Hygiene dan mempelopori gerakan ilmu kesehatan mental,
berdasarkan pengalamannya sendiri sebagai penderita gangguan mental selama tiga
tahun.
h.
Tahun 1919 dibentuk
sebuah badan bernama International Committee for Mental Hygiene yang bermarkas
besar di Amerika Serikat.
i.
Pada tahun 1920-1930 karena pengaruh
dari teori
psikososial Freud,
atau teori
psikoanalisis Freud,
terjadi perubahan perawatan terhadap pasien gangguan mental, antara lain
perawatan yang dilakukan tidak memerlukan sertifikasi, bisa dilakukan di rumah
pasien atau di luar rumah sakit.
j.
Dalam kurun waktu
1920 an Komite Nasional Kesehatan Mental Amerika menghasilkan model undang –
undang yang juga dimasukkan ke dalam aturan beberapa negara bagian.
k.
Tahun 1948 Federasi
Dunia Kesehatan Mental dibentuk. Keadaan sehat dan sakit adalah dua hal
yang sangat berhubungan dalam kehidupan manusia sehari – harinya. Pengertian
sehat dan sakit ini sebenarnya tergantung kepada nilai – nilai yang dianut para
anggota masyarakat tertentu, sehingga memiliki standar yang berbeda pada tiap
kebudayaan yang berbeda pula. Bisa saja satu sikap tertentu dianggap normal di
satu kelompok masyarakat namun merupakan sikap yang akan dianggap menyimpang
dalam kelompok masyarakat lainnya. Akan tetapi pada umumnya, sehat merupakan
suatu kondisi dimana seseorang tidak menderita penyakit atau terbebas dari rasa
sakit pada tubuh dan seluruh bagian dari seorang manusia. Jika demikian, maka
kondisi mental seseorang pun termasuk ke dalam kategori tersebut. Kondisi
mental yang terganggu dapat digolongkan sebagai tidak sehat secara mental pula.
B.
Prinsip-Prinsip
Kesehatan Mental
Prinsip-prinsip kesehatan mental adalah
dasar yang harus ditegakkan orang dalam dirinya untuk mendapatkan kesehatan
mental yang baik serta terhindar dari gangguan kejiwaan. Prinsip-prinsip
tersebut menurut Sururin adalah:
1.
Gambaran
dan sikap yang baik terhadap diri sendiri
Prinsip
ini biasa diistilahkan dengan self image. Prinsip ini antara lain dapat dicapai
dengan penerimaan diri, keyakinan diri dan kepercayaan pada diri sendiri. Self
Image yang juga disebut dengan citra diri merupakan salah satu unsur penting
dalam pengembangan pribadi.[2]
2.
Keterpaduan antara
Integrasi diri
Keterpaduan
di sini adalah adanya keseimbangan antara kekuatan-kekuatan jiwa dalam diri,
kesatuan pandangan (falsafah) dalam hidup dan kesanggupan menghadapi stress.
3. Perwujudan Diri (aktualisasi diri)
Merupakan
proses pematangan diri. Menurut Reiff, orang yang sehat mentalnya adalah orang
yang mampu mengaktualisasikan diri atau potensi yang dimiliki, serta memenuhi
kebutuhan-kebutuhannya dengan cara yang baik dan memuaskan.
4. Berkemampuan menerima orang lain
Berkemampuan
menerima orang lain, melakukan aktivitas sosial dan menyesuaikan diri dengan
lingkungan setempat. Untuk dapat penyesuaian diri yang sukses dalam kehidupan,
minimal orang harus memiliki kemampuan dan keterampilan, mempunyai hubungan
yang erat dengan orang yang mempunyai otoritas dan mempunyai hubungan yang erat
dengan teman-teman.
5. Berminat dalam tugas dan pekeijaan
Orang
yang menyukai terhadap pekerjaan walaupaun berat maka akan cepat selasai
daripada pekerjaan yang ringan tetapi tidak diminatinya.
6. Pengawasan Diri
Mengadakan
pengawasan terhadap hawa nafsu atau dorongan keinginan serta kebutuhan oleh
akal pikiran merupakan hal pokok dari kehidupan orang dewasa yang bermental sehat
dan kepribadian normal, karena dengan pengawasan tersebut orang mampu membimbing
segala tingkah lakunya.
7. Rasa benar dan Tanggung jawab
Rasa
benar dan tanggung jawab penting bagi tingkah laku, karena setiap individu
ingin bebas dari rasa dosa, salah dan kecewa. Rasa benar, tanggung jawab dan
sukses adalah keinginan setiap orang yang sehat mentalnya.
C.
Fungsi
Kesehatan Mental
1. Pencegahan,
Pencegahan akan ketidakpuasan atau tidak terpenuhi segala kebutuhan. Pencegahan
dilakukan agar terpenuhinya rasa cinta atau rasa sayang yang menimbulkan jiwa
seseorang aman.[3]
2. Perbaikan, Kesehatan
mental berfungsi agar individu dapat menyesuaikan diri terhadap lingkungannya,
akhirnya ia dapat diterima oleh lingkungannya maka akan timbul rasa aman pada
diri individu tersebut.
3.
Pengembangan, Kesehatan mental berfungsi untuk
mengembangkan individu agar terhindar dari kecemasan, yang mana apabila
kecemasan yang berlebihan itu akan menyebabkan gangguan jiwa. Sehingga apabila
individu itu terhindar dari kecemasan-kecemasan, maka akan menimbulkan rasa.
4.
Menyehatkan jiwa, Tujuan
mempelajari kesehatan mental yaitu menyehatkan kesehatan jiwa karena kita tahu
dengan apa yang menyebabkan ganguan jiwa sehingga tercipta mental yang normal.
5.
Mencegah hal-hal yang
menyebabkan gangguan jiwa
6.
Membina jiwa agar tidak
terkena gangguan mental / jiwa, sehingga tercipta rasa aman, diterima dalam
lingkungannya, dan lain-lain.
7.
Normal adalah seimbang dan
seimbang itu juga dapat di katakan serasi dan juga terpenuhi, apa yang di
seimbangkan oleh normal, jasmani dan rohani, apa yang di serasikan oleh normal,
lingkungan sosial dan budaya, apa yang terpenuhi oleh normal, adalah kebutuhan.
Apabila tidak menyeimbangi serasi, dan terpenuhimaka kan timbul abnormal, dan
abnormal menimbulkan sikap yang jahat, dengki, hasut. Normal dan Abnormal tidak
bisa di artikan yang sesungguhnya belumdapat di ketahui sampai sekarang karna
Normal dan Abnormal sama memaknai ukuran, seseorang di katakan Normal mapu
beroreantasi dengan lingkungannya, dan sebaliknya apabiala seseorang itu tidak
bisa beoreantasi dengan lingkungannya maka dapat di katakan sebgaia abnormal.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Kesehatan mental telah ada sejak lama. Seiring berjalannya
waktu kesehatan mental terus dikembangkan. Hal itu juga menjadikan kesehatan
mental menjadi terus berkembang hingga sekarang. Tentunya dengan tujuan-tujuan
serta fungsi dengan berbagai manfaat akan memberikan kemudahan dan pengetahuan
bagi manusia.
B.
Saran
Sebaiknya ilmu kesehatan mental
dimiliki oleh tenaga pendidik. Salah satunya adalah untuk guru paud. Hal itu
dikarenakan ilmu tentang kesehatan mental akan memberikan pengaruh besar dalam
proses pembelajaran.
DAFTAR PUSTAKA
Sururin. 2004. Ilmu Jiwa Agama. Jakarta: PT. Raja Grafindo
Persada.
https://blog.uad.ac.id/syaeful1300001097/2015/01/14/fungsi-dan-tujuan-mempalajari-kesehatan-mental/
https://dosenpsikologi.com/sejarah-kesehatan-mental
[1] https://dosenpsikologi.com/sejarah-kesehatan-mental
diakses pada tanggal 2-3-2021 pukul 1.34
[2] Sururin, Ilmu Jiwa Agama,
(Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004), hlm.145.
[3] https://blog.uad.ac.id/syaeful1300001097/2015/01/14/fungsi-dan-tujuan-mempalajari-kesehatan-mental/
diakses pada tanggal 2-3-2021 pukul 2.19

0 Komentar