TEKNIK PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN
Sebagai
seorang guru pasti pernah mengalami kesulitan dalam menjelaskan suatu materi
pelajaran kepada siswanya. Hal ini karena perbedaan daya tangkap peserta didik
yang berbeda satu dengan yang lainnya. Sehingga terkadang membuat guru
mengalami kesulitan dalam menyampaikan materi. Kadang terselip dibenak seorang guru mengenai
beberapa cara yang mungkin bisa mengatasi kesulitan tersebut. Namun pada saat
cara tersebut digali lagi, maka akan menimbulkan berbagai pertanyaan, apakah
cara yang diambil sudah merupakan cara yang paling efektif atau tidak.
Siswa
mendapatkan suatu pembelajaran melalui informasi verbal, berupa pengalaman
nyata, dan informasi melalui media. Dari ketiga cara tersebut, informasi yang
diterima melalui media merupakan salah cara yang paling bijaksana
dilakukan. Media merupakan cara yang lebih efektif dan efisien dalam pembelajaran
karena lebih real disajikan dihadapan seluruh peserta didik. Untuk
memperoleh nilai efektifitas yang tinggi dari sebuah media pembelajaran
tidaklah mudah. Guru harus memahami cara dan teknik dalam menggunakan media
tersebut dengan baik dan benar. Sehingga peserta didik mampu menangkap materi
yang sedang diajarkan oleh guru.
Salah satu
menjadi factor keberhasilan seorang guru dalam mengajar adalah media
pembelajaran yang digunakan. Hal itu dilakukan mengingat media merupakan
perantara yang dapat menyampaikan pesan agar lebih mudah kepada siswa. Berbagai
macam media dapat digunakan dalam proses pembelajaran sehingga dapat dengan
mudah digunakan oleh guru dan mudah diterima oleh siswa.
Media
pembelajaran juga memimiliki ciri khas tersendiri. Salah satu ciri media pembelajaran adalah
bahwa media mengandung dan membawa pesan atau informasi kepada penerima yaitu
siswa. Sebagian media dapat mengolah pesan dan respons siswa sehingga media itu
sering disebut media interaktif. Pesan dan informasi yang dibawa oleh media
bisa berupa pesan yang sederhana dan bisa pula pesan yang amat kompleks. Akan
tetapi, yang terpenting adalah media itu disiapkan untuk memenuhi kebutuhan
belajar dan kemampuan siswa, serta siswa dapat aktif berpartisipasi dalam
proses belajar mengajar. Oleh karena itu, perlu dirancang dan dikembangkan
lingkungan pembelajaran yang interaktif yang dapat menjawab dan memenuhi
kebutuhan belajar perorangan dengan menyiapkan kegiatan pembelajaran dengan
medianya yang afektif guna menjamin terjadinya pembelajaran.
Menurut
Hernawan, media merupakan alat saluran komunikasi. Media berasal dari bahasa
Latin dan merupakan bentuk jamak dari kata “medium” yang secara harfiah berarti
“perantara” yaitu perantara sumber pesan (a source) dengan penerima pesan (a
receiver). Makna umumnya adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan informasi
dari sumber informasi kepada penerima informasi. Istilah media ini sangat
populer dalam bidang komunikasi (Safei: 2011).
Proses belajar
mengajar pada dasamya juga merupakan proses komunikasi, sehingga media yang
digunakan dalam pembelajaran disebut media pembelajaran. Heinich mencontohkan
media ini seperti film, televisi, diagram, bahan tercetak (printed materials),
komputer dan instruktur. Contoh media tersebut bisa dipertimbangkan sebagai
media pembelajaran jika membawa pesan-pesan (message) dalam rangka mencapai
tujuan pembelajaran. Banyak ahli yang memberikan batasan tentang media
pembelajaran. AECT misalnya, mengatakan bahwa media pembelajaran adalah segala
sesuatu yang digunakan orang untuk menyalurkan pesan. Gagne mengartikan media
sebagai jenis komponen dalam lingkungan belajar yang dapat merangsang mereka
untuk belajar.
Berikut
ini akan diuraikan prinsip-prinsip penggunaan dan pengembangan media
pembelajaran. Media pembelajaran yang akan dibahas tersebut akan mengikuti
taksonomi Leshin, yaitu media berbasis manusia (guru, instruktur, tutor, main
peran, kegiatan kelompok, dan lain-lain), media berbasis cetakan (buku,
penuntun, buku kerja/latihan, dan lembaran lepas), media berbasis visual
(buku, charts, grafik, peta, figure/gambar, transparansi, film bingkai
atau slide), media berbasis audio-visual (video, film, slide bersama tape,
televise), dan media berbasis computer (pengajaran dengan bantuan computer dan
video interaktif).
A. Media
Berbasis Manusia
Media berbasis manusia merupakan
media tertua yang digunakan untuk mengirimkan dan mengkomunikasikan pesan atau
informasi. Salah satu contoh yang terkenal adalah gaya tutorial Socrates.
Sistem ini tentu dapat menggabungkannya dengan media visual lain. Media ini
bermanfaat khususnya bila tujuan kita adalah mengubah sikap atau ingin secara
langsung terlibat dengan pemantauan pembelajaran siswa. Misalnya, media manusia
dapat mengarahkan dan mempengaruhi proses belajar melalui eksplorasi terbimbing
dengan menganalisis dari waktu ke waktu apa yang terjadi pada lingkungan
belajar. Guru atau instruktur dapat merangkai pesannya untuk satu kelompok
khusus, dan setelah itu dirangkai menurut kebutuhan belajar kelompok siswa atau
irama emosinya (Wiwin: 2017).
Media berbasis manusia mengajukan dua
teknik yang afektif, yaitu rancangn yang berpusat pada masalah dan bertanya ala
Socrates. Rancangan pembelajaran yang berpusat pada masalah dibangun
berdasarkan masalah yang harus dipecahkan oleh pelajar. Salah satu faktor
penting dalam pembelajaran dengan media berbasis manusia ialah rancangan
pelajaran yang interaktif. Dengan adanya manusia sebagai pemeran utama dalam
prosese belajar maka kesempatan interaksi semakin terbuka lebar. Pelajaran
interaktif yang terstruktur dengan baik bukan hanya lebih menarik tetapi juga
memberikan kesempatan untuk percobaan mental dan pemecahan masalah yang
kreatif. Disamping itu, pelajaran interaktif mendorong partisipasi siswa dan
jika digunakan dengan baik dapat mempertinggi hasil belajar dan pengalihan
pengetahuan. Sebagai penuntun untuk mengembangkan pelajaran interaktif
dikemukakan langkah-langkah berikut :
1. Mengidentifikasi
pokok bahasan pelajaran;
2. Mengembangkan
sajian pembelajaran yang mencakup semua informasi yang diharapkan siswa harus
kuasai;
3. Membaca/
mengamati keseluruhan penyajian dan menentukan di mana dialog-dialog interaktif
dapat digabung dan disisipkan;
4. Menetapkan
jenis informasi yang diinginkan dari siswa; kembangkan pertanyaan atau strategi
lain yang memerlukan kaikutsertaan siswa menganalisis, mensintesis, mengevaluasi,
atau membuat keputusan;
5. Menentukan
pesan-pesan apa yang ingin disampaikan dengan kegiatan interaktif;
6. Menetapkan
butir-butir diskusi penting; butir-butir penting ini dapat disajikan setelah
melibatkan siswa dalam diskusi atau kegiatan strategis lainnya.
Pembelajaran
interaktif dapat direalisasikan dalam beberapa bentuk. Berikut ini dikemukakan
beberapa jenis pembelajaran interaktif.
1. Pembelajaran
partisipatori, yaitu jenis pembelajaran yang dimulai dengan sesi curah pendapat
dari seluruh siswa.
2. Pembelajaran
main peran, yaitu yang dimulai dengan main peran yang diberi tahapan dengan
pelaku yang terdiri atas siswa dengan sukarela.
3. Pembelajaran
kuis tim, yaitu yang dimulai dengan mengumumkan bahwa aka nada kuis pada akhir
pelajaran.
4. Pembelajaran
kooperatif, yaitu menciptakan tim-tim atau kelompok-kelompok yang bertanggung
jawab untuk saling mengajar pengetahuan atau keterampilan khusus.
5. Debat
terstruktur, dalam debat terstruktur sangat bermanfaat apabila ada butir-butir
informasi penting atau pandangan yang berlawanan.
6. Pembelajaran
99- detik, merupakan rancangan pembelajaran yang membantu siswa memproses
informasi dengan meminta siswa mengorganisasikan secara singkat informasi ke
dalam penyajian yang tidak lebih dari 99 detik. Media Berbasis CetakanMateri
.
Pembelajaran berbasis cetakan yang paling
umum dikenal adalah buku teks, buku penuntun, jurnal, majalah, dan lembaran
lepas. Teks berbasis cetakan menuntut enam elemen yang perlu diperhatikan pada
saat merancang, yaitu konsistensi, format, organisasi, daya tarik, ukuran
huruf, dan penggunaan spasi kosong.
B. Media
Berbasis Visual
Media
berbasis visual (image atau perumpamaan) memegang peran yang sangat
penting dalam proses belajar. Media visual dapat memperlancar pemahaman
(misalnya melalui elaborasi struktur dan organisasi) dan memperkuat ingatan.
Visual dapat pula menumbuhkan niat siswa dan dapat memberikan hubungan antara
isi materi pelajaran dengan dunia nyata. Agar menjadi afektif, visual sebaiknya
ditempatkan pada konteks yang bermakna dan siswa harus berinteraksi dengan
visual (image) itu untuk meyakinkan terjadinya proses informasi (Achsin: 1986).
Bentuk
visual bisa berupa : (a) gambar representasi seperti gambar, lukisan
atau foto yang menunjukkan bagaimana tampaknya sesuatu benda; (b) diagram yang
melukiskan hubungan-hubungan konsep, organisasi, dan struktur isi material;
(c) peta yang menunjukkan hubungan-hubungan ruang antara unsur-unsur
dalam isi materi; (d) grafik seperti table, grafik, dan chart(bagan)
yang menyajikan gambaran/kecenderungan data atau antar hubungan seperangkat
gambar atau angka-angka. Ada beberapa prinsip umum yang perlu diketahui untuk
penggunaan afektif media berbasis visual sebagai berikut.
1. Usahakan
visual itu sesederhana mungkin dengan menggunakan gambar garis, karton, bagan
dan diagram. Gambar realitas harus digunakan secara hati-hati karena gambar
yang amat rinci dengan realism sulit diproses dan dipelajari bahkan seringkali
mengganggu perhatian siswa untuk mengamati apa yang seharusnya diperhatikan.
2. Visual
digunakan untuk menekankan informasi sasaran (yang terdapat teks) sehingga
pembelajaran dapat terlaksana dengan baik.
3. Gunakan
grafik untuk menggambarkan ikhtisar keseluruhan materi sebelum menyajikan unit
demi unit pelajaran untuk digunakan oleh siswa mengorganisasikan informasi.
4. Ulangi
sajian visual dan libatkan siswa untuk meningkatkan daya ingat. Meskipun
sebagian visual dapat dengan mudah diperoleh informasinya, sebagian lagi
memerlukan pengamatan dengan hati-hati. Untuk visual yang kompleks siswa perlu
diminta untuk menggantinya, kemudian mengungkapkan sesuatu mengenai visual
tersebut setelah menganalisis dan memikirkan informasi yang terkandung dalam
visual itu. Jika perlu, siswa diarahkan kepada informasi penting secara rinci.
5. Gunakan
gambar untuk melukiskan perbedaan konsep-konsep, misalnya dengan menampilkan
konsep-konsep yang divisualkan itu secara berdampingan.
6. Hindari
visual yang tak berimbang.
7. Tekankan
kejelasan dan ketepatan dalam semua visual.
8. Visual
yang diproyeksikan harus dapat terbaca dan mudah dibaca.
9. Visual,
khususnya diagram, amat membantu untuk mempelajari materi yang agak kompleks.
10. Visual
yang dimaksudkan untuk mengkomunikasikan gagasan khusus akan afektif apabila :
(a) jumlah objek dalam visual yang akan ditafsirkan dengan benar dijaga agar
terbatas, (b) jumlah aksi terpisah yang penting yang pesan-pesannya harus
ditafsirkan dengan benar sebaiknya terbatas, dan (c) semua objek dan aksi yang
dimaksudkan dilukiskan secara realistic sehingga tidak terjadi penafsiran
ganda.
11. Unsur-unsur
pesan dalam visual itu harus ditonjolkan dan dengan mudah dibedakan dari
unsur-unsur latar belakang untuk mempermudah pengolahan informasi.
12. Caption (keterangan
gambar) harus disiapkan terutama untuk; (a) menambah informasi yang sulit
dilukiskan secara visual, seperti lumpur, kemiskinan, dan lain-lain, (b)
memberi nama orang, tempat, atau objek, (c) menghubungkan kejadian atau aksi
dalam lukisan dengan visual sebelum atau sesudahnya, dan (d) menyatakan apa
yang orang dalam gambar itu sedang kerjakan, pikirkan, atau katakana.
13. warna
harus digunakan secara realistic.
14. Warna
dan pemberian bayangan digunakan untuk mengarahkan perhatian dan membedakan
komponen-komponen.
C. Media
Berbasis Audio-Visual
Media
visual yang menggabungkan penggunaan suara memerlukan pekerjaan tambahan untuk
memproduksinya. Salah satu pekerjaan penting yang diperlukan dalam media
audio-visual adalah penulisan naskah dan storyboard yang memerlukan
persiapan yang banyak, rancangan, dan penelitian. Berikut adalah beberapa
petunjuk praktis untuk menulis naskah narasi :
1. Tulis
singkat, padat, dan sederhana.
2. Tulis
seperti menulis judul berita, pendek da tepat, berirama, dan mudah diingat.
3. Tulisan
tidak harus berupa kalimat yang lengkap. Pikirkan frase yang dapat melengkapi
visual atau tuntun siswa kepada hal-hal yang penting.
4. Hindari
istilah teknis, kecuali jika istilah itu diberi batasan atau digambarkan.
5. Tulislah
dalam kalimat aktif.
6. Usahakan
setiap kalimat tidak lebih dari 15 kata. Diperkirakan setiap kalimat memakan
waktu satu tayangan visual kurang lebih 10 detik.
7. Setelah
menulis narasi, baca narasi itu dengan suara keras.
8. Edit
dan revisi naskah narasi itu sebagaimana perlunya (Azhar: 1997).
Storyboard
dikembangkan dengan memperhatikan beberapa petunjuk di bawah ini :
1. Menetapkan
jenis visual apa yang akan digunakan untuk mendukung isi pelajaran, dan mulai
membuat sketsanya.
2. Pikirkan
bagian yang akan diperankan audio dalam paket program. Audio bisa dalam bentuk
: diam, sound effect khusus, suara latar belakang, music, dan narasi.
Kombinasi suara akan dapat memperkaya paket program itu.
3. Lihat
dan yakinkan bahwa seluruh isi pelajaran tercakup dalam storyboard.
4. Reviu
stroryboard sambil mengecek hal-hal berikut : pertama, semua audio dan grafik
cocok dengan teks; kedua, pengantar dan pendahuluan menampilkan penarik
perhatian; ketiga, informasi penting telah dicakup; keempat, urutan interaktif
telah digabungkan; kelima, strategi dan taktik belajar telah digabungkan;
keenam, narasi singkat padat; ketujuh, program mendukung latihan-latihan;
kedelapan, alur dan organisasi program mudah diikuti dan dimengerti.
5. Kumpul
dan paparkan semua storyboard sehingga dapat terlihat sekaligus.
6. Kumpulkan
anggota tim produklsi untuk meriview dan mengeritik storyboard.
7. Catat
semua komentar, kritik, dan saran-saran.
8. Revisi
untuk persiapan akhir sebelum memulai produksi.
D. Media
Berbasis Komputer
Dewasa
ini komputer memiliki fungsi yang berbeda-beda dalam bidang pendidikan dan
latihan. Komputer berperan sebagai manajer dalam proses pembelajaran yang
dikenal dengan nama Computer Managed Instruction (CMI). Ada pula peran komputer
sebagai pembantu tambahan dalam belajar; pemanfaatannya meliputi penyajian
informasi isi materi pelajaran, latihan, atau kedua-duanya. Modus ini dikenal
sebagai Computer Assisted Instruction (CAI). CAI mendukung pembelajaran dan
pelatihan akan tetapi ia bukanlah penyampai utama materi pelajaran.
Komputer dapat menyajikan informasi dan tahapan pembelajaran lainnya
disampaikan bukan dengan media computer (Leshin: 1992).
Penggunaan
komputer sebagai media pembelajaran secara umum mengikuti proses instruksional
sebagai berikut :
1. Merencanakan,
mengatur dan mengorganisasikan, dan menjadwalkan pengajaran.
2. Mengevaluasi
siswa (tes).
3. Mengumpulkan
data mengenai siswa.
4. Melakukan
analisis statistic mengenai data pembelajaran.
5. Membuat
catatan perkembangan pembelajaran (kelompok atau perseorangan).
Format
penyajian pesan dan informasi dalam CAI terdiri atas tutorial
terprogram, tutorial intelijen, drill and practice,
dan simulasi. Tutorial terprogram adalah seperangkat tayangan baik
statis maupun dinamis yang telah lebih dahulu deprogramkan. Media tambahan lain
biasanya digabungkan untuk format tutorial terprogram, seperti tugas-tugas
bacaan berbasis cetak, kegiatan kelompok, percobaan laboratorium, kegiatan
latihan, simulasi, dan interaktif dengan videodisc. Manfaat tutorial terprogram
akan tampak jika menggunakan kemampuan teknologi komputer untuk bercabang dan
interaktif.
Tutorial
intelijen berbeda dari tutorial terprogram karena jawaban komputer
terhadap pertanyaan siswa dihasilkan oleh intelegensia artificial, bukan
jawaban-jawaban yang terprogram yang terlebih dahulu disiapkan oleh perancang
pelajaran. Drill and practice digunakan dengan asumsi bahwa suatu konsep,
aturan atau kaidah, atau prosedur telah diajarkan kepada siswaprogram ini
menuntun siswa dengan serangkaian contoh untuk meningkatkan kemahiran
menggunakan keterampilan.
Simulasi pada
komputer memberikan kesempatan untuk belajar secara dinamis, interaktif, dan
perorangan. Keberhasilan simulasi dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu skenario,
model dasar, dan lapisan pengajaran. skenario harus mencerminkan
kehidupan nyata, yaitu menentukan apa yang terjadi dan bagaimana hal itu
terjadi, siapa karakternya, objek apa yang ikut terlibat, apa peran siswa dan
bagaimana siswa berhadapan dengan simulasi itu. Model dasar merupakan
faktor kedua yang turut mempengaruhi keberhasilan simulasi. Lapisan
pembelajaran adalah taktik dan strategi pembelajaran yang digunakan untuk
mengoptimalkan pembelajaran dan motivasi.
Di
samping prinsip-prinsip media berbasis cetak, prinsip rancangan layar perlu
mendapat perhatian untuk pengembangan media berbasis komputer. Berikut adalah
beberapa petunjuk untuk perwajahan teks media berbasis komputer.
1. Layar/monitor
komputer bukanlah halaman, tetapi penayangan yang dinamis yang bergerak berubah
dengan perlahan-lahan.
2. Layar
tidak boleh terlalu padat, bagi kedalam beberapa tayangan, atau mulailah dengan
sederhana dan pelan-pelan, dan tambahan hingga mencapai tahapan kompleksitas
yang diinginkan.
3. Pilihlah
jenis huruf normal, tak berhias, gunakan huruf kapital dan huruf kecil, tidak
menggunakan huruf kapital semua.
4. Gunakan
antara tujuh sampai sepuluh kata per baris karena lebih mudah membaca kalimat
pendek dari pada kalimat panjang.
5. Tidak
memenggal kata pada akhir baris; tidak memulai paragraf pada baris terakhir
dalam satu layar tayangan; tidak mengakhiri paragraf pada baris pertama layar
tayangan; meluruskan baris kalimat pada sebelah kiri; namun, di sebelah kanan
lebih baik tidak lurus karena lebih mudah membacanya.
6. Jarak
dua spasi disarankan untuk tingkat keterbacaan yang lebih baik.
7. Pilih
karakter huruf tertentu untuk judul dan kata-kata kunci, misalnya : Cetak tebal,
Garis bawah, Cetak miring (gaya cetak ini tidak digunakan secara berlebihan
untuk menjaga perhatian siswa terhadap pentingnya karakter dengan gaya cetak
tertentu itu).
8. Teks
diberi kotak apabila teks itu berada bersama-sama dengan grafik atau
representasi visual lainnya pada layar tayangan yang sama.
9. Konsisten
dengan gaya dan format yang dipilih.
Konsep
interaktif dalam pembelajaran paling erat kaitannya dengan media berbasis
komputer. Interaksi dalam lingkungan pembelajaran berbasis komputer pada
umumnya mengikuti tiga unsur, yaitu : (1) urutan-urutan instruksional yang
dapat disesuaikan, (2) jawaban/respons atau pekerjaan siswa, dan (3) umpan
balik yang dapat disesuaikan.
E. Pemanfaatan
Perpustakaan Sebagai Sumber Belajar
Perpustakaan
merupakan pusat sarana akademis. Perpustakaan menyediakan bahan-bahan pustaka
berupa barang cetakan seperti buku, majalah/jurnal ilmiah, peta, surat kabar,
karya-karya tulis berupa monograf yang belum diterbitkan, serta bahan-bahan
non-cetakan seperti micro-fish, micro-film, foto-foto, film, kaset
audio/video, lagu-lagu dalam piringan hitam, rekaman pidato (dokumenter), dan
lain-lain. Bahan-bahan yang tersedia itu dapat dikelompokan ke dalam jenis (1)
referensi, (2) reserve, (3) pinjaman.
Bahan-bahan
referensi merupakan sumber-sumber untuk fakta-fakta tertentu yang sudah baku,
misalnya ensiklopedia, kamus, statistik, buku tahunan, biografi, buku pegangan,
atlas, indeks (tesis, disertasi, artikel ilmiah), abstrak, dan lain-lain yang
sejenisnya. Bahan-bahan reserve biasanya terdiri dari buku-buku,
artikel-artikel, atau handouts untuk mata pelajaran tertentu atas
permintaan tenaga pengajarnya. Dan buku-buku dalam berbagai keilmuan pada
umumnya siap untuk dipinjamkan untuk jangka waktu antar dua minggu sampai satu
bulan kepada pelajar atau mahasiswa dan masyarakat umum yang memiliki kartu
anggota perpustakaan.
Pemanfaatan
perpustakaan sebagai sumber belajar secara afektif memerlukan keterampilan
sebagai berikut (Achsin, 1986) :
1. Keterampilan
mengumpulkan informasi, yang meliputi keterampilan (a) mengenal sumber
informasi dan pengetahuan, (b) menentukan lokasi sumber informasi berdasarkan
sistem klasifikasi perpustakaan, cara menggunakan katalog dan indeks, (c)
menggunakan bahan pustaka baru, bahan referensi seperti ensiklopedia, kamus,
buku tahunan, dan lain-lain.
2. Keterampilsan
mengambil intisari dan mengorganisasikan informasi, seperti (a) memilih
informasi yang relevan dengan kebutuhan dan masalah, dan (b) mendokumentasikan
informasi dan sumbernya.
3. Keterampilan
menganalisis, menginterpretasikan dan mengevaluasi informasi, seperti (a)
memahami bahan yang dibaca, (b) membedakan antara fakta dan opini, dan (c)
menginterpretasi informasi baik yang saling mendukung maupun yang berlawanan.
4. Keterampilan
menggunakan informasi, seperti (a) memanfaatkan intisari informasi untuk
mengambil keputusan dan memecahkan masalah, (b) menggunakan informasi dalam
diskusi, dan (c) menyajikan informasi dalam bentuk tulisan.
F. Teknik
Penggunaan Media Pembelajaran
1.
Penggunaan Media Berdasarkan
Tempat
Pembelajaran adalah suatu kegiatan belajar mengajar
yang melibatkan siswa dan guru dengan menggunakan berbagai sumber belajar baik
dalam situasi kelas maupun di luar kelas. Dalam arti media yang digunakan untuk
pembelajaran tidak selalu identik dengan situasi kelas dalam pola pengajaran
konvensional namun proses belajar tanpa kehadiran gurupun dan lebih
mengandalkan media termasuk dalam kegiatan pembelajaran. Misalnya e-learning,
pembelajaran individual dengan CD interaktif, video interaktif, dan lain- lain.
Berdasarkan tempat penggunaannya, terdapat beberapa teknik penggunaan media
pembelajara, yaitu:
a.
Penggunaan
Media di Kelas
Pada teknik ini media dimanfaatkan untuk menunjang tercapainya tujuan
tertentu dan penggunaanya dipadukan dengan proses belajar mengajar dalam
situasi kelas. Dalam merencanakan pemanfaatan media tersebut guru harus melihat
tujuan yang akan dicapai, materi pembelajaran yang mendukung tercapainya tujuan
tersebut, serta strategi belajar mengajar yang sesuai untuk mencapai tujuan
tersebut. Media pembelajaran yang dipilih haruslah sesuai dengan ketiga hal
tersebut, ialah tujuan, materi dan strategi pembelajaran. Yang terpenting dalam
hal ini media tersebut disajikan diruang kelas dimana guru dan siswa hadir
bersama-sama berinteraksi secara langsung (face to face). Tentu saja
media yang dapat digunakan di kelas adalah yang memungkinkan dilihat dari sisi
biaya, berat dan ukuran, kemampuan siswa dan guru untuk menggunakannya, dan
tidak membahayakan bagi penggunanya. Dalam konteks ini media harus praktis,
ekonomis, mudah untuk digunakan (user friendly).
b.
Penggunaan
Media di Luar Kelas
Seperti yang telah disinggung di atas, terdapat media yang penggunaannya
di luar situasi kelas dalam hal ini media tidak secara langsung dikendalikan
oleh guru, namun digunakan oleh siswa sendiri tanpa instruksi guru atau melalui
pengontrolan ole orang tua siswa. Penggunaan media pembelajaran di luar situasi
kelas dapat dibedakan dalam dua kelompok utama, yaitu penggunaan media tidak
terprogram dan penggunaan media secara terprogram, simaklah penjelasannya
berikut ini.
a)
Penggunaan
Media Tidak Terprogram
Penggunaan media dapat terjadi di masyrakat luas. Hal ini ada kaitannya
dengan keberadaan media massa yang ada di masyarakat, misalnya televisi, radio,
penggunaan film melaui CD/DVD ROM, penggunaan media ini bersifat bebas yaitu
bahwa media itu digunakan tanpa dikontrol atau diawasi dengan tidak terprogram
sesuai tuntutan kurikulum yang diberikan oleh guru atau sekolah. Pembuat media
mendistribusikan program media tersebut di masyarakat baik dengan cara
diperjualbelikan maupun didistribusikan secara bebas dengan harapan media itu
akan digunakan orang dan cukup efektif untuk mencapai tujuan tertentu.
Pemakaian media dalam menggunakannya menurut kebutuhan masing- masing. Biasanya
mereka menggunakannya secara perorangan. Dalam mengguakan media ini mereka
tidak dituntut untuk mencapai tingkat pemahaman tertentu. Mereka juga tidak diharapkan
untuk memberikan umpan balik kepada siapapun dan jua tidak perlu mengikuti tes
atau ujian. Sehingga penggunaan media didasarkan atas inisiatif sendiri tanpa
disuruh oleh pihak sekolah, medianya pun dapat diperoleh dimana saja, misalnya
di toko buku, supermarket, pameran pendidikan, dan lain- lain. Sebagai contoh
jenis penggunaan media seperti ini ialah:
1)
Penggunaan
Kaset Pelajaran Bahasa Inggris
Sering dijumpai di toko disekitar tempat tinggal kita banyak dijual
kaset pelajaran bahasa Inggris yang dibuat untuk melengkapi buku-buku pelajaran
bahasa Inggris tertentu. Orang yang rasa memerlukan program tersebut dapat
membelinya secara bebas. Tidak hanya siswa sekolah tapi juga orang tua atau
masyarakat umum. Menggunakannyapun secara bebas juga, artinya kaset itu dapat
digunakan kapan saja, dimana saja dan untuk kepentingan apa saja semunya
tergantung kepada pemilik kaset itu sendiri. Tidak ada orang yang ikut
mengaturnya. Hasil yang dicapainyapun tergantung pada orang itu sendiri secara
perorangan dalam istilah media konsep ini disebut media as a tools, media
yang berfungsi sebagai alat untuk mempelajari materi tertentu.
2)
Penggunaan
Siaran Radio untuk Pendidikan
Pada saat ini banyak siaran radio atau televisi yang bersifat
pendidikan. Program-program itu disiarkan dengan maksud untuk menyampaikan
pesan-pesan pendidikan tertentu. Misalnya siaran pelajaran bahasa Inggris,
matematika, bahasa Indonesia dan lain- lain. Penggunaan program itu kebanyakan
tidak dikotrol oleh penyelenggaraan siaran. Program tersebut disiarkan dengan
harapan didengarkan dan dimanfaatkan oleh orang dan hal ini menyelenggara
siaran tidak mengatur bagaimana program itu didengarkan dan dimanfaatkan.
Penyelenggara siaran juga tidak mengevaluasi hasil penggunaan program tersebut.
Artinya menyelenggara siaran tidak menilai sampai seberapa jauh pesan yang teah
disampaikan kepada pendengar itu dapat diterima oleh pendengar dan apa
pengaruhnya terhadap kemampuan keterampilan dan sikap pendengar. Penggunaan
media ini bersifat terbuka, siapapun dapat menggunakannya selain siswa juga
yang lainnya.
b) Penggunaan Media Secara Terprogram
Penggunaan media secara
terprogram adalah bahwa media tersebut digunakan dalam suatu rangkaian kegiatan
yang diatur secara sistematis untuk mencapai tujuan tertentu disesuaikan dengan
tuntutan kurikulum yang sedang berlaku. Bila media itu berupa media
pembelajaran, sasaran didik (audience) diorganisasikan dengan baik
hingga mereka dapat menggunakan media itu secara teratur, berkesinambungan dan
mengikuti pola belajar mengajar tertentu.
Biasanya siswa diatur
dalam kelompok- kelompok belajar. Setiap kelompok diketuai oleh pimpinan
kelompok dan disupervisi oleh seorang tutor. Sebelum memanfaatkan media, tujuan
pembelajaran yang akan dicapai dibahas atau ditentukan terlebih dahulu.
Kemudian mereka dapat belajar dari media tersebut secara berkelompok atau
secara perorangan.
Anggota kelompok
diharapakan dapat berinteraksi baik dalam diskusi maupun dalam bekerjasama
untuk memecahkan masalah, memperdalam pemahaman atau penyelesaian tugas- tugas
tertentu. Hasil belajar mereka dievaluasi secara teratur. Untuk keperluan
evaluasi ini pembuat program media perlu menyediakan alat evaluasi tersebut.
Pelaksanaan evaluasi diatur oleh para tutor menggunakan kunci jawaban yang
telah disediakan oleh pembuat program. Berikut ini beberapa contoh penggunaan
media secara terprogram:
1)
Penggunaan
Radio di SLTP Terbuka
Penggunaan radio sebagai media pembelajaran dilaksanakan diluar kelas,
sesuai dengan karakteristik SLTP terbuka yaitu sebagian besar belajar
menggunakan bahan berupa modul, belajar dimana saja disaat mereka bekerja atau
bermain. Tatap muka porsinya hanya sedikit yaitu pada saat di sekolah induk dan
di tempat kegiatan belajar (TKB). Modul-modul yang diberikan kepada mereka
bersifat modul integrated yaitu menggabungkan antara bahan cetak dengan media
berupa kaset, siaran radio, sound slide, vidio dan lain-lain. Begitu halnya
pada saat siswa menggunakan siaran radio pendidikan, mereka mendengar dan
menyimak siaran radio pendidikan disesuaikan dengan bahan cetaknya, yang
disertai dengan penugasan dan evaluasi belajar, dengan demikian jelas bahwa
penggunaan media siaran radio tersebut terprogram yang disesuaikan dengan
tujuan dan kurikulum.
2)
Penggunaan
E-Learning Di Beberapa Sekolah di Indonesia
E-learning berarti “pembelajaran dengan menggunakan media atau jasa
bantuan perangkat elektronika”. Sebagian besar berasumsi bahwa elektronik
yang dimaksud disini lebih diarahkan pada penggunaan teknologi komputer dan
internet. Melalui komputer, siswa dapat belajar secara individual baik secara
terprogram maupun tidak terprogram. Secara tidak terprogram siswa dapat
mengakses berbagai bahan belajar dan informasi di internet menggunakan
fasilitas di internet seperti mesin pencari data (search enggine).
Secara bebas siswa dapat mencari bahan dan informasi sesuai dengan minat masing
masing tanpa adanya intervensi dari siapapun. Sebagian besar komputer juga
sering dimanfaatkan untuk hiburan seperti bermain games, namun demikian hal
tersebut tidak dapat dihindari sebab penggunaan media elektronik terutama
internet bebas digunakan.
Internet juga dapat digunakan secara terprogram, salah satunya dengan
program e-learning. Pada program ini sekolah atau pihak penyelenggara menyediakan
sebuah situs/web e-lerning yang menyediakan bahan belajar secara lengkap baik
yang bersikap interaktif maupun non interaktif. Kegiatan siswa dalam mengakses
bahan belajar melalui e-learning dapat dideteksi apa yang mereka pelajari,
bagaimana progresnya, bagaimana kemajuan belajarnya, berapa skor hasil
belajarnya dan lain- lain. Di Indonesia pada umumnya masih bersifat blended
e-learning, yaitu e-learning bukan alat pembelajaran utama melainkan
sebagai bahan dan alat perlengkapan dari pembelajaran konvensional.
Pembelajaran dengan kontrol guru di kelas masih tetap dominan, siswa belum
secara totalitas menggunakan internet sebagai sistem pembelajarannya. Internet
baru berfungsi sebagai suplemen dan belum sebagai komplemen atau pengganti hari
PBN konvensional.
2. Variasi Penggunaan Media
Dilihat dari variasi
penggunaannya, media dapat digunakan baik secara perorangan, kelompok atau
siswa dalam jumlah yang sangat banyak (masal).
a. Media dapat digunakan secara perorangan
Media dapat digunakan oleh seseorang sendirian saja atau
istilahnya individual learning, banyak media yang memang dirancang
untuk digunakan secara perorangan. Media seperti ini biasanya dilengkapi dengan
petunjuk penggunaan yang jelas (manual book) sehingga orang dapat
menggunakannya secara mandiri. Artinya orang itu tidak bertanya kepada orang
lain tentang bagaimana cara menggunakannya, alat apa yang dipelukan, dan
bagaimana mengetahui bahwa ia telah berhasil dalam belajar. Buku petunjuk itu
biasanya mengandung keterangan tentang tujuan pembelajaran yang akan dicapai,
garis besar isi, urutan cara mempelajarinya, komponen-komponen media itu, alat
yang diperlukan untuk mengguakannya dan alat evaluasi yang biasanya terdiri
dari soal tes. Bila dalam suatu rungan ada beberapa orang yang belajar
menggunakan media secara perorangan sebaiknya masing-masing menempati tempat
khusus (karel) sehingga tidak saling mengganggu. Karel ialah meja belajar yang
disekat-sekat menjadi bagian-bagian kecil yang hanya cukup untuk duduk seorang.
Tiap karel dilengkapi dengan perlengkapan media seperti tape recorder,
proyektor film bingkai, earphone, layar kecil dan sebagainya.
b. Media dapat digunakan secara berkelompok
Pembelajaran dapat berlangsung dengan jumlah siswa yang cukup banyak
(big group) atau bersifat kelompok. Kelompok itu dapat berupa kelompok kecil
dengan anggota 2 sampai 8 orang. Atau berupa kelompok besar yang beranggotakan
9 sampai dengan 40 orang. Media yang dirancang untuk digunakan secara
berkelompok juga memerlukan buku petunjuk. Buku petujuk ini biasanya ditujukan
kepada pimpinan kelompok, tutor atau guru. Keuntungan belajar menggunakan media
secara berkelompok ialah bahwa kelompok itu dapat melakukan diskusi tentang
bahan yang sedang dipelajari. Diskusi dapat dilakukan baik sebelum maupun sesudah
mereka menggunakan media itu.
Media yang digunakan secara berkelompok harus memenuhi beberapa
persyaratan, yaitu:
1)
Suara yang
disajikan oleh media itu harus cukup keras sehingga semua anggota kelompok
dapat mendengarnya.
2)
Gambar atau
tulisan dalam media tersebut harus cukup besar sehingga dapat dilihat oleh
semua anggota kelompok itu.
3)
Perlu alat
penyaji yang dapat memperkeras suara (amlifier) dan membesarkan gambar
(proyektor).
c. Media yang Digunakan Secara Masal
Orang yang jumlahnya puluhan, ratusan bahkan ribuan dapat menggunakan
media tersebut secara bersama. Media ini biasanya disiarkan melalui pemancar,
seperti radio, televise, atau digunakan dalam ruang besar seperti film 35 mm.
Untuk memudahkan orang belajar menggunakan media ini sebaiknya kepada para
peserta sebelumnya diberikan bahan tercetak. Bahkan tercetak tersebut memuat
tujuan pembelajaran yang akan dicapai, garis besar isi, petunjuk tindak lanjut,
dan bahan sumber lain yang dapat dipelajari memperdalam pemahaman. Bahan
cetakan ini diberikan jauh sebelum penggunaan media dilakukan. Dengan
demikian peserta dapat menyiapkan diri dalam mengikuti program media tersebut.
Media yang digunakan secara masal di antaranya televisi edukasi yang
disingkat “TVe” yang diluncurkan oleh Pusat Teknologi Komunikasi (PUSTEKKOM)
Depdiknas. TVe dirancang memenuhi kebutuhan siaran yang bernuansa pendidikan
dan pembelajaran, sehingga program-program yang diluncurkan sinkron dengan
pengetahuan, keterampilan serta pendidikan nilai-nilai yang positif. Media ini
bersifat masal karena disiarkan keseluruh Indonesia seperti halnya
televisi-televisi swasta lainya. Pada jam-jam tertentu siswa dapat mempelajari
berbagai materi pelajaran seperti: Matematika, Fisika, Bahasa Inggris, Bahasa
Indonesia, dan lain-lain.
DAFTAR PUSTAKA
Achsin, A.
1986. Media Pendidikan dalam Kegiatan Belajar Mengajar. Ujung Pandang:
Penerbit IKIP Ujung Pandang.
Arsyad, Azhar.
1997. Media Penbelajaran. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Leshin, C.B.,
Pollock, J., dan Reigeluth, C.M. 1992. Instructional Design Strategies and
Tactics. Englewood Cliffs: Educational Technology Publications.
Safei, Muh. 2011. Media
Pembelajaran: Pengembangan dan Aplikasinya. Makassar: Alauddin University.
Warliah, Wiwin dan
Feriska Lestianti. 2018. Pengembangan Media Pembelajaran Berbasis Widya
Wisata. Pemekasan: Duta Media Publishing.

0 Komentar