Suku Melayu yaitu
nama yang menunjuk pada suatu kelompok yang ruang lingkupnya yaitu
penuturan bahasa Melayu. Suku Melayu bermukim di
sebagian akbar Malaysia, pesisir timur Sumatera, sekeliling
pesisir Kalimantan, Thailand Selatan, serta
pulau-pulau kecil yang terbentang sepanjang Selat Malaka dan Selat Karimata. Di Indonesia, jumlah
suku Melayu anggar-anggar 15% dari seluruh populasi, yang sebagian akbar
mendiami provinsi Sumatera Utara, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, dan Kalimantan Barat.
Meskipun begitu, jumlah
pula masyarakat Minangkabau, Mandailing, dan Dayak yang beralih ke
wilayah pesisir timur Sumatra dan pantai barat Kalimantan, mengaku sebagai
orang Melayu. Selain di Nusantara, suku Melayu juga terdapat di Sri Lanka, Kepulauan Cocos
(Keeling) (Cocos
Malays), dan Afrika Selatan (Cape Malays).
Nama "Malayu"
bersumber dari Kerajaan Malayu yang pernah berada
di daerah Sungai Batang Hari. Dalam perkembangannya,
Kerajaan Melayu kesudahannya takluk dan menjadi bawahan Kerajaan Sriwijaya. Pemakaian istilah
Melayu-pun meluas hingga ke luar Sumatera, mengikuti teritorial imperium
Sriwijaya yang menjadi lebih sempurna hingga ke Jawa, Kalimantan, dan Semenanjung Malaya. Berlaku orang Melayu
Semenanjung bersumber dari Sumatera.
Berdasarkan
prasasti Keping Tembaga
Laguna,
pedagang Melayu telah berdagang ke seluruh wilayah Asia Tenggara, juga ikut
serta membawa norma budaya hukum budaya dan Bahasa Melayu pada daerah
tersebut. Bahasa Melayu kesudahannya menjadi lingua franca menggantikan Bahasa Sanskerta.[1] Era kejayaan
Sriwijaya yaitu saat emas bagi peradaban Melayu, termasuk pada saat wangsa Sailendra di Jawa, belakang dilanjutkan
oleh kerajaan Dharmasraya mencapai pada zaman
ke-14, dan terus menjadi lebih sempurna pada saat Kesultanan Malaka sebelum kerajaan ini
ditaklukan oleh kekuatan tentara Portugis pada tahun 1511.[2]
Masuknya kepercayaan
kepada tuhan Islam ke Nusantara pada zaman ke-12, diresap baik-baik oleh
masyarakat Melayu. Islamisasi tidak hanya terjadi di kalangan masyarakat
jelata, namun telah menjadi corak pemerintahan kerajaan-kerajaan Melayu. Di
selang kerajaan-kerajaan tersebut ialah Kesultanan Johor, Kesultanan Perak, Kesultanan Pahang, Kesultanan Brunei, dan Kesultanan Siak. Kedatangan kolonialis
Eropa telah mengakibatkan terdiasporanya orang-orang Melayu ke seluruh
Nusantara, Sri Lanka, dan Afrika Selatan. Di perantauan, mereka
jumlah mengisi pos-pos kerajaan seperti menjadi syahbandar, ulama, dan hakim. Dalam perkembangan selanjutnya, hampir seluruh
Kepulauan Nusantara mendapatkan pengaruh langsung dari Suku Melayu. Bahasa
Melayu yang telah menjadi lebih sempurna dan dipakai oleh jumlah masyarakat
Nusantara, kesudahannya dipilih menjadi bahasa nasional Indonesia, Malaysia, dan Brunei.
Ptolemy (90 - 168 M) dalam
karyanya Geographia mencatat sebuah tanjung di Aurea Chersonesus (Semenanjung
Melayu) yang bernama Maleu-kolon, yang diyakini bersumber dari Bahasa Sanskerta, malayakolam atau
malaikurram. Be[3]rdasarkan G. E.
Gerini, Maleu-Kolon saat ini merujuk pada Tanjung Kuantan atau
Tanjung Penyabung di Semenanjung Malaysia.
Pada Bab 48 teks
kepercayaan kepada tuhan Hindu Vuya Purana yang
bicara Sanskerta, kata Malayadvipa merujuk kepada sebuah provinsi di
pulau yang kaya emas dan perak. Disana berdiri bukit yang dinamakan
dengan Malaya yang berfaedah sebuah gunung akbar (Mahamalaya).
Meskipun begitu jumlah sarjana Barat, selang lain Sir Roland Braddell
menyamakan Malayadvipa dengan Sumatera.[4] Sedangkan para sarjana
India percaya bahwa itu merujuk pada sebagian gunung di Semenanjung Malaysia.[5]
Dari catatan Yi Jing,
seorang pendeta Budha dari Dinasti Tang, yang bepergian ke
Nusantara selang tahun 688 - 695, beliau menyebutkan berada sebuah kerajaan
yang diketahui dengan Mo-Lo-Yu (Melayu), yang berjauhan 15 hari
pelayaran dari Sriwijaya. Dari Ka-Cha (Kedah), jaraknyapun 15 hari
pelayaran. Berdasarkan catatan Yi Jing, kerajaan tersebut yaitu negara
yang merdeka dan kesudahannya ditaklukkan oleh Sriwijaya. Berdasarkan Prasasti Padang Roco (1286) di Sumatera Barat, ditemukan
kata-kata bhumi malayu dengan ibu kotanya di Dharmasraya. Kerajaan ini yaitu
kelanjutan dari Kerajaan Malayu dan Sriwijaya yang telah berada
di Sumatra sejak zaman ke-7. Belakang Adityawarman memindahkan ibu
kota kerajaan ini ke wilayah pedalaman di Pagaruyung.
Petualang Venesia yang
terkenal, Marco Polo dalam bukunya Travels
of Marco Polo menyebutkan tentang Malauir yang bertempat di segi
selatan Semenanjung Melayu. Kata "Melayu" dipopulerkan oleh
Kesultanan Malaka yang digunakan bagi membenturkan kultur Malaka dengan kultur
asing yakni Jawa dan Thai.[6] Dalam
perjalanannya, Malaka tidak hanya
tercatat sebagai pusat perdagangan yang dominan, namun juga sebagai pusat
peradaban Melayu yang berpengaruh luas.
B.
Kehidupan Ekonomi Orang
Melayu
- Masa Kejayaan Ekonomi
Orang Melayu
Sejarah
telah membuktikan bahwa masyarakat Melayu pernah mengalami masa gemilang.
Perdagangan yang dijalankan masyarakat Melayu mampu merambah berbagai belahan
dunia pada masanya. Bahkan pada era Sultan Iskandar Muda berkuasa di Aceh,
kerajaan Aceh termasuk dalam lima kerajaan terbesar di dunia. Kerajaan
Sriwijaya, Majapahit, Aceh, Malaka, dan Demak tak dapat dipungkiri menjadi
tonggak kebesaran rumpun Melayu. Tidak dinafikan bahwa Melayu saat itu memiliki
jati diri yang kuat, mampu menyesuaikan diri terhadap perubahan, berdaya tahan
tinggi dan berperan aktif dalam kesinambungan kehidupan bangsa.
Namun
kegemilangan masyarakat Melayu yang terjadi di masa lampau tidak nyata terlihat
di masa sekarang. Perekonomian masyarakat Melayu jauh tertinggal dibandingkan
dengan Barat dan China. Kesadaran masyarakat Melayu sebagai saudara serumpun
makin berkurang, puak-puak Melayu tercerai berai akibat politik pecah belah
pemerintah kolonial, dan masyarakat Melayu termarjinalisasi akibat perkembangan
kapitalisasi dan globalisasi. Keunggulan ekonomi yang dibangun dengan semanat
ke-Melayu-an dan berteraskan Islam itulah yang menjadi faktor penggerak dan
pendorongnya, yang memberi warna baru dan mempercepat terwujudnya sistem dan
keunggulan Melayu, sehingga jejak Melayu nampak dimana-mana.
- Permasalahan dan
Tantangan Ekonomi Orang Melayu
Sebagaimana
telah disampaikan diatas, bahwa penguasaan ekonomi masyarakat Melayu masih
tertinggal dibandingkan dengan masyarakat non Melayu seperti Barat dan China.
Menurut Selo Sumarjan, masyarakat Melayu terbiasa dengan pekerjaan yang lebih
berorientasi pada kehidupan bermasyarakat (socially oriented) daripada yang
bersifat material (material oriented). Ini menunjukkan masyarakat Melayu lebih
menjunjung tinggi prinsip kebersamaan dan gotong royong daripada sikap
individualisme, yang dalam satu dekade belakangan ini semakin besar seiring
dengan perkembangan kapitalisme yang mendunia.
Tingkat
kemiskinan yang tinggi dan rendahnya pendidikan umumnya dialami masyarakat
Melayu. Sikap kesederhanaan dan sosialisme yang tinggi dan berakar pada budaya
masyarakat Melayu tidak diiringi dengan semangat untuk maju dan beradaptasi
dengan perubahan dinamik yang terjadi di dunia. Pengkiblatan kepada manajemen
ekonomi dunia barat diambil mentah-mentah begitu saja berikut sistem budayanya.
Sistem ekonomi suatu bangsa tidak akan berhasil jika tidak didasarkan atas
kebudayaan dan tata nilai luhur yang dianut oleh bangsa itu sendiri.
Sumber
daya manusia yang besar yang dimiliki rumpun Melayu tidak dimanfaatkan secara
bijaksana. Sektor pendidikan yang menjadi tolok ukur keberhasilan pembangunan
suatu bangsa ke depan, tidak menjadi prioritas yang utama. Kurangnya
perhatian terhadap sektor pendidikan dapat dilihat dari minimnya penyediaan
anggaran pemerintah terhadap sektor ini. Ketidakmerataan tenaga terdidik akan
menyulitkan rumpun Melayu untuk bersaing dengan bangsa-bangsa lain di dunia.
Kekuatan sumber daya alam yang dimiliki masyarakat Melayu akan dengan mudah
dikuasai oleh bangsa lain karena kurangnya kemampuan untuk memanfaatkannya
secara mandiri bagi kepentingan dalam negerinya.
Di
tapak dunia pun tidak mudah bagi kebudayaan Melayu untuk mempertahankan
posisinya. Salah satu tantangan yang dihadapi oleh peradaban Melayu adalah
posisinya yang lemah dalam benturan peradaban dunia. Para pakar menyebutkan
bahwa benturan yang kini sedang terjadi adalah antara peradaban Islam dan
Barat. Dalam peradaban Barat itu didalamnya melekat kebudayaan Kristen dan
Yahudi. Tetapi dalam realitasnya, peradaban China pun kini menjadi
kekuatan yang sangat mempengaruhi perkembangan dunia. Terlebih di bidang
ekonomi dan budaya. Di sisi lain, kebudayaan Melayu yang selama ini melekat
pada kebudayaan Islam, hampir tidak memiliki kekuatan unggulan untuk bersaing
secara gigih dan terbuka dengan berbagai kebudayaan dunia itu. Jika kebudayaan
Islam sampai saat ini tetap survive di tengah berbagai benturan, itu
bukan berarti kebudayaan Melayu juga dapat mempertahankan jati dirinya secara
utuh.
Di dalam
negeri, umumnya masyarakat Melayu menghadapi konflik yang tidak berkesudahan,
baik konflik perpecahan, kerawanan pangan, SARA, dan sebagainya. Lunturnya
nilai-nilai luhur yang dimiliki Melayu membuat masyarakat Melayu amat mudah
terintimidasi, terpecah belah dan berselisih satu sama lain. Identitas diri
masyarakat Melayu sebagai suatu kesatuan rumpun rela dikorbankan demi
kepentingan kelompok masing-masing. Konflik yang terjadi di Aceh, Filipina
Selatan dan Thailand Selatan menjadi gambaran paling nyata kondisi perpecahan
diatas. Aceh yang masyarakatnya dikenal cinta damai, sempat terkoyak akibat konflik
berkepanjangan.
Derita
yang dialami masyarakat Aceh semakin besar ketika bencana tsunami datang
melanda. Sekalipun kini kondisi Aceh sudah sangat jauh lebih baik pasca konflik
dan tsunami, namun derita akibat banyaknya korban yang jatuh, rusaknya sarana
dan infrastruktur serta hilangnya suatu momen untuk membangun peradaban yang
lebih baik, tidak akan pernah terhapuskan dalam sejarah dan akan sulit
terlupakan. Situasi yang sama dialami masyarakat Melayu di Filipina Selatan dan
Thailand Selatan, yang bahkan hingga kini belum terselesaikan. Penyelesaian
konflik di wilayah-wilayah tersebut dianggap tidak akan sama dengan
penyelesaian konflik di Aceh.
Argumen
beberapa ahli menyatakan bahwa konflik di Aceh dapat terselesaikan karena
adanya bencana tsunami yang pada akhirnya menyatukan kembali masyarakat Aceh
akibat derita yang sama. Ini tidak dialami oleh wilayah Filipina Selatan dan
Thailand Selatan. Pendapat ini menimbulkan perdebatan panjang. Pendapat lain
menyatakan bahwa penyelesaian konflik dapat tercapai apabila pihak-pihak yang
berselisih memiliki keinginan yang kuat untuk berdamai dan bersama-sama
membangun bangsanya kembali untuk kepentingan yang lebih besar, serta tidak
mengutamakan ego masing-masing. Apapun alasannya, konflik yang mendera masyarakat
Melayu sudah selayaknya harus diakhiri, dan ini akan menjadi tugas kita bersama
untuk membangun kembali Melayu yang mandiri, beradab dan mampu bersaing dengan
bangsa-bangsa lain di dunia.
Apabila
konflik internal yang dialami masyarakat Melayu dapat diakhiri, maka masyarakat
Melayu dapat bersatu padu untuk menghadapi konflik lain yang lebih besar, yaitu
globalisasi dan kapitalisme. Ancaman globalisasi tidak bisa dianggap enteng.
Negara-negara maju memanfaatkan organisasi-organisasi internasional untuk
menekan negara berkembang, termasuk rumpun Melayu di dalamnya. WTO, Bank Dunia,
IMF dan berbagai agensi lain yang dikuasai negara maju berlomba untuk menguasai
sumber daya yang dimiliki negara berkembang. Mereka memaksa negara-negara yang
lemah perekonomiannya untuk membuka akses yang lebih luas bagi kepentingan
mereka, seperti proyek-proyek infrastruktur, perbankan, asuransi, perdagangan,
bahkan sampai pada sektor yang menjadi andalan negara berkembang yaitu sektor
pertanian. Subsidi tinggi yang diberikan negara maju bagi industri dalam
negerinya akan menyulitkan negara berkembang untuk mampu berkompetisi dengan
sehat. Rendahnya tingkat pendidikan dan kemampuan intelektual yang dimiliki
negara berkembang juga akan menyulitkannya untuk berdiri sejajar dengan negara
maju. Akibatnya akan timbul bentuk penjajahan baru sebagai akibat globalisasi
di era sekarang.[7]
Krisis
ekonomi pada tahun 1997-1998 dan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM)
belakangan ini, turut menambah derita masyarakat Melayu di sektor ekonomi.
Ketergantungan yang tinggi kepada negara maju berakibat buruk pada sektor
ekonomi Melayu yang merupakan bagian dari negara berkembang. Suatu hal yang
ironis bahwa umumnya negara-negara rumpun Melayu memiliki sumber daya minyak
yang sangat besar di wilayahnya, namun sangat rentan terhadap gejolak harga
minyak dunia dan ketergantungan terhadap pasokannya. Krisis ekonomi dan
kenaikan BBM tersebut menyebabkan tingkat inflasi yang tinggi dan sulitnya
masyarakat memperoleh kebutuhan hidupnya dengan harga yang wajar. Masyarakat
mengurangi konsumsi kebutuhan pokok, ongkos pendidikan dan kesehatan,
serta menghadapi realita makin sulitnya mengembangkan diri di tengah
situasi ekonomi dunia yang terjadi.
Pada
penghujung tahun 2007 dan awal tahun ini, dunia pun dihadapkan pada masalah krisis
pangan. Harga pangan melonjak tinggi sebagai akibat kenaikan harga BBM,
pemanfaatan pangan untuk bio-fuel dan global warming yang
menyebabkan pergeseran musim. Negara-negara di kawasan Melayu yang umumnya
adalah negara net importer pangan tidak terlepas dari pengaruh krisis
yang mengancam ketahanan pangan masing-masing. Tingkat produksi dalam negeri
yang tidak sejalan dengan tingkat pertumbuhan penduduk menyebabkan rumpun
Melayu amat bergantung dari impor negara lain. Kurangnya soliditas dan
solidaritas diantara sesama rumpun Melayu membuat mereka berjalan
sendiri-sendiri dalam memenuhi kebutuhan pangan domestiknya. Hal yang perlu
dicatat adalah bahwa Thailand dan Vietnam sebagai bagian dari rumpun Melayu
merupakan eksportir pangan pokok khususnya beras terbesar di dunia. Namun
ketiadaan kerjasama yang erat diantara kita dalam mewujudkan ketahanan pangan
Melayu sebagai satu kesatuan rumpun wilayah, akan berujung pada krisis pangan
sebagaimana yang dialami dewasa ini. Hubungan kerjasama pemenuhan kebutuhan
pangan diantara sesama negara-negara Melayu semata-mata karena pertimbangan
komersial, dan bukan karena kesamaan pandangan yang dimiliki sebagai satu
keluarga besar.
- Potensi dan Penguatan
Ekonomi Orang Melayu
Masyarakat
Melayu memiliki potensi sumber daya yang sangat besar. Kekuatan terbesar adalah
sebagai bangsa serumpun yang tidak terikat oleh batas-batas geografis dan
kultural dalam wilayah administratif tertentu. Rumpun melayu berhasil membangun
suatu budaya yang bisa bertahan terutama di kawasan Asia Tenggara selama
berabad-abad lamanya. Kawasan Melayu menjadi salah satu pusat perekonomian yang
diperhitungkan dunia saat ini. Ini didukung oleh jumlah penduduk yang besar,
sumber daya alam yang melimpah, dan letaknya yang strategis dalam lalu lintas
perdagangan dunia.
Potensi
diatas tidak termanfaatkan secara optimal. Ibarat sapu lidi yang lidinya
bertaburan tak terikat, pemanfaatan potensi yang ada pun tidak dilakukan secara
fokus dan efektif. Kejayaan kerajaan-kerajaan Melayu yang hampir menguasai
perekonomian di hampir seluruh penjuru dunia menjadi cerita manis di masa
lampau. Namun demikian, sudah saatnya masyarakat Melayu harus bangkit kembali
seperti masa kejayaannya dahulu. Semua harus dilandasi dengan keinginan dan
peningkatan kemampuan di segala bidang. Memang butuh waktu untuk mengejar
ketertinggalan itu, namun bukan hal yang mustahil untuk dapat menggapainya.
Masyarakat
Melayu memiliki potensi pasar yang besar di wilayahnya sendiri. Dengan jumlah
penduduk Melayu mencapai lebih dari 400 juta jiwa akan menciptakan pasar yang
luar biasa besar. Peluang inilah yang membuat negara-negara maju tergiur untuk
menguasai pasar di kawasan ini. Masyarakat Melayu pun memiliki potensi pasar
global di negara-negara Timur Tengah dan Afrika yang berpenduduk mayoritas
Islam. Kedekatan hubungan religius tersebut didasari sejarah masa lalu dimana
masyarakat Melayu mengalami masa kejayaan saat Islam menjadi agama mayoritas.
Bahkan Sultan Melayu Islam di Aceh seperti Sultan Iskandar Muda saat itu banyak
menjalin hubungan dagang yang sangat baik dengan bangsa-bangsa lain seperti
Inggris, Belanda, Perancis, dan Turki. Pembentukan pasar global muslim inilah
yang perlu dijalin bagi negara-negara di kawasan Melayu guna mendapatkan pangsa
pasar yang lebih besar ke depan.
Letak
kawasan melayu yang strategis di persilangan perdagangan dunia menjadikan
wilayah ini sangat tepat sebagai pusat industri. Kemajuan negara Melayu seperti
Singapura di wilayah itu belum diikuti dengan negara-negara lainnya di wilayah
yang sama. Namun kemajuan Singapura lebih banyak ditopang dari penduduknya yang
mayoritas etnis China sekalipun letak negaranya di kawasan melayu. Kekayaan
bahan mineral dan tambang seperti minyak bumi dan gas di wilayah ini lebih
banyak dimanfaatkan oleh perusahaan multinasional asing, sehingga potensi yang
seharusnya bisa dimanfaatkan bagi kaum Melayu menjadi tidak optimal. Potensi
lain yang belum tergali secara optimal seperti sektor pariwisata, pertanian,
perikanan dan industri menjadi kekuatan lain wilayah ini untuk bisa bersaing
dengan negara maju.
Penguatan
ekonomi masyarakat Melayu dapat dilakukan dengan memberdayakan potensi lokal di
wilayah masing-masing. Pengembangan industri makanan halal (halal food) bagi
masyarakat Melayu yang didominasi oleh umat Islam menjadi sangat strategis
untuk kebutuhan pasar sendiri maupun pasar Asia dan Timur Tengah. Hingga
saat ini industri halal food belum banyak berkembang di wilayah ini,
dan Aceh dapat menjadi alternatif pusat industri halal food tersebut
dengan pertimbangan letak wilayah yang strategis, penerapan syariat Islam yang
tegas di Aceh, dan ketersediaan infrastruktur serta sumber daya manusianya. Halal
food yang diproduksi diharapkan mampu mengisi pasar ekspor ke
negara-negara Islam di dunia. Untuk itu investasi di bidang halal food kiranya
dapat segera diupayakan tidak hanya di Aceh, namun juga di wilayah lain di
kawasan Melayu.
Faktor
sumber daya manusia yang berkualitas menjadi kunci utama dalam pembangunan
ekonomi masyarakat Melayu. Asumsi yang menyatakan bahwa masyarakat Melayu
malas, kurang gigih dan tidak mampu bersaing, harus segera diperbaiki dengan
mengubah paradigma dan cara berpikir ke depan. Pembangunan sumber daya manusia
harus diprioritaskan dengan meningkatkan kualitas pendidikan masyarakat
sehingga mampu beradaptasi terhadap perubahan lingkungan yang dinamis dan
tantangan global. Prinsip kemandirian dengan tidak banyak bergantung kepada
bangsa lain di dunia dan mampu memenuhi kebutuhan sendiri juga harus mulai
dikembangkan. Produk-produk yang dihasilkan oleh masyarakat Melayu perlu
lebih diorientasikan untuk kepentingan ekspor, berdaya saing tinggi, kualitas
yang baik namun dengan harga yang kompetitif. Perbaikan infrastruktur ekonomi
dan kemudahan berinvestasi menjadi penunjang dalam memajukan ekonomi Melayu.
Keselarasan
kebijakan ekonomi di antara negara-negara di kawasan Melayu perlu segera
diwujudkan, baik dalam bentuk pemberian insentif, tarif ekspor, besaran subsidi
dan sebagainya. Hal ini tentu tidak mudah untuk direalisasikan dalam waktu
singkat, namun rasa kebersamaan dan kesatuan antara sesama rumpun Melayu akan
memungkinkan hal itu dapat terwujud suatu saat kelak.
Suatu
hal yang penting bagi masyarakat Melayu dalam untuk menguatkan sistem
ekonominya adalah bagaimana aspek budaya dan tatanan nilai Melayu dapat
ditransformasikan ke dalam sistem ekonomi dan manajemen bagi negara-negara
Melayu sebagai etos kerja dan falsafah hidup rakyatnya. Keberhasilan Jepang
yang memasukkan unsur budaya dalam sistem ekonomi menjadi potret yang pantas
ditiru. Semua tentu berpulang pada para pemimpin di wilayah Melayu dalam
merencanakan dan menerapkan sistem manajemen dan budaya Melayu dalam kebijakan
ekonominya. Para pemimpin pemerintahan negara-negara Melayu diharapkan
mempunyai kesatuan tekad untuk bekerjasama dalam memajukan ekonomi wilayah ini.
Semua lapisan masyarakat pun harus bergerak dalam satu kesatuan untuk
melahirkan kaum Melayu yang progresif, kaya dengan ilmu pengetahuan, bijak
dalam bersikap, dan tegar serta tak gentar dalam menghadapi berbagai desakan
dan ancaman globalisasi. Globalisasi yang tidak dapat dihindari ini harus mampu
dihadapi dengan memperkuat dan mengoptimalkan sumber daya yang ada, tanpa
mengorbankan budaya Melayu yang telah berakar dalam nurani masyarakat Melayu.
Kejayaan Melayu zaman dahulu dapat menjadi trigger bagi generasi
sekarang untuk bisa berbuat lebih baik lagi demi mengembalikan kejayaan
tersebut.
Penguatan
ekonomi masyarakat melayu tidak dapat dilepaskan dari penguatan kelembagaan
penunjangnya. Kelembagaan pangan sebagai salah satu institusi yang memperkuat
stabilitas ekonomi masyarakat Melayu menjadi bagian integral dan tidak
terpisahkan dalam sejarah perkembangan Melayu. Sebagaimana diketahui bersama,
bahwa stabilitas suatu negara dapat diukur dari kemampuan negara tersebut dalam
menyediakan pangan dalam jumlah yang cukup, terjangkau dan tersebar merata di
seluruh negeri. Ketersediaan pangan tersebut mampu memberikan kestabilan di
segala bidang, baik ekonomi, sosial, politik dan sebagainya. Sejarah telah
membuktikan bahwa ketimpangan pasokan pangan akan mengganggu stabilitas bangsa.
Bahkan pada masa Sultan Iskandar Muda berkuasa di Kerajaan Aceh dan mengalami
masa keemasannya, diketahui bahwa salah satu kunci keberhasilannya adalah
menstabilkan pasokan pangan di wilayah kekuasaannya. Daerah-daerah taklukannya
dimintai upeti berupa pangan. Kerajaan Melayu-Aceh masa itu memiliki lumbung
pangan yang kuat, bahkan sebelum memperkuat kekuasaan dan melaksanakan
ekspedisi, logistik pangan menjadi hal yang diprioritaskan. Sultan Iskandar
Muda berhasil merumuskan politik pangan selama sekitar 30 tahun masa
kekuasaannya.
Pada
masa kolonialisme Jepang dan Belanda di Indonesia, perhatian terhadap
ketersediaan pangan pun mendapat prioritas tinggi dengan dibentuknya lembaga
pangan yang mampu menjamin ketersediaan pangan bagi rakyat. Sejarah panjang
pangan di Indonesia tidak terlepas dari peranan BULOG sebagai satu-satunya
lembaga Pemerintah yang bertanggung jawab di bidang pangan, khususnya beras
sebagai pangan pokok masyarakat Melayu pada umumnya. Sejarah pembentukan BULOG
tersebut dapat dianalogikan dengan perkembangan ekonomi Melayu. Sebagai
institusi Melayu dengan orang-orang Melayu didalamnya, BULOG mengemban tugas
strategis dalam turut serta mewujudkan ketahanan pangan nasional melalui
penyediaan beras bersubsidi bagi masyarakat miskin rawan pangan, pengelolaan
cadangan beras Pemerintah (CBP) dan menjaga stabilitas harga beras melalui
mekanisme Harga Pembelian Pemerintah (HPP). Tugas sosial yang mengutamakan
kesejahteraan rakyat sebagaimana diemban BULOG merupakan karakteristik
masyarakat Melayu sebagaimana yang diutarakan Selo Sumardjan diatas. Visi
dan misi baru BULOG sebagaimana yang dituangkan dalam Rencana Jangka Panjang
Perusahaan (RJPP) tahun 2009-2013 menunjukkan keberpihakan BULOG kepada masyarakat
melayu pada umumnya di Indonesia. Dengan visi ”Pangan cukup, aman dan
terjangkau bagi rakyat” serta misi ” Memenuhi kebutuhan pangan pokok
rakyat”, telah menunjukkan eksistensi BULOG sebagai lembaga pangan nasional
yang pro-rakyat dan sebagai salah satu agen ekonomi pemerintah dalam mewujudkan
stabilitas nasional yang kuat.
DAFTAR PUSTAKA
Alexanderll,
James. 2006. Malaysia Brunei & Singapore. New Holland: New Holland
Publishers.
Barnar, Timothy
P. 2004. Contesting Malayness: Malay identity across boundaries. Singapore:
Singapore University press.
Chandra,
Govind, Pande. 2005. India's Interaction with Southeast Asia: History of
Science,Philosophy and Culture in Indian Civilization, Vol. 1, Part 3. Munshiram
Manoharlal.
Deka,
Phani. 2007. The great Indian corridor in the east. Mittal Publications.
Emilio,
Gerolamo, Gerini. 1974. Researches on Ptolemy's geography of eastern
Asia (further India and Indo-Malay archipelago).Munshiram: Manoharlal
Publishers.
O. W. Wolters. 1999. History, culture, and
region in Southeast Asian perspectives. Singapore: Cornell University
Southeast Asia Program Publications.
[1]James Alexanderll, Malaysia
Brunei & Singapore, (New Holland: New Holland Publishers, 2006), hlm.8.
[2] O. W. Wolters, History, culture, and region
in Southeast Asian perspectives, (Singapore: Cornell University Southeast
Asia Program Publications, 1999), hlm.33.
[3] Gerolamo Emilio Gerini,
Researches on Ptolemy's geography of eastern Asia (further India and Indo-Malay
archipelago), (Munshiram: Manoharlal Publishers, 1974), hlm.101.
[4] Phani Deka, The
great Indian corridor in the east, (Mittal Publications, 2007), hlm.57.
[5] Govind Chandra Pande, India's
Interaction with Southeast Asia: History of Science,Philosophy and Culture in
Indian Civilization, Vol. 1, Part 3, (Munshiram Manoharlal, 2005), hlm.266.
[6] Timothy P. Barnar, Contesting
Malayness: Malay identity across boundaries, (Singapore: Singapore
University press, 2004), hlm.4.
[7] https://teukuuzer.wordpress.com/2013/01/18/peradaban-melayu-penguatan-ekonomi-masyarakat-melayu-dalam-percaturan-ekonomi-global/
diakses pada tanggal 13-4-2021 pukul 23.31

0 Komentar