BAB I

PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang

Jombang adalah kota kecil yang tidak henti-hentinya memunculkan sosok tokoh yang sangat berpengaruh di bumi Indonesia Raya. Di kota tersebut telah melahirkan tokoh besar yang mampu mewarnai jalannya NKRI, Beliau adalah K.H Hasyim Asy’ari yang tak lain juga merupakan kakek Gus Dur. Sosok fenomenal Hasyim Asy’ari kenyang pengalaman menyinggahi pesantren di jawa sebelum melanjutkan pendidikannya ke Arab. Setelah kembali dari Arab beliau mendirikan pesantren Tebu Ireng yang terkenal dengan ilmu Haditsnya. Kedalaman ilmu, dan pemikirannya dalam pendidikan sangat brilian, sampai – sampai Kyai di Jawa memberi Gelar dengan Hadratus Syekh artinya Tuan Guru Besar. Hasyim Asy’ari termasuk tokoh utama pendiri lembaga sosial keagamaan terbesar di Indonesia yaitu NU. Organisasi ini bertujuan mempertahankan ajaran Ahlus sunnah Wal jamaah serta tradisi islam.

Kehadiran K.H Hasyim Asy’ari tentunya memberikan pengaruh besar terhadap ajaran Islam di Indonesia. Hal itu dikarenakan pemikiran-pemikiran modern dari K.H Hamsyim Asy’ari memudahkan masyrakat Indonesia dalam mempelajari ajaran Islam. Kali ini akan dibahas bagaimana pemikiran K.H Hasyim Asy’ari di dalam pendidikan agama Islam.

B.   Rumusan Masalah

  1. Bagaimana Biografi K.H Hasyim Asy’ari?
  2. Bagaimana Ide pokok pemikiran hasyim Asy’ari tentang pendidikan?
  3. Apa saja karya-karya dari K.H Hasyim Asy’ari?
  4. Bagaimana Relevansi pemikiran tokoh dengan pendidikan sekarang?

C.   Tujuan

  1. Mengetahui Biografi K.H Hasyim Asy’ari.
  2. Mengetahui Ide pokok pemikiran hasyim Asy’ari tentang pendidikan.
  3. Mengetahui karya-karya dari K.H Hasyim Asy’ari.
  4. Mengetahui Relevansi pemikiran tokoh dengan pendidikan sekarang.

 


BAB II

PEMBAHASAN

A.      Biografi K.H Hasyim Asy’ari

K.H Hasyim Asy’ari dilahirkan di Desa Nggedang, Jombang, Jawa Timur pada hari selasa kliwon tanggal 24 Dzulqaidah 1287 H/25 Juli 1871 Masehi. Nama lengkapnya Muhammad Hasyim Asy’ari Ibn Abd al Wahid Ibn Abd Al halim yang diberi gelar pangeran bonang Ibn Abd Al rahman yang dikenal dengan sebutan Jaka Tingkir Sultan Hadi Wijaya Ibn Abd Allah Ibn Abd Al-Aziz Ibn Abd Al-fattah, Maulana Ishal dari Raden ‘ain Al yaqin yang disebut Sunan Giri.[1]

Ayah dari K.H Hasyim Asy’ari bernama Kyai Asy’ari pendiri Pesantren Keras yang berada 8 km dari Jombang, Kakek K.H Hasyim Asy’ari bernama Kyai Usman, pendiri pesantren Nggedang di Jombang yang didirikan pada 1850-an. Sedangkan buyutnya Kyai Shihah adalah pendiri pesantren Tambak Beras Di Jombang, Dilihat dari silsilah ini dapat diketahui bahwa Kyai Hasyim Asy’ari berasal dari keturunan pesantren yang terkenal.[2]

Beliau mendapatkan pendidikan pertamanya oleh ayahnya yang dipelajarai Membaca Al-Quran.Selanjutnya jenjang pendiidkannya ditempuh di berbagai pesantren. Ia menjadi santri di Monokojo, Probolinggo kemudian pindah ke Ponpes Langitan, Tuban, kemudian pindah lagin Ke bangkalan yang diasuh oleh Kyai Bangkalan. Sebelum Ke Mekkah beliau menjadi santri di Siwalan panji sidoarjo. Di pesantren ini beliau diambil menantu oleh Kysi Ya’qub yaitu dengan menikahi putrinya bernama Khatijah. Tidak lama kemudian mereka pergi ke Mekkah untuk melaksanakan haji dan belajar disana. Setelah melahirkan istrinya meninggal dan disusul oleh anaknya, oleh karenanya beliau kembali ke Tanah Air dan kembali lagi ke Mekkah untuk belajar dan melakukan ibadah haji. Beliau menetap disana selama 7 tahun.

Pada tahun 1899 atau 1900 Masehi Ia kembali lagi ke Indonesia dan mengajar lagi ke Ponpes milik ayahnya, kemudian Beliau mendirikan sebuah pesantren yang bernama Tebu Ireng pada tanggal 6 Pebruari 1906. Tidak lama didirikan Ponpes tersebut menjadi terkenal di Nusantara dan menjadi tempat Nyantri Kader-kader Ulama untuk wilayah Jawa dan sekitarnya.

Aktifitas K.H Hasyim Asy’ari di bidang sosial diantaranya mendirikan organisasi Nahdlatul Ulama bersama para ulama, seperti Syeh Abdul dan Syeh Bisri Samsuri pada tanggal 31 Januari 1926 atau 16 Rajab 1344 H. Organisasi ini didukung oleh para ulama jawa dan komunitas pesantren. Pada awalnya organisasi ini untuk merespon gerakan khalifah dan gerakan kurifikasi itu deikembangkan Rasyid Ridho di Mesir, tetapi pada perkembangannya kemudian organisasi itu melakukan rekontruksi keagamaan yang lebioh umum. Bahkan dewas ini NU berkembang menjadi organisasi terbesar di Indonesia.[3]

Hasyim Asy’ari meninggal pada tanggal 7 Ramadhan 1366 H bertepatan dengan 25 Juli 1947 M di Tebuireng Jombang dalam usia 79 tahun, karena tekanan darah tinggi. Hal ini terjadi setelah beliau mendengar berita dari Jenderal Sudirman dan Bung Tomo bahwa pasukan Belanda di bawah pimpinan Jenderal Spoor telah kembali ke Indonesia dan menang dalam pertempuran di Singosari (Malang) dengan meminta banyak korban dari rakyat biasa. Beliau sangat terkejut dengan peristiwa itu, sehingga terkena serangan stroke yang menyebabkan kematiannya.

B.       Ide Pokok Pemikiran Hasyim Asy’ari Tentang Pendidikan

Dari pemikiran K.H Hasyim Asy’ari tentang pendidikan juga didasari oleh kesadaran akan perlunya literatur yang membahas tentang etika (adab) dalam mencari ilmu pengetahuan. Dalam konteks ini, K.H Hasyim Asy’ari tampaknya berkeinginan bahwa dalam melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan itu disertai oleh perilaku sosial yang santun (Akhlakul Karimah). Ditengarai, bermukimnnya KH. Hasyim As’ari selama di Makkah telah menumbuhkan semangat perlawanan terhadap kolonialisme. Interaksi sosial yang terjalin antar sesama pelajar dari Jawa khususnya dan daerah jajahan pada umumnya, talah membentuk kesadaran resistensi terhadap kolonialism. KH. Hasyim Asy’ari bukan iintelektual an sich yang bergumul dengan buku dan pesantren, sseperti tercermin dalam beberapa karyanya, tetapi memanfaatkan posisinya sebagai elit keagamaan dalam politik.[4]

Yang melatar belakangi pemikiran K.H Hasyim Asy’ari tentang pendidikan islam yang tercantum dalam kitab Adab Ta’lim wa Muta’alim yaitu situasi pada saat itu mengalami perubahan dan perkembangan yang pesat dari kebiasaan lama (tradisional) yang sudah mapan dalam bentuk baru ke dalam bentuk baru (modern) akibat dari pengaruh sistem pendidikan barat di Indonesia.

Pendidikan pesantren mengalami kemajuan yang pesat sampai dengan akhir perang Diponegoro (1785-1855). Setelah itu, pendidikan Islam, meski secara kuantitas naik tapi secara kualitas mengalami kemunduran. Menurunnya kualitas itu antara lain karena pesantren selama masa perang dianggap sebagai kubu perang gerilya. Posisis ini terang sangat membahayakan pemerintah penjajah Belanda. Keadaan ini semakin diperparah ketika pada 1888 terjadi pemberontakan para kyai dan petani di Cilegon yang dipimpin pleh Kyai Wasir.

Pemberontakan itu menjalar ke berbagai pelosok Jawa Barat. Sejak itu semua kegiatan pesantren diawasi oleh Belanda, bahkan penjajah melarang masuknya kitab-kitab agama tertentu dari luar negeri. Sejak itu pula penjajah menugaskan orientalis sejati, Snouck Hurgronye, untuk menyelidiki jemaah haji. Menurut Belanda, setiap pemberontakan berawal dari orang-orang yang naik haji dan pimpinan pesantren yang dianggap memiliki basis massa yang kuat. Berikutnya pada 1905 keluar ordonansi yang berisi ketentuan pengawasan terhadap perguruan yang hanya mengajarkan agama Islam.

Akibat itu semua terjadilah penurunan kualitas pesantren disamping karena minimnya literature juga karena renggangnya hubungan antar ulama pesantren. Kondisi seperti itu jelas tidak bias melahirkan kader-kader pemimpin dari pesantren yang berpandangan luas. Karena itu butuh pembaharuan, dalam kondisi seperti itulah muncul Kyai Hasyim Asy’ari lewat pesantrennya, Tebuireng. Hal lain yang perlu dicatat adalah, masa ketika Hasyim Asy’ari belajar di Makkah adalah masa dimana faham Wahabi mendapatkan tempatnya di hati penguasa Saudi Arabia, Raja Abdul Aziz bin Saud. Penguasa ini tidak memberi kebebasan bagi pengikut madzab yang lain.

C.      Karya-Karya Dari K.H Hasyim Asy’ari

Karya – karya beliau diantaranya adalah Adab Alim wa Al Muta’alim Fima Yahtaj ila Al Muta’alim fi Ahwal Ta’allum wa Ma Yataqoff, Ziyadat Ta’liqot, Radda fiha Mandhumat Al Syeikh, Al Tanbihat Al Wajibat li Man Yatsnha Al Maulid Al Munkarat, Al Risalat Al Jami’at, Sharh fiha Ahmaal Al Mawta wa Ashirath Al Sa’at Ma’bayan Mafhum Al Sunah wa Al Bid’ah. Untuk menuangkan pemikirannya tentang pendidikan Islam, K.H. Hasyim Asy’ari telah merangkum sebuah kitab karangannya yang berjudul Adab al-‘alim waal-muta’allim. Kitab Adab al-‘alim wa al-muta’allim merupakan kitab yang berisi tentang konsep pendidikan. Kitab ini selesai disusun hari Ahad pada tanggal 22 Jumadil al-Tsani tahun 1343 H. Kitab tersebut terdiri dari delapan Bab yaitu:

  1. Keutamaan ilmu dan ilmuan serta keutamaan belajar mengajar.
  2. Etika yang harus diperhatikan dalam belajar mengajar.
  3. Etika seorang murid terhadap guru.
  4. Etika murid terhadap pelajaran dan hal-hal yang harus dipedomani bersama guru.
  5. Etika yang harus dipedomani seorang guru.
  6. Etika guru ketika akan mengajar.
  7. Etika guru terhadap murid-muridnya.
  8. Etika terhadap buku, alat unutuk memperoleh pelajaran dan hal-hal yang berkaitan dengannya.[5]

Konsep pendidikan beliau, meliputi: Tujuan Pendidikan, Konsep pendidik, Konsep Peserta Didik, Kurikulum, Metode, dan Evaluasi Pendidikan.

  1. Tujuan Pendidikan

Terdapat dua hal yang harus diperhatikan dalam menuntut ilmu, pertama bagi murid, hendaknya ia berniat suci menuntut ilmu, jangan sekali-kali berniat untuk hal-hal duniawi dan jangan melecehkan atau menyepelekan. Kedua, bagi guru, dalam mengajarkan ilmu hendaknya ia meluruskan niatnya terlebih dahulu, tidak mengharapkan materi semata-mata.

K.H. Hasyim Asy’ari menyebutkan bahwa tujuan utama ilmu pengetahuan adalah mengamalkannya. Dalam hal belajar, yang menjadi titik penekanannya adalah pada pengertian bahwa belajar itu merupakan ibadah untuk mencari ridha Allah yang mengantarkan seseorang untuk memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat. Karenanya, belajar harus diniati untuk mengembangkan dan melestarikan nilai-nilai Islam, bukan sekadar menghilangkan kebodohan. Dapat disimpulkan bahwa tujuan pendidikan menurut K.H Hasyim Asy’ari adalah:

a.    Menjadikan insan yang bertujuan mendekatkan diri pada Allah SWT

b.    Menjadi Insan yang bertujuan mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.[6]

  1. konsep pendidik

Menurut K.H Hasyim Asy’ari etika seorang guru, adalah:

a.    Etika seorang guru

1) Senantiasa mendekatkan diri pada Allah

2) Takut pada Allah, tawadhu’, zuhud dan khusu’

3) Bersikap tenang dan senantiasa berhati-hati

4) Mengadukan segala persoalan pada Allah

5) Tidak menggunakan ilmunya untuk meraih dunia

b.    Etika guru dalam mengajar

1) Jangan mengajarkan hal-hal yang syubhat

2) Mensucikan diri, berpakaian sopan dan memakai wewangian

3) Berniat beribadah ketika mengajar, dan memulainya dengan do’a

4) Biasakan membaca untuk menambah ilmu

5) Menjauhkan diri dari bersenda gurau dan banyak tertawa

c.    Etika guru bersama murid

1) Berniat mendidik dan menyebarkan ilmu

 2) Menghindari ketidak ikhlasan

3) Mempergunakan metode yang mudah dipahami anak

4) Memperhatikan kemampuan anak didik

5) Tidak memunculkan salah satu peserta didik dan menafikan yang lain.

d.    konsep peserta didik

Menurut K.H Hasyim Asy’ari, peserta didik harus memiliki etika sebagai berikut:

1)   Etika belajar

·       Membersihkan hati dari berbagai gangguan keimanan dan keduniaan

·       Membersihkan niat, tidak menunda-nunda kesempatan belajar, bersabar dan qanaah

·       Pandai mengatur waktu

·       Menyederhanakan makan dan minum

·       Berhati-hati (wara’).

2)   Etika seorang murid terhadap guru

·       Hendaknya selalu memperhatikan dan mendengarkan guru

·       Memilih guru yang wara’

·       Memuliakan dan memperhatikan hak guru

·       Bersabar terdapat kekerasan guru

·       Dengarkan segala fatwa guru dan jangan menyela    pembicaraannya

·       Gunakan anggota kanan bila menyerahkan sesuatu pada guru.

3)   Etika murid terhadap pelajaran

4)   Memperhatikan ilmu yang bersifat fardhu ‘ain

5)   Berhati-hati dalam menanggapi ikhtilaf para ulama

6)   Mendiskusikan dan menyetorkan hasil belajar pada orang yang    dipercaya

7)   Senantiasa menganalisa dan menyimak ilmu

8)   Bila terdapat hal-hal yang belum dipahami hendaknya ditanyakan.

  1. Kurikulum

Kurikulum atau materi yang diterapkan Hasyim Asy’ari meliputi kajian tafsir Al-Qur’an, hadits, ushuluddin, kitab-kitab fiqih madzhab, nahwu, shorof dan materi yang membahas tentang tasawuf.

  1. Metode

Sistem individual yang ditetapkan dalam metode wetonan dan sorogan, metode hafalan, Muhawarat, dan metode muzaharat, merupakan istilah-istilah lain metode yang diterapkan pada Islam klasik seperti al-sama’, al-imla’, al-ijaza’, mudzakara, dan munazara. Bahkan penekanan aspek hapalan dalam penerapan metode-metode diatas yang menjadi ciri khas pendidikan Islam klasik, juga menjadi tipikal pesantren Tebuireng dan pesantren salaf atau tradisional. Kesimpulannya bahwa K.H Hasyim Asy’ari dalam menggunakan metode pengajarannya lebih menitik beratkan pada metode hafalan, sebagaimana pada umumnya menjadi karakteristik dari tradisi Syafi’iyah dan juga menjadi salah satu ciri umum dalam tradisi pendidikan Islam. Dalam menentukan pilihan metode pembelajaran sangat erat kaitannya dengan tujuan, materi maupun situasi lingkungan pendidikan dimana setiap unsur mempunyai karakteristik yang berbeda.

  1. Evaluasi

Mengenai evaluasi, menurut pemikiran K.H Hasyim Asy’ari memang dalam proses evaluasi tidak menggunakan sistem standarisasi nilai, namun jika diteliti sistem pendidikan islam sebetulnya proses itu sudah menilai dari segala aspek yaitu aspek kognitif, afektif dan psikomotorik.[7]

D.      Relevansi Pemikiran Tokoh Dengan Pendidikan Sekarang

Beliau mengemukakan bahwasannya pendidikan islam merupakan sarana untuk mencapai kemanusiaannya sehingga manusia dapat menyadari siapa sesungguhnya penciptanya dan untuk apa diciptakan. Pendidikan tidak hanya dipahami sebagai pendidikan yang berlabel islam seperti madrasah-madrasah atau Pondok-pondok pesantren, akan tetapi pendidikan islam mencakup semua proses pemikiran, penyelenggaraan dan tujuan

Relevansi pemikiran K.H Hasyim Asy’ari terhadap pendidikan sekarang nampak pada munculnya lembaga yang dinaungi panji-panji islam atau lebih dikenal dengan sebutan Pondok Pesantren.Pesantren sampai sekarang masih menjadi satu-satunya lembaga yang diharapkan. Konsep pendidikan oleh K.H Hasyim Asy’ari tidak hanya berupa teori-teori saja, namun juga mempraktikkannya. Dalam aktivitas kependidikannya walaupun pemikiran beliau masih bersifat tradisionalis, tetapi pemikiran beliau tetap sesuai dan masih relevan diterapkan pada zaman sekarang terutama dalam beberapa aspek, antara lain: di dalam tujuan pendidikan, materi dan dasar yang digunakan yaitu al-Qur’an dan Hadits.

Pemikiran beliau tentang perpaduan antara pesantren yang tradisionalis dengan sekolah barat. Hal tersebut menunjukkan bahwa beliau merupakan tokoh yang berusaha memelihara tradisi turun menurun dari pondok pesantren juga mengembangkan pendidikan keilmuan di Pondok Pesantren. Hingga sekarang, pendidikan islam berkembang dari model pesantren tradisional, pesantren modern, madrasah dan sekolah islam. Dari tujuan pendidikan menurut beliau bertujuan untuk mencetak lulusan siswa menjadi seorang ulama yang intelektual dan intelek yang islami. Dalam konsep pendidik menurut beliau bahwa pendidik itu harus memiliki ilmu yang mumpuni, kewibawaan dan keteladaan, tekun, ulet, bertekad menyebarluaskan ilmu, kebenaran demi kebaikan, ikut berbaur dengan masyarakat. Dalam mengajar seorang guru harus memiliki niat yang tulus dan ikhlas dalam menyampaikan ilmu kepada peserta didik. Ikhlas disini adalah pendidik harus bekerja secara profesional. Yaitu ahli sesuai denga bidangnya. Guru harus tegas dan jelas dalam menyampaikan ilmu, tidak menjadikan bingung dan ragu peserta didiknya, sehingga dapat memahamkan ilmu bagi mereka.

Konsep peserta didik menurut beliau memiliki tugas dan tanggung jawab terhadap guru dan dalam belajarnya. Dalam menuntut ilmu peserta didik hendaknya berniat suci menuntut ilmu dan untuk mengamalkannya, mengembangakan dan melestarikan nilai-nilai islam bukan sekedar menghilangkan kebodohan. Niatnya demi mencari ridho Allah. Dalam organisasinya beliau juga mendirikan Lembaga Pendidikan Ma’arif atau yang lebih dikenal yaitu LP Ma’arif. Lembaga tersebut fungsinya sebagai pelaksana kebijakan – kebijakan pendidikan dan keuangan, yang ditingkat pengurus besar, pengurus wilayah, pengurus cabang dan pengurus majelis wakil cabang. LP Ma’arif NU dalam perjalanannya secara aktif mengembangkan pendidikan di Indonesia. Secara institusional. Ma’arif juga mendirikan satuan – satuan pendidikan berupa sekolah dan madrasah, mulai tingkat dasar, menengah, hingga Perguruan Tinggi. Hingga saat ini tercatat tidak kurang dari 6000 lembaga pendidikan yang tersebar di seluruh pelosok tanah air bernaung di bawahnya, mulai dari TK/RA, SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA. Seperti TK/RA Muslimat Nu, SMP/MTs Ma’arif Nu, SMA/SMK/MA Ma’arif Nu dan perguruan tinggi seperti Universitas Sunan Giri Malang.


BAB III

PENUTUP

A.      Kesimpulan

H Hasyim Asy’ari dilahirkan di Desa Nggedang,Jombang,Jawa Timur pada hari selasa kliwon tanggal 24 Dzulqaidah 1287 H/25 Juli 1871 Masehi.Nama lengkapnya Muhammad Hasyim Asy’ari Ibn Abd al Wahid Ibn Abd Al halim yang diberi gelar pangeran bonang Ibn Abd Al rahman yang dikenal dengan sebutan Jaka Tingkir Sultan Hadi Wijaya Ibn Abd Allah Ibn Abd Al-Aziz Ibn Abd Al-fattah, Maulana Ishal dari Raden ‘ain Al yaqin yang disebut Sunan Giri. Pemikiran pendidikan K.H Hasyim Asy’ari meliputi tujuan pendidikan, konsep pendidik, konsep peserta didik, kurikulum, metode pembelajaran, dan evaluasi pendidikan.

Diantara karya – karya K.H Hasyim Asy’ari adalah Adab Alim wa Al Muta’alim Fima Yahtaj ila Al Muta’alim fi Ahwal Ta’allum wa Ma Yataqoff, Ziyadat Ta’liqot, Radda fiha Mandhumat Al Syeikh, Al Tanbihat Al Wajibat li Man Yatsnha Al Maulid Al Munkarat, Al Risalat Al Jami’at, Sharh fiha Ahmaal Al Mawta wa Ashirath Al Sa’at Ma’bayan Mafhum Al Sunah wa Al Bid’ah.

Relevansi Pemikiran beliau adalah Pemikiran beliau tentang perpaduan antara pesantren yang tradisionalis dengan sekolah barat. Hal tersebut menunjukkan bahwa beliau merupakan tokoh yang berusaha memelihara tradisi turun menurun dari pondok pesantren juga mengembangkan pendidikan keilmuan di Pondok Pesantren.Dalam menuntut ilmu peserta didik hendaknya berniat suci menuntut ilmu dan untuk mengamalkannya, mengembangakan dan melestarikan nilai-nilai islam bukan sekedar menghilangkan kebodohan. Niatnya demi mencari ridho Allah.

B.       Saran

Sebaiknya setelah mempelajari tentang pemikiran modern K.H Hasyim Asy’ari masyarakat dapat menjadikan setiap ajaran dari beliau dalam menambah ilmu pengetahuan khususnya dalam ajaran Islam. Selain itu dapat menerapkan ilmu pengetahuan dari pemikiran K.H Hasyim Asy’ari. Sehingga dapat terus menerapkan ajaran Islam di masa modern.


DAFTAR PUSTAKA

Ainun, Muhammad Najib. 2007. Islam Sebagai Etika Politik, Perspektif KH. HAsyim Asy’ari. Surabaya: IAIN Sunan Ampel Surabaya.

 

Asy’ari, Hasyim. 1415. Adab Ta’lim wa Muta’alim. Jombang: Turats al islamy.

 

Kurniawan, Syamsul dan Erwin Mahrus. 2013. Jejak Pemikiran Tokoh Pendidikan Islam. Maguoharjo: Ar Ruzz Media.

 

Nizar, Syamsul. 2002. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Ciputat Press.

 

Suharto, Toto. 2011. Filsafat Pendidikan Islam. Yogyakarta: Arruz media.

 

Uwendi. 2003. Sejarah dan Pemikiran Pendidikan Islam. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

 



[1] Hasyim asy’ari, Adab Ta’lim wa Muta’alim, (Jombang: Turats al islamy, 1415), hlm.3.

[2] Toto Suharto, Filsafat Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Arruz media, 2011), hlm.311.

[3] Uwendi, Sejarah dan Pemikiran Pendidikan Islam, (Jakarta: PT Raja GrafindoPersada, 2003), hlm.140.

[4] Muhammad Ainun Najib, Islam Sebagai Etika Politik, Perspektif KH. HAsyim Asy’ari, (Surabaya: IAIN Sunan Ampel Surabaya, 2007), hlm.212.

[5] Syamsul kurniawan dan Erwin Mahrus, Jejak Pemikiran Tokoh Pendidikan Islam, (Maguoharjo: Ar Ruzz Media, 2013), hlm.211.

[6] Syamsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Ciputat Press, 2002), hlm.158.

[7] Syamsul Kurniawan dan Erwin Mahruz, Jejak Pemikiran Tokoh Pendidikan Islam, (Maguwoharjo: Ar Ruz Media, 2013), hlm.214.