BAB I

PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang

Pendidikan merupakan salah satu hal yang paling penting bagi kehidupan manusia. Melalui Pendidikan seseorang akan mampu mengembangkan kampuan dan mengetahui berbagai hal. Pendidikan juga dapat dijadikan sebagai jembatan bagi seseorang yang ingin mencapai cita-citanya dalam hidup. Semakin tinggi Pendidikan seseorang juga akan semakin tinggi kualitas berfikirnya. Agama Islam menjadi salah satu agama yang menjadi mayoritas di Indonesia. Hal itu dapat dilihat dari begitu banyaknya orang muslim yang tersbar di seluruh Indonesia.

Di Indonesia sendiri pendidikan menjadi salah satu hal yang menjadi pokok pemabahasan yang mendalam. Hal itu dilakukan mengingat banyaknya warga negara Indonesia yang tidak mampu melanjutkan sekolah. Setelah sedikit dibahas mengenai mayoritas orang Indonesia orang muslim dan pendidikan menjadi salah satu masalah di Indonesia. Oleh karena itu makalah ini akan menbahas tentang ayat menjadi landasan pendidikan dalam Islam.

B.       Rumusan Masalah

1.         Bagamana tafsir al-qur’an surah at-tahrim ayat 6?

2.         Bagaimana tafsir al-qur’an surah luqman ayat 12-16?

C.      Tujuan

1.         Mengetahui tafsir al-qur’an surah at-tahrim ayat 6.

2.         Mengetahui tafsir al-qur’an surah luqman ayat 12-16.


BAB II

PEMBAHASAN

A.    Tafsir Al-Qur’an Surah At-Tahrim Ayat 6

1.      Al-Qur’an Surah At-Tahrim Ayat 6

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

2.      Terjemahan Al-Qur’an Surah At-Tahrim Ayat 6

Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasulNya, jauhkanlah diri kalian dan keluarga kalian dari neraka dengan meninggalkan kemaksiatan dan melaksanakan ketaatan. Neraka yang bahan bakarnya adalah manusia (kafir) dan batu-batu (berhala yang disembah). Neraka itu dijaga oleh malaikat-malaikat yang jumlahnya ada 19 malaikat yang memiliki sikap kasar, badannya sangat keras. Mereka tidak pernah melakukan kemaksiatan terhadap perintah Allah sebelumnya dan mengerjakan apa yang diperintahkan kepadanya di masa yang akan datang”.[1]

3.      Tafsir Al-Qur’an Surah At-Tahrim Ayat 6

Menurut tafsir Al-Wajiz karya Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir negeri Suriah menjelaskan wahai orang-orang yang membenarkan Allah dan Rasul-Nya serta beramal dengan syariat Allah; Ambillah perkara untuk menjaga diri-diri kalian dan keluarga-keluarga kalian dari kemarahan dan kebencian Allah dengan mengerjakan perintah-perintah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Ketahuilah bahwa balasan bagi yang membangkang dan melanggar perintah-perintah Allah adalah masuknya kalian ke dalam neraka. Dan neraka ini bahan bakarnya adalah kayu api dan manusia yang menyala-nyala, sebagaimana juga di dalam neraka ini ada malaikat yang kuat dan bengis hatinya yang akan mengadzab penghuni nereka, mereka para malaikat tidak bermaksiat kepada apa yang Allah perintahkan dari segala kondisinya; Bahkan mereka melaksanakan perintah Allah dengan tanpa nanti-nanti.[2]

Berdasarkan tafsir di atas menjelaskan bahwa Allah memerintahakan hambanya untuk melaksanakan segala perintahnya dengan sesuai ajaran Islam. Selain itu juga diperintahkan untuk menjaga diri dan keluarga agar terhindar dari kemarahan Allah. Oleh karena itu untuk terhindar dari semua itu seorang hamba harus menjauhi larangan dan melaksanakan segala perintahnya. Salah satu cara menghindari kemarahan Allah yaitu dengan cara memberikan pengajaran tentang ilmu agama.

4.      Penerapan Al-Qur’an Surah At-Tahrim Ayat 6 dalam Pendidikan

Surah At-Tahrim ayat 6 menjelaskan tentang perintah Allah agar seseorang menjaga dirinya dan keluarganya agar terhindar dari api neraka. Hal itu dapat dilakukan dengan cara melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah. Sebelum seseorang dapat melaksanakan dan menjauhi larangan dari Allah tentu seseorang tidak akan mengetahui apa saja yang diperintahkan dan apa saja yang dilarang. Oleh karena itu sangat pentingnya Pendidikan (Pendidikan agama) dalam memberikan pengetahuan tentang keagamaan kepada setiap anggota keluarga. Sehingga setiap anggota keluarga tahu apa saja yang dilarang dan apa saja diperintahkan.

Secara kontekstual ayat tersebut lebih menekankan kepada seorang muslim agar menuntut dan mengajarkan ilmu agama kepada setiap anggota keluarganya. Hal itu dilakukan agar setiap anggota keluarganya dapat membedakan yang baik dan buruk yang mana perintah dan larangan. Sehingga sampai pada tujuan utama ayat tersebut terhindarnya seorang individu dan keluarganya dari kemarahan Allah dan tidak dimasukan ke dalam neraka.

B.     Tafsir Al-Qur’an Surah Luqman Ayat 12-16

1.      Al-Qur’an Surah Luqman Ayat 12-16

a.       Ayat 12

وَلَقَدْ اٰتَيْنَا لُقْمٰنَ الْحِكْمَةَ اَنِ اشْكُرْ لِلّٰهِ ۗ  وَمَنْ يَّشْكُرْ فَاِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهٖ ۚ  وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ  حَمِيْدٌ

b.      Ayat 13

وَاِذْ قَالَ لُقْمٰنُ لِا بْنِهٖ وَهُوَ يَعِظُهٗ يٰبُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللّٰهِ  ۗ  اِنَّ الشِّرْكَ لَـظُلْمٌ عَظِيْمٌ

c.       Ayat 14

وَوَصَّيْنَا الْاِنْسٰنَ بِوَالِدَيْهِ ۚ  حَمَلَتْهُ اُمُّهٗ وَهْنًا عَلٰى وَهْنٍ وَّفِصٰلُهٗ فِيْ عَامَيْنِ اَنِ اشْكُرْ لِيْ وَلِـوَالِدَيْكَ ۗ  اِلَيَّ الْمَصِيْرُ

d.      Ayat 15

وَاِنْ جَاهَدٰكَ عَلٰۤى اَنْ تُشْرِكَ بِيْ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِى الدُّنْيَا مَعْرُوْفًا ۖ  وَّاتَّبِعْ سَبِيْلَ مَنْ اَنَابَ اِلَيَّ   ۚ  ثُمَّ اِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَاُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ

e.       Ayat 16

يٰبُنَيَّ اِنَّهَاۤ اِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِيْ صَخْرَةٍ اَوْ فِى السَّمٰوٰتِ اَوْ فِى الْاَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللّٰهُ  ۗ  اِنَّ اللّٰهَ لَطِيْفٌ خَبِيْرٌ

2.      Terjemahan Al-Qur’an Surah Luqman Ayat 12-16

a.       Ayat 12

"Dan sungguh, telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu, Bersyukurlah kepada Allah! Dan barang siapa bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barang siapa tidak bersyukur (kufur), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya, Maha Terpuji."[3]

b.      Ayat 13

"Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, Wahai anakku! Janganlah engkau menyekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar."

c.       Ayat 14

"Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu."

d.      Ayat 15

"Dan jika keduanya memaksamu untuk menyekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau menaati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian hanya kepada-Ku tempat kembalimu, maka akan Aku beri tahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan."

e.       Ayat 16

"(Luqman berkata), Wahai anakku! Sungguh, jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di bumi, niscaya Allah akan memberinya (balasan). Sesungguhnya Allah Maha Halus, Maha Mengetahui."

3.      Tafsir Al-Qur’an Surah Luqman Ayat 12-16

a.       Ayat 12

Menurut Wahbah az-Zuhaili dalam karyanya tafsir Al-Wajiz Sungguh Allah telah mengkaruniakan kepada hamba-Nya yang bernama Lukman serta memberikan kepadanya hikmah (yaitu ilmu yang bermanfaat dan amalan shalih). Kemudian Allah memerintahkan kepadanya agar bersyukur atas kenikmatan yang besar ini, sebagai pengagungan atas nikmat tersebut, dan agar Allah tambahkan nikmat itu. Maka barangsiapa yang bersyukur maka rasa syukur itu akan kemabali kepadanya, dan barangsiapa yang mengingkari dan kufur, maka tidak ada yang membahayakan kecuali dirinya sendiri. Allah yang maha tinggi, maha kaya atas seluruh makhluk dan tidak membutuhkan rasa syukur mereka, Dialah yang maha suci, terpuji atas apa yang Dia kuasai dan tetapkan, maha terpuji atas apa yang Dia telah ciptakan dengan indah. Jumhur ulama mengatakan bahwa Lukman bukanlah nabi, dia adalah seorang ahli hikmah dan tabib, Allah kisahkan akan hal itu pada selain surat ini. Allah berikan kepadanya hikmah dan penyebutan yang baik. Lukman memberikan wasiat kepada anaknya wasiat yang indah, dengan apa yang tidaklah manusia akan menirunya dan beramal dengan wasiat tersebut kecuali pasti akan menang dna berhasil di dunia dan akhirat.[4]

b.      Ayat 13

Menurut Kementerian Agama Saudi Arabia dalam Tafsir Al-Muyassar Ingatlah -wahai Rasul- tatkala Lukman berkata kepada anaknya, dan dia menginginkan anaknya mendapat kebaikan dan menghindarkannya dari keburukan, "Wahai anakku! ـanganlah engkau menyembah bersama Allah makhluk selain-Nya, sesungguhnya menyembah sesembahan lain selain Allah adalah kezaliman yang besar terhadap jiwa dengan melakukan dosa terbesar yang mengakibatkan kekal di dalam Neraka.[5]

c.       Ayat 14

Menurut Wahbah az-Zuhaili dalam karyanya Tafsir Al-Wajiz, Allah mengabarkan bahwasanya Allah mewajibkan kepada manusia dan mewasiatkan dengan wasiat yang besar yaitu agar berbuat baik kepada kedua orang tua dan berbuat ihsan kepada keduanya. Kemudian Allah menjelaskan akan sebab tersebut, yaitu karena sebab ibnya mengandungnya dalam perutnya, dengan bertambahnya umur kehamilannya, maka bertambah pula keletihannya, lemah dan terus lemah seiring dengan besarnya kehamilannya. Kemudian Allah menjelaskan bahwa penyapihan anak tersebut dari menyusui terjadi dalam dua tahun. Kemudian Allah memerintahkan agar manusia yang telah dilahirkan ini bersyukur dengan menegakkan peribadatan kepada Allah dan menegakkan hak-hak kepada kedua orang tuanya dengan berbuat baik kepada keduanya serta ihsan dengan segala macam bentuknya. Ketahuilah, bahwasanya hanyalah kepada Allah tempat kembali dan Allah akan bertanya akan wasiat ini apa telah dilaksanakan Ataukah diabaikan dan dilalaikan.[6]

d.      Ayat 15

Menurut tafsir An-Nafahat Al-Makkiyah karya Syaikh Muhammad bin Shalih asy-Syawi Yakni jangan kamu kira bahwa menaati orang tua yang menyuruh berbuat syirk termasuk berbuat ihsan kepada keduanya, karena hak Allah harus didahulukan atas hak semua manusia. Allah Subhaanahu wa Ta'aala tidak mengatakan, “Maka durhakailah kedua orang tua, “ tetapi mengatakan, “maka janganlah engkau menaati keduanya,” karena berbuat baik harus tetap dilakukan kepada kedua orang tua, tetapi ketika kedua orang tua menyuruh kufur dan maksiat, seperti berbuat syirk, maka tidak boleh ditaati.[7]

Mereka ini adalah orang-orang yang beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir dan qadar, lagi berserah diri dan kembali kepada Tuhannya. Mengikuti jalan mereka adalah menempuh jalan mereka ketika kembali kepada Allah, yaitu dengan menarik hati lalu badan untuk mengerjakan perbuatan yang diridhai Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya. Firman-Nya, “Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku.” Terdapat dalil perintah mengikuti para sahabat, karena mereka adalah orang-orang yang sangat semangat sekali kembali kepada Allah, terutama para khalifah rasyidin radhiyallahu 'anhum, dan ayat ini juga menunjukkan bahwa ucapan mereka (para sahabat) adalah hujjah. Baik yang taat maupun yang bermaksiat. Karena tidak ada satu pun amalmu yang luput dari pantauan Allah, dan selanjutnya Dia akan memberikan balasan.

e.       Ayat 16

Menurut Tafsir Al-Muyassar karya Kementerian Agama Saudi Arabia “Wahai anakku! Sesungguhnya keburukan dan kebaikan itu meski kecil seperti beratnya biji sawi dan berada di dalam batu yang tidak diketahui oleh seorang pun, atau berada di tempat manapun di langit atau di bumi, sesungguhnya Allah akan mendatangkannya pada hari Kiamat lalu membalaskannya kepada hamba. Sesungguhnya Allah Maha lembut terhadap hamba-hamba-Nya dan Maha Mengetahui perihal mereka, tidak ada sesuatu pun dari urusan mereka yang luput dari-Nya.[8]

4.      Penerapan tafsir al-qur’an surah luqman ayat 12-16 dalam Pendidikan

Pada Al-Qur’an surah lukman ayat 12-16 menceritakan tentang seorang hamba Allah yang bernama lukman yang dikarunia dengan ilmu bermanfaat dan amalan sholeh. Kemudian Allah menyuruhnya untuk bersyukur atas segala yang telah diberikan Allah. Selain itu Allah juga memerintahkan kepada lukman untuk mendidik anaknya dan mengajarkan berbagai hal. Secara kontekstual dalam pendidikan ayat tersebut menekankan agar seorang hamba belajar mensyukuri atas apa yang telah Allah berikan. Selain itu ayat tersebut juga menjadi landasan bahwa pentingnya pendidikan sehingga seorang ayah harus mendidikan anaknya sebaik mungkin.

 


BAB III

PENUTUP

A.    Kesimpulan

Tafsir ayat tentanf pendidikan yang telah dijelaskan di atas dapat dketahui bahwa pendidikan dalam Islam sangat dianjurkan dan sangat penting. Hal itu dilakukan agar dapat memberikan pengetahuan kepada seluruh umat Islam bagaimana seseorang dapat menjalan segala perintah dan larangan dari Allah. Sehingga pada akhirnya pendidikan menjadi penentu seseorang apakah yang dipelajarinya selama hidup dapat menghantarkannya ke surga atau neraka.

B.     Saran

Sebaiknya sebagai seorang muslim harusnya melaksanakan pendidikan setinggi mungkin. Pendidikan yang terpenting yaitu adalah pendidikan agama hal itu dilakukan agar dapat menjadi bekal dalam kehidupan sehari-hari dalam melaksanakan perintah agama dan menjauhi larangan agama. Selain itu jelas perintah kepada hamba untuk menuntut ilmu oleh karena itu sebaiknya setelah mendalami mata kuliah ini setiap mahasiswa lebih bersemangat dalam menuntut ilmu.

DAFTAR RUJUKAN

 

Kementrian Agama RI. 2019. Al-Quran dan Terjemahannya. Banten: Forum Yayasan Al-Qur’an.

 

https://tafsirweb.com/11010-quran-surat-at-tahrim-ayat-6.html

 

https://tafsirweb.com/7496-quran-surat-luqman-ayat-12.html 

 

https://tafsirweb.com/7497-quran-surat-luqman-ayat-13.html

 

https://tafsirweb.com/7498-quran-surat-luqman-ayat-14.html

 

https://tafsirweb.com/7499-quran-surat-luqman-ayat-15.html

 

https://tafsirweb.com/7500-quran-surat-luqman-ayat-16.html                                           

 

 



[1] Kementrian Agama RI, Al-Quran dan Terjemahannya, (Banten: Forum Yayasan Al-Qur’an, 2019), cet. XIV, hlm.560.

[3] Kementrian Agama RI, Al-Quran dan Terjemahannya, (Banten: Forum Yayasan Al-Qur’an, 2019), cet. XIV, hlm.412.