BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Jombang adalah kota kecil yang tidak henti-hentinya memunculkan
sosok tokoh yang sangat berpengaruh di bumi Indonesia Raya. Di kota tersebut
telah melahirkan tokoh besar yang mampu mewarnai jalannya NKRI, Beliau adalah K.H
Hasyim Asy’ari yang tak lain juga merupakan kakek Gus Dur. Sosok fenomenal
Hasyim Asy’ari kenyang pengalaman menyinggahi pesantren di jawa sebelum
melanjutkan pendidikannya ke Arab. Setelah kembali dari Arab beliau mendirikan
pesantren Tebu Ireng yang terkenal dengan ilmu Haditsnya. Kedalaman ilmu, dan
pemikirannya dalam pendidikan sangat brilian, sampai – sampai Kyai di Jawa
memberi Gelar dengan Hadratus Syekh artinya Tuan Guru Besar. Hasyim Asy’ari
termasuk tokoh utama pendiri lembaga sosial keagamaan terbesar di Indonesia
yaitu NU. Organisasi ini bertujuan mempertahankan ajaran Ahlus sunnah Wal
jamaah serta tradisi islam.
Kehadiran K.H Hasyim Asy’ari tentunya memberikan pengaruh besar terhadap
ajaran Islam di Indonesia. Hal itu dikarenakan pemikiran-pemikiran modern dari
K.H Hamsyim Asy’ari memudahkan masyrakat Indonesia dalam mempelajari ajaran
Islam. Kali ini akan dibahas bagaimana pemikiran K.H Hasyim Asy’ari di dalam
pendidikan agama Islam.
B. Rumusan Masalah
- Bagaimana Biografi K.H Hasyim Asy’ari?
- Bagaimana Ide pokok pemikiran hasyim
Asy’ari tentang pendidikan?
- Apa saja karya-karya dari K.H Hasyim
Asy’ari?
- Bagaimana
Relevansi pemikiran tokoh dengan pendidikan sekarang?
C. Tujuan
- Mengetahui Biografi K.H Hasyim Asy’ari.
- Mengetahui Ide pokok pemikiran hasyim Asy’ari
tentang pendidikan.
- Mengetahui
karya-karya dari K.H Hasyim Asy’ari.
- Mengetahui
Relevansi pemikiran tokoh dengan
pendidikan sekarang.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Biografi K.H Hasyim Asy’ari
K.H Hasyim Asy’ari dilahirkan di Desa Nggedang, Jombang, Jawa
Timur pada hari selasa kliwon tanggal 24 Dzulqaidah 1287 H/25 Juli 1871 Masehi. Nama lengkapnya
Muhammad Hasyim Asy’ari Ibn Abd al Wahid Ibn Abd Al halim yang diberi gelar
pangeran bonang Ibn Abd Al rahman yang dikenal dengan sebutan Jaka Tingkir
Sultan Hadi Wijaya Ibn Abd Allah Ibn Abd Al-Aziz Ibn Abd Al-fattah, Maulana
Ishal dari Raden ‘ain Al yaqin yang disebut Sunan Giri.[1]
Ayah dari K.H Hasyim Asy’ari bernama Kyai Asy’ari pendiri
Pesantren Keras yang berada 8 km dari Jombang, Kakek K.H Hasyim Asy’ari bernama
Kyai Usman, pendiri pesantren Nggedang di Jombang yang didirikan pada 1850-an.
Sedangkan buyutnya Kyai Shihah adalah pendiri pesantren Tambak Beras Di
Jombang, Dilihat dari silsilah ini dapat diketahui bahwa Kyai Hasyim Asy’ari
berasal dari keturunan pesantren yang terkenal.[2]
Beliau mendapatkan pendidikan pertamanya oleh ayahnya yang
dipelajarai Membaca Al-Quran.Selanjutnya jenjang pendiidkannya ditempuh di
berbagai pesantren. Ia menjadi santri di Monokojo, Probolinggo kemudian pindah
ke Ponpes Langitan, Tuban, kemudian pindah lagin Ke bangkalan yang diasuh oleh
Kyai Bangkalan. Sebelum Ke Mekkah beliau menjadi santri di Siwalan panji
sidoarjo. Di pesantren ini beliau diambil menantu oleh Kysi Ya’qub yaitu dengan
menikahi putrinya bernama Khatijah. Tidak lama kemudian mereka pergi ke Mekkah
untuk melaksanakan haji dan belajar disana. Setelah melahirkan istrinya
meninggal dan disusul oleh anaknya, oleh karenanya beliau kembali ke Tanah Air
dan kembali lagi ke Mekkah untuk belajar dan melakukan ibadah haji. Beliau
menetap disana selama 7 tahun.
Pada tahun 1899 atau 1900 Masehi Ia kembali lagi ke Indonesia
dan mengajar lagi ke Ponpes milik ayahnya, kemudian Beliau mendirikan sebuah
pesantren yang bernama Tebu Ireng pada tanggal 6 Pebruari 1906. Tidak lama didirikan
Ponpes tersebut menjadi terkenal di Nusantara dan menjadi tempat Nyantri
Kader-kader Ulama untuk wilayah Jawa dan sekitarnya.
Aktifitas K.H Hasyim Asy’ari di bidang sosial diantaranya
mendirikan organisasi Nahdlatul Ulama bersama para ulama, seperti Syeh Abdul
dan Syeh Bisri Samsuri pada tanggal 31 Januari 1926 atau 16 Rajab 1344 H.
Organisasi ini didukung oleh para ulama jawa dan komunitas pesantren. Pada
awalnya organisasi ini untuk merespon gerakan khalifah dan gerakan kurifikasi
itu deikembangkan Rasyid Ridho di Mesir, tetapi pada perkembangannya kemudian
organisasi itu melakukan rekontruksi keagamaan yang lebioh umum. Bahkan dewas
ini NU berkembang menjadi organisasi terbesar di Indonesia.[3]
Hasyim
Asy’ari meninggal pada tanggal 7 Ramadhan 1366 H bertepatan dengan 25 Juli 1947
M di Tebuireng Jombang dalam usia 79 tahun, karena tekanan darah tinggi. Hal
ini terjadi setelah beliau mendengar berita dari Jenderal Sudirman dan Bung
Tomo bahwa pasukan Belanda di bawah pimpinan Jenderal Spoor telah kembali ke
Indonesia dan menang dalam pertempuran di Singosari (Malang) dengan meminta
banyak korban dari rakyat biasa. Beliau sangat terkejut dengan peristiwa itu,
sehingga terkena serangan stroke yang menyebabkan kematiannya.
B.
Ide Pokok
Pemikiran Hasyim Asy’ari Tentang Pendidikan
Dari pemikiran K.H
Hasyim Asy’ari tentang pendidikan juga didasari oleh kesadaran akan perlunya
literatur yang membahas tentang etika (adab) dalam mencari ilmu pengetahuan.
Dalam konteks ini, K.H Hasyim Asy’ari tampaknya berkeinginan bahwa dalam
melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan itu disertai oleh perilaku sosial yang
santun (Akhlakul Karimah). Ditengarai, bermukimnnya KH. Hasyim As’ari selama di
Makkah telah menumbuhkan semangat perlawanan terhadap kolonialisme. Interaksi
sosial yang terjalin antar sesama pelajar dari Jawa khususnya dan daerah
jajahan pada umumnya, talah membentuk kesadaran resistensi terhadap
kolonialism. KH. Hasyim Asy’ari bukan iintelektual an
sich yang bergumul dengan buku dan pesantren, sseperti
tercermin dalam beberapa karyanya, tetapi memanfaatkan posisinya sebagai elit
keagamaan dalam politik.[4]
Yang melatar belakangi pemikiran K.H Hasyim Asy’ari tentang
pendidikan islam yang tercantum dalam kitab Adab Ta’lim wa Muta’alim yaitu
situasi pada saat itu mengalami perubahan dan perkembangan yang pesat dari
kebiasaan lama (tradisional) yang sudah mapan dalam bentuk baru ke dalam bentuk
baru (modern) akibat dari pengaruh sistem pendidikan barat di Indonesia.
Pendidikan pesantren mengalami kemajuan yang pesat sampai dengan
akhir perang Diponegoro (1785-1855). Setelah itu, pendidikan Islam, meski
secara kuantitas naik tapi secara kualitas mengalami kemunduran. Menurunnya
kualitas itu antara lain karena pesantren selama masa perang dianggap sebagai
kubu perang gerilya. Posisis ini terang sangat membahayakan pemerintah penjajah
Belanda. Keadaan ini semakin diperparah ketika pada 1888 terjadi pemberontakan
para kyai dan petani di Cilegon yang dipimpin pleh Kyai Wasir.
Pemberontakan itu menjalar ke berbagai pelosok Jawa Barat. Sejak
itu semua kegiatan pesantren diawasi oleh Belanda, bahkan penjajah melarang
masuknya kitab-kitab agama tertentu dari luar negeri. Sejak itu pula penjajah
menugaskan orientalis sejati, Snouck Hurgronye, untuk menyelidiki jemaah haji.
Menurut Belanda, setiap pemberontakan berawal dari orang-orang yang naik haji
dan pimpinan pesantren yang dianggap memiliki basis massa yang kuat. Berikutnya
pada 1905 keluar ordonansi yang berisi ketentuan pengawasan terhadap perguruan
yang hanya mengajarkan agama Islam.
Akibat itu semua terjadilah penurunan kualitas pesantren
disamping karena minimnya literature juga karena renggangnya hubungan antar
ulama pesantren. Kondisi seperti itu jelas tidak bias melahirkan kader-kader
pemimpin dari pesantren yang berpandangan luas. Karena itu butuh pembaharuan,
dalam kondisi seperti itulah muncul Kyai Hasyim Asy’ari lewat pesantrennya, Tebuireng.
Hal lain yang perlu dicatat adalah, masa ketika Hasyim Asy’ari belajar di
Makkah adalah masa dimana faham Wahabi mendapatkan tempatnya di hati penguasa
Saudi Arabia, Raja Abdul Aziz bin Saud. Penguasa ini tidak memberi kebebasan
bagi pengikut madzab yang lain.
C. Karya-Karya Dari K.H Hasyim Asy’ari
Karya – karya beliau
diantaranya adalah Adab Alim wa Al Muta’alim Fima
Yahtaj ila Al Muta’alim fi Ahwal Ta’allum wa Ma Yataqoff, Ziyadat Ta’liqot,
Radda fiha Mandhumat Al Syeikh, Al Tanbihat Al Wajibat li Man Yatsnha Al Maulid
Al Munkarat, Al Risalat Al Jami’at, Sharh fiha Ahmaal Al Mawta wa Ashirath Al
Sa’at Ma’bayan Mafhum Al Sunah wa Al Bid’ah. Untuk menuangkan pemikirannya tentang
pendidikan Islam, K.H. Hasyim Asy’ari telah merangkum sebuah kitab karangannya
yang berjudul Adab al-‘alim waal-muta’allim. Kitab Adab al-‘alim wa
al-muta’allim merupakan kitab yang berisi tentang konsep pendidikan. Kitab ini
selesai disusun hari Ahad pada tanggal 22 Jumadil al-Tsani tahun 1343 H. Kitab
tersebut terdiri dari delapan Bab yaitu:
- Keutamaan
ilmu dan ilmuan serta keutamaan belajar mengajar.
- Etika
yang harus diperhatikan dalam belajar mengajar.
- Etika seorang murid
terhadap guru.
- Etika murid terhadap
pelajaran dan hal-hal yang harus dipedomani bersama guru.
- Etika yang harus
dipedomani seorang guru.
- Etika guru ketika
akan mengajar.
- Etika guru terhadap
murid-muridnya.
- Etika terhadap buku,
alat unutuk memperoleh pelajaran dan hal-hal yang berkaitan dengannya.[5]
Konsep pendidikan beliau, meliputi: Tujuan
Pendidikan, Konsep pendidik, Konsep Peserta Didik, Kurikulum, Metode, dan
Evaluasi Pendidikan.
- Tujuan Pendidikan
Terdapat dua hal yang harus diperhatikan dalam
menuntut ilmu, pertama bagi murid, hendaknya ia berniat suci menuntut ilmu,
jangan sekali-kali berniat untuk hal-hal duniawi dan jangan melecehkan atau
menyepelekan. Kedua, bagi guru, dalam mengajarkan ilmu hendaknya ia meluruskan
niatnya terlebih dahulu, tidak mengharapkan materi semata-mata.
K.H. Hasyim
Asy’ari menyebutkan bahwa tujuan utama ilmu pengetahuan adalah mengamalkannya.
Dalam hal belajar, yang menjadi titik penekanannya adalah pada pengertian bahwa
belajar itu merupakan ibadah untuk mencari ridha Allah yang mengantarkan
seseorang untuk memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat. Karenanya, belajar
harus diniati untuk mengembangkan dan melestarikan nilai-nilai Islam, bukan
sekadar menghilangkan kebodohan. Dapat disimpulkan bahwa tujuan pendidikan
menurut K.H Hasyim Asy’ari adalah:
a.
Menjadikan
insan yang bertujuan mendekatkan diri pada Allah SWT
b.
Menjadi
Insan yang bertujuan mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.[6]
- konsep pendidik
Menurut K.H Hasyim Asy’ari etika seorang guru,
adalah:
a.
Etika
seorang guru
1) Senantiasa
mendekatkan diri pada Allah
2) Takut pada
Allah, tawadhu’, zuhud dan khusu’
3) Bersikap
tenang dan senantiasa berhati-hati
4) Mengadukan
segala persoalan pada Allah
5) Tidak
menggunakan ilmunya untuk meraih dunia
b.
Etika guru
dalam mengajar
1) Jangan
mengajarkan hal-hal yang syubhat
2) Mensucikan
diri, berpakaian sopan dan memakai wewangian
3) Berniat
beribadah ketika mengajar, dan memulainya dengan do’a
4) Biasakan
membaca untuk menambah ilmu
5) Menjauhkan
diri dari bersenda gurau dan banyak tertawa
c.
Etika guru
bersama murid
1) Berniat
mendidik dan menyebarkan ilmu
2)
Menghindari ketidak ikhlasan
3) Mempergunakan
metode yang mudah dipahami anak
4) Memperhatikan
kemampuan anak didik
5) Tidak
memunculkan salah satu peserta didik dan menafikan yang lain.
d.
konsep
peserta didik
Menurut K.H Hasyim Asy’ari, peserta didik
harus memiliki etika sebagai berikut:
1)
Etika
belajar
·
Membersihkan
hati dari berbagai gangguan keimanan dan keduniaan
·
Membersihkan
niat, tidak menunda-nunda kesempatan belajar, bersabar dan qanaah
·
Pandai
mengatur waktu
·
Menyederhanakan
makan dan minum
·
Berhati-hati
(wara’).
2)
Etika
seorang murid terhadap guru
·
Hendaknya
selalu memperhatikan dan mendengarkan guru
·
Memilih
guru yang wara’
·
Memuliakan
dan memperhatikan hak guru
·
Bersabar
terdapat kekerasan guru
·
Dengarkan segala
fatwa guru dan jangan menyela pembicaraannya
·
Gunakan
anggota kanan bila menyerahkan sesuatu pada guru.
3)
Etika murid
terhadap pelajaran
4)
Memperhatikan
ilmu yang bersifat fardhu ‘ain
5)
Berhati-hati
dalam menanggapi ikhtilaf para ulama
6)
Mendiskusikan
dan menyetorkan hasil belajar pada orang yang dipercaya
7)
Senantiasa
menganalisa dan menyimak ilmu
8)
Bila
terdapat hal-hal yang belum dipahami hendaknya ditanyakan.
- Kurikulum
Kurikulum atau materi yang diterapkan Hasyim
Asy’ari meliputi kajian tafsir Al-Qur’an, hadits, ushuluddin, kitab-kitab fiqih
madzhab, nahwu, shorof dan materi yang membahas tentang tasawuf.
- Metode
Sistem individual yang ditetapkan dalam metode
wetonan dan sorogan, metode hafalan, Muhawarat, dan metode muzaharat, merupakan
istilah-istilah lain metode yang diterapkan pada Islam klasik seperti al-sama’,
al-imla’, al-ijaza’, mudzakara, dan munazara. Bahkan penekanan aspek hapalan
dalam penerapan metode-metode diatas yang menjadi ciri khas pendidikan Islam
klasik, juga menjadi tipikal pesantren Tebuireng dan pesantren salaf atau
tradisional. Kesimpulannya bahwa K.H Hasyim Asy’ari dalam menggunakan metode pengajarannya
lebih menitik beratkan pada metode hafalan, sebagaimana pada umumnya menjadi
karakteristik dari tradisi Syafi’iyah dan juga menjadi salah satu ciri umum
dalam tradisi pendidikan Islam. Dalam menentukan pilihan metode pembelajaran
sangat erat kaitannya dengan tujuan, materi maupun situasi lingkungan
pendidikan dimana setiap unsur mempunyai karakteristik yang berbeda.
- Evaluasi
Mengenai evaluasi, menurut pemikiran K.H
Hasyim Asy’ari memang dalam proses evaluasi tidak menggunakan sistem
standarisasi nilai, namun jika diteliti sistem pendidikan islam sebetulnya
proses itu sudah menilai dari segala aspek yaitu aspek kognitif, afektif dan
psikomotorik.[7]
D.
Relevansi Pemikiran
Tokoh Dengan Pendidikan Sekarang
Beliau mengemukakan bahwasannya pendidikan islam
merupakan sarana untuk mencapai kemanusiaannya sehingga manusia dapat menyadari
siapa sesungguhnya penciptanya dan untuk apa diciptakan. Pendidikan tidak hanya
dipahami sebagai pendidikan yang berlabel islam seperti madrasah-madrasah atau
Pondok-pondok pesantren, akan tetapi pendidikan islam mencakup semua proses
pemikiran, penyelenggaraan dan tujuan
Relevansi pemikiran K.H Hasyim Asy’ari terhadap
pendidikan sekarang nampak pada munculnya lembaga yang dinaungi panji-panji
islam atau lebih dikenal dengan sebutan Pondok Pesantren.Pesantren sampai
sekarang masih menjadi satu-satunya lembaga yang diharapkan. Konsep pendidikan
oleh K.H Hasyim Asy’ari tidak hanya berupa teori-teori saja, namun juga
mempraktikkannya. Dalam aktivitas kependidikannya walaupun pemikiran beliau
masih bersifat tradisionalis, tetapi pemikiran beliau tetap sesuai dan masih
relevan diterapkan pada zaman sekarang terutama dalam beberapa aspek, antara
lain: di dalam tujuan pendidikan, materi dan dasar yang digunakan yaitu
al-Qur’an dan Hadits.
Pemikiran beliau tentang perpaduan antara pesantren
yang tradisionalis dengan sekolah barat. Hal tersebut menunjukkan bahwa beliau
merupakan tokoh yang berusaha memelihara tradisi turun menurun dari pondok
pesantren juga mengembangkan pendidikan keilmuan di Pondok Pesantren. Hingga
sekarang, pendidikan islam berkembang dari model pesantren tradisional,
pesantren modern, madrasah dan sekolah islam. Dari tujuan pendidikan menurut
beliau bertujuan untuk mencetak lulusan siswa menjadi seorang ulama yang
intelektual dan intelek yang islami. Dalam konsep pendidik menurut beliau bahwa
pendidik itu harus memiliki ilmu yang mumpuni, kewibawaan dan keteladaan,
tekun, ulet, bertekad menyebarluaskan ilmu, kebenaran demi kebaikan, ikut
berbaur dengan masyarakat. Dalam mengajar seorang guru harus memiliki niat yang
tulus dan ikhlas dalam menyampaikan ilmu kepada peserta didik. Ikhlas disini
adalah pendidik harus bekerja secara profesional. Yaitu ahli sesuai denga
bidangnya. Guru harus tegas dan jelas dalam menyampaikan ilmu, tidak menjadikan
bingung dan ragu peserta didiknya, sehingga dapat memahamkan ilmu bagi mereka.
Konsep peserta didik menurut beliau memiliki tugas
dan tanggung jawab terhadap guru dan dalam belajarnya. Dalam menuntut ilmu
peserta didik hendaknya berniat suci menuntut ilmu dan untuk mengamalkannya,
mengembangakan dan melestarikan nilai-nilai islam bukan sekedar menghilangkan
kebodohan. Niatnya demi mencari ridho Allah. Dalam organisasinya beliau juga
mendirikan Lembaga Pendidikan Ma’arif atau yang lebih dikenal yaitu LP Ma’arif.
Lembaga tersebut fungsinya sebagai pelaksana kebijakan – kebijakan pendidikan
dan keuangan, yang ditingkat pengurus besar, pengurus wilayah, pengurus cabang
dan pengurus majelis wakil cabang. LP Ma’arif NU dalam perjalanannya secara
aktif mengembangkan pendidikan di Indonesia. Secara institusional. Ma’arif juga
mendirikan satuan – satuan pendidikan berupa sekolah dan madrasah, mulai
tingkat dasar, menengah, hingga Perguruan Tinggi. Hingga saat ini tercatat
tidak kurang dari 6000 lembaga pendidikan yang tersebar di seluruh pelosok
tanah air bernaung di bawahnya, mulai dari TK/RA, SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA.
Seperti TK/RA Muslimat Nu, SMP/MTs Ma’arif Nu, SMA/SMK/MA Ma’arif Nu dan
perguruan tinggi seperti Universitas Sunan Giri Malang.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
H Hasyim Asy’ari dilahirkan di Desa
Nggedang,Jombang,Jawa Timur pada hari selasa kliwon tanggal 24 Dzulqaidah 1287
H/25 Juli 1871 Masehi.Nama lengkapnya Muhammad
Hasyim Asy’ari Ibn Abd al Wahid Ibn Abd Al halim yang diberi gelar pangeran
bonang Ibn Abd Al rahman yang dikenal dengan sebutan Jaka Tingkir Sultan Hadi
Wijaya Ibn Abd Allah Ibn Abd Al-Aziz Ibn Abd Al-fattah, Maulana Ishal dari
Raden ‘ain Al yaqin yang disebut Sunan Giri. Pemikiran pendidikan K.H Hasyim
Asy’ari meliputi tujuan pendidikan, konsep pendidik, konsep peserta didik,
kurikulum, metode pembelajaran, dan evaluasi pendidikan.
Diantara karya – karya K.H Hasyim Asy’ari adalah
Adab Alim wa Al Muta’alim Fima Yahtaj ila Al Muta’alim fi Ahwal Ta’allum wa Ma
Yataqoff, Ziyadat Ta’liqot, Radda fiha Mandhumat Al Syeikh, Al Tanbihat Al
Wajibat li Man Yatsnha Al Maulid Al Munkarat, Al Risalat Al Jami’at, Sharh fiha
Ahmaal Al Mawta wa Ashirath Al Sa’at Ma’bayan Mafhum Al Sunah wa Al Bid’ah.
Relevansi Pemikiran beliau adalah Pemikiran beliau
tentang perpaduan antara pesantren yang tradisionalis dengan sekolah barat. Hal
tersebut menunjukkan bahwa beliau merupakan tokoh yang berusaha memelihara
tradisi turun menurun dari pondok pesantren juga mengembangkan pendidikan
keilmuan di Pondok Pesantren.Dalam menuntut ilmu
peserta didik hendaknya berniat suci menuntut ilmu dan untuk mengamalkannya,
mengembangakan dan melestarikan nilai-nilai islam bukan sekedar menghilangkan
kebodohan. Niatnya demi mencari ridho Allah.
B.
Saran
Sebaiknya setelah mempelajari tentang
pemikiran modern K.H Hasyim Asy’ari masyarakat dapat menjadikan setiap ajaran
dari beliau dalam menambah ilmu pengetahuan khususnya dalam ajaran Islam. Selain
itu dapat menerapkan ilmu pengetahuan dari pemikiran K.H Hasyim Asy’ari. Sehingga
dapat terus menerapkan ajaran Islam di masa modern.
DAFTAR PUSTAKA
Ainun, Muhammad
Najib. 2007. Islam Sebagai Etika Politik, Perspektif KH.
HAsyim Asy’ari. Surabaya:
IAIN Sunan Ampel Surabaya.
Asy’ari, Hasyim.
1415. Adab Ta’lim wa
Muta’alim. Jombang: Turats al
islamy.
Kurniawan, Syamsul dan Erwin Mahrus. 2013. Jejak
Pemikiran Tokoh Pendidikan Islam. Maguoharjo: Ar Ruzz Media.
Nizar, Syamsul.
2002. Filsafat
Pendidikan Islam. Jakarta:
Ciputat Press.
Suharto, Toto.
2011. Filsafat
Pendidikan Islam. Yogyakarta:
Arruz media.
Uwendi. 2003.
Sejarah dan
Pemikiran Pendidikan Islam. Jakarta: PT
Raja Grafindo Persada.
[1] Hasyim asy’ari, Adab Ta’lim wa Muta’alim, (Jombang: Turats al islamy, 1415), hlm.3.
[2] Toto Suharto, Filsafat Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Arruz media, 2011), hlm.311.
[3] Uwendi, Sejarah dan Pemikiran Pendidikan Islam, (Jakarta: PT Raja GrafindoPersada, 2003), hlm.140.
[4] Muhammad Ainun Najib, Islam Sebagai Etika Politik,
Perspektif KH. HAsyim Asy’ari, (Surabaya:
IAIN Sunan Ampel Surabaya, 2007), hlm.212.
[5] Syamsul kurniawan dan Erwin Mahrus, Jejak Pemikiran Tokoh
Pendidikan Islam, (Maguoharjo: Ar Ruzz Media, 2013), hlm.211.
[6] Syamsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Ciputat Press, 2002), hlm.158.
[7] Syamsul Kurniawan dan Erwin Mahruz,
Jejak Pemikiran Tokoh Pendidikan Islam, (Maguwoharjo: Ar Ruz Media, 2013), hlm.214.

0 Komentar