BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Indonesia merupakan salah
satu negara yang memiliki berbagai ras, suku, agama, dan budaya. Tentunya hal
itu menjadi tantangan diberbagai bidang. Salah satu bidang yang memiliki
tantangan yang cukup berat adalah bidang pendidikan. Mengingat pendidikan
merupakan wadah bagi setiap manusia untuk menuntut ilmu. Sehingga menuntut
tenaga pengajar untuk berusaha memberikan pemahaman agar terciptanya rasa
saling menghargai bagi setiap murid.
Pembelajaran yang memiliki
peran dalam melaksanakan pengajaran adalah pendidikan agama Islam. Mengingatnya
beragamnya budaya yang ada di Indonesia harus membuat guru pendidikan agama Islam
harus berperan aktif dalam kelancaran pendidikan. Oleh karena itu, akan dibahas
mengenai pendekatan yang dilakukan dalam pendidikan agama Islam dalam menghadapi
keberagaman budaya atau multicultural.
B. Rumusan Masalah
- Apa pengertian pendekatan pendidikan agama
Islam?
- Apa definisi pendekatan pendidikan agama Islam
multikultural?
- Apa saja macam-macam pendekatan pendidikan agama
Islam?
C. Tujuan
- Mengetahui pengertian
pendekatan pendidikan agama Islam.
- Mengetahui definisi pendekatan pendidikan agama Islam multikultural.
- Mengetahui macam-macam
pendekatan pendidikan agama Islam.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Pendekatan
Pendidikan Agama Islam
H.M.
Habib Thaha mendefiniskan pendekatan adalah cara pemprosesan subyek atas obyek
untuk mencapai tujuan. Pendekatan ini juga berarti cara pandang terhadap sebuah
obyek permasalahan, dimana cara pandang tersebut adalah cara pandang yang
luas. Sedangkan Oteng Sutisna, lebih praktis dalam memahami
pengertian ”pendekatan”. Pendekatan adalah apa yang hendak ia kerjakan dan
bagaimana ia akan mengerjakan sesuatu.[1]
Penggunaan
istilah ”pendekatan” memiliki arti yang berbeda-beda tergantung kepada obyek
apa yang akan menjadi tema sentral perencanaan kerja dan kajian pemikiran yang
akan dikembangkan. Dalam konteks belajar, approach dipahami sebagai
segala cara atau strategi yang digunakan peserta didik untuk menunjang
efesiensi dan efektifitas dalam proses pembelajaran tertentu. Dengan demikian
sesungguhnya approach adalah seperangkat langkah operasional yang
direkayasa sedemikian rupa, untuk memecahkan masalah atau untuk mencapai tujuan
belajar tertentu. Approach dalam pengertian tersebut membutuhkan
pandangan falsafi (mendasar) terhadap subyek materi yang diajarkan,
selanjutnya akan melahirkan metode mengajar yang dijabarkan dalam bentuk tehnik
penyajian pembelajaran.
Pendidikan
dapat dikatakan sebagai ilmu yang sistematis atau pengajaran yang berhubungan
dengan prinsip-prinsip dan metode-metode pengajaran, pengawasan dan bimbingan
murid didalam arti luas digantikan dengan istilah pendidikan.[2] Sedangkan, agama Islam
secara etimologis dapat diartikan dengan kekuasaan, hukum, syara', undang-undang
atau penghisaban. Dengan kata lain, Islam adalah tatanan Ilahi yang selain dijadikan
oleh Allah SWT sebagai penutup segala syari'at, juga sebagai tatanan kehidupan
yang paripurna dan meliputi seluruh aspeknya.[3]
Sedangkan
Zakiyah Darajat menejelaskan pendidikan agama Islam adalah suatu usaha untuk
membina dan mengasuh peserta didik agar senantiasa dapat memahami ajaran Islam
secara menyeluruh. Lalu menghayati tujuan ajarannya yang pada akhirnya dapat
mengamalkan serta menjadikan Islam sebagai padangan hidup.[4] Berdasarkan pengertian
dari pendidikan agama Islam di atas maka dapat disimpulkan bahwa Pendidikan
agama Islam (PAI) adalah suatu usaha pengajaran yang terdiri dari prinsip,
metode, pengawasan, dan bimbingan yang dilakukan dalam proses penyampaian ajaran
agama Islam. PAI juga dapat diartikan sebagai suatu proses pengajaran tentang
ajara agama Islam.
Berdasarkan
pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pendekatan pendidikan agama Islam
merupakan suatu upaya yang dilakukan untuk menyelesaikan permasalahan di dalam
pembelajaran pendidikan agama Islam. Sehingga kegiatan belajar mengajar dapat
berjalan dengan lancar dan dapat diterima dengan baik oleh murid.
B.
Definisi Pendekatan Pendidikan Agama Islam
Multikultural
Sebelum mengetahui definisi pendekatan agama Islam
multikultural akan lebih baik dibahas terlebih dahulu pengertian dari multikultural.
Hal itu dilakukan karena sebelumnya pengertian pendekatan pendidikan agama
Islam telah dibahas. Oleh karena itu, untuk mengetahui definisi tersebut akan
dibahas terlebih dahulu pengertian multikultural.
Multikultural berasal dari kata
kebudayaan dalam bahasa Belanda yang disebut Cultur dalam bahasa Inggris
disebut Culture sedangkan di dalam bahasa Arab disebut Tsaqafah,
selain itu dalam pengertiannya yang berasal dari perkataan latin artinya mengolah
mengerjakan, menyuburkan dan mengembangkan terutama mengolah tanah atau Bertani.
Dari arti tersebut berkembanglah culture sebagai “segala daya dan
aktifitas manusia untuk mengolah dan mengubah alam.[5]
Berdasarkan pengertian multikultural dapat diketahui bahwa multikultural merupakan
ragam budaya yang muncul dari kebiasaan hidup sekelompok manusia yang kemudian dikembangkan
hingga sekarang.
Setelah mengetahui pengertian multicultural,
maka dapat didefinisikan pendekatan pendidikan agama Islam multicultural. Pendekatan
pendidikan agama Islam multikultural adalah segala upaya yang dilakukan untuk
menyelesaikan permasalahan terkait perbedaan budaya yang dihadapi dalam
kegiatan belajar mengajar pada mata pelajaran pendidikan agama Islam. Sehingga
permasalahan perbedaan budaya dapat dihadapi dan dilaksanakan kegiatan proses
belajar mengajar dengan lancar.
C.
Macam-macam Pendekatan Pendidikan Agama
Islam
1.
Pendekatan Pengalaman
Pendekatan pengalaman yaitu pemberian pengalaman
keagamaan kepada peserta didik dalam rangka penanaman nilai-nilai keagamaan
baik secara individual maupun kelompok. Pengalaman adalah suatu hal yang sangat
berharga dalam kehidupan manusia. Syaiful Bachri Djamrah menjelaskan bahwa
pengalaman adalah guru tanpa jiwa, namun selalu dicari oleh siapapun juga.[6]
Al Qur’an memberikan contoh yang sangat jelas
bagaimana pendekatan pengalaman dipakai dalam memberikan pelajaran dan
peringatan kepada semua manusia agar mereka tidak terjerumus dalam situasi dan
perbuatan yang sama. misalnya bagaimana Allah menjadikan jasad Fir’aun
sebagai sumber pelajaran dengan pola pendekatan pengalaman. Firman Allah
dalam Q.S.Yunus/10: 92.
فَالْيَوْمَ
نُنَجِّيْكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُوْنَ لِمَنْ خَلْفَكَ اٰيَةً ۗوَاِنَّ كَثِيْرًا
مِّنَ النَّاسِ عَنْ اٰيٰتِنَا لَغٰفِلُوْنَ ࣖ
Terjemahannya:
Maka pada hari ini Kami selamatkan jasadmu agar engkau dapat menjadi pelajaran
bagi orang-orang yang datang setelahmu, tetapi kebanyakan manusia tidak
mengindahkan tanda-tanda (kekuasaan) Kami.
Sedemikian
pentingnya pendekatan pengalaman dalam pembelajaran pendidikan Islam, sehingga
Allah berkali-kali memerintahkan umat Islam atau manusia pada umumnya untuk
mencari pengalaman dengan mengkaji riwayat bangsa-bangsa terdahulu dan terus
menerus melakukan kajian terhadap bekas tempat tinggal dan kehidupan
mereka, juga dengan berbagai peristiwa alam yang terjadi dalam kehidupan
sebagaimana firman Allah dalam Q.S. Yunus/10: 39 dan 73.
بَلْ كَذَّبُوْا بِمَا لَمْ يُحِيْطُوْا
بِعِلْمِهٖ وَلَمَّا يَأْتِهِمْ تَأْوِيْلُهٗۗ كَذٰلِكَ كَذَّبَ الَّذِيْنَ مِنْ
قَبْلِهِمْ فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الظّٰلِمِيْنَ
Terjemahnya:
Bahkan (yang sebenarnya), mereka mendustakan apa yang mereka belum mengetahuinya
dengan sempurna dan belum mereka peroleh penjelasannya. Demikianlah halnya
umat-umat yang ada sebelum mereka telah mendustakan (rasul). Maka perhatikanlah
bagaimana akibat orang yang zalim.
Metode
mengajar yang dapat dipakai dalam pendekatan pengalaman, diantaranya adalah
metode eksperimen (percobaan), metode drill (latihan), metode sosiodrama
dan bermain peran, dan metode pemberian tugas belajar dan resitasi dan lain
sebagainya.
Mendidik peserta didik merupakan aktivitas
yang sangat mulia, menuntut kemampuan wawasan keilmuan serta persiapan yang
baik. Karena anak sebagai objek dan subjek pendidikan memiliki perbedaan dan
perbedaan tersebut secara berkelanjutan saling mempengaruhi terhadap sikap dan
tingkah lakunya. Dalam hal ini Jean Sota dan Ibrahim Amini mengatakan bahwa:
Setiap anak-anak memerlukan metode penanganan tersendiri karena setiap individu
manusia itu sangat unik. Seluruh karakter manusia itu harus didekati dan
dipahami secara spesifik dan maksimal. Sel-sel otak manusia misalnya sangat
luar biasa dan memerlukan pengetahuan yang luar biasa pula. Perbedaan manusia
itu bukan hanya karena faktor-faktor IQ saja tapi juga faktor lain yaitu
karakter yang termasuk akhlak, kepribadian, pembawaan dan sebagainya.[7]
Perbedaan
karakter, kecerdasan, akhlak, kepribadian, dan pembawaan peserta didik haruslah
diketahui dan dipahami para pendidik sebagai aspek pendukung efisiensi dan
efektifitas proses pembelajaran. Pendidik sebagai proses transformasi
nilai-nilai Islam kepada peserta didik haruslah dilakukan dengan perencanaan
yang baik, mengingat pendidikan Islam adalah solusi yang mampu mengajak,
membawa, dan mengeluarkan masyarakat dari kebodohan, pesimis, dan akhlak yang
caruk maruknya menuju masyarakat yang ideal dalam konsep
Islam. Untuk mewujudkan hal tersebut pendidikan pengalaman merupakan salah satu
aspek lain yang dibutuhkan pendidik dalam mentrasnfer nilai-nilai Islam. Karena
dengan pengalaman, peserta didik dibiarkan untuk mengalami dan merasakan
langsung pengalaman keagamaan baik secara individu maupun masyarakat.
Pengalaman yang dijalani oleh peserta didik saat ini akan mempengaruhi sikap
dan tingkah lakunya dimasa yang akan datang, karena setiap pengalaman mengambil
sesuatu yang telah dilalui dan bisa saja merubah sikap, dan kualitas pengalaman
anak dimasa mendatang.
Pengalaman
bagi John Dewey adalah daya penggerak. Nilai pengalaman hanya bisa dilihat dari
kearah mana dan kedalam apa ia bergerak.[8] Maka
penyelenggaraan pendidikan sebagai penanaman ideologi yang memiliki visi
tertentu terhadap pendidikan Islam haruslah diselenggaran dengan cita-cita yang
mulia.
2.
Pendekatan Rasional
Pendekatan
Rasional adalah suatu pendekatan mempergunakan rasio (akal) dalam memahami
dan menerima kebesaran dan kekuasaan Allah. Ajaran agama Islam sebagian harus
diyakini tanpa ada interpretasi karena, tetapi dalam konteks yang lain terdapat
ajaran yang harus dicerna dengan pendekatan rasio.
Ayat-ayat
yang berkaitan dengan penciptaan manusia, penciptaan alam semesta, kekayaan dan
keragaman hayati dan aspek-aspek lain dari keindahan tata ruang angkasa
membutuhkan kecermelangan rasio untuk memahaminya. Out put pemahaman
dengan pendekatan rasio terhadap keajaiban alam menjadikan manusia bertambah
keimanannya.
Dalam
kehidupan, orang berpegang pada nilai-nilai sebagai standar bagi segala
aktivitasnya.[9] Nilai-nilai
ini ada yang tersembunyi ada pula yang dapat dinyatakan secara eksplisit, ada
juga bersifat multidimensional, relatif dan yang rasional. Belajar rasional
ialah belajar dengan menggunakan kemampuan berpikir secara logis dan rasional
(sesuai dengan akal sehat). Kemampuan berpikir secara logis dan rasional
inilah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Tidak mengherangkan jika
Rene Descartes dari pendapatnya tentang segala kebenaran itu memunculkan diktum
yang sangat terkenal “cogitoergosum”. Persoalannya, apakah berpikir itu menjadi
kualitas yang inheren pada setiap manusia atau lebih sebagai kualitas yang
diperoleh lewat upaya tersengaja. Tujuan pendidikan telah mengeksplisikan
pentingnya kualitas kecerdasan. Dimana pendidikan pada dasarnya adalah usaha
sadar manusia untuk menumbuhkembangkan potensi sumber daya manusia peserta
didik dengan cara mendorong dan menfasilitasi mereka. Secara detail, dalam
undang-undang RI Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
Bab II pasal 3 sebagai berikut: Pendidikan Nasional berfungsi
mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat
dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya
potensi peserta didik agar 1 negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Dari
tujuan pendidikan Nasional diatas telah menegaskan pentingnya mengembangkan
potensi kecerdasan bangsa dan tanpa pendidikan potensi tersebut, peserta didik
tidak akan berkembang secara maksimal.
Penggunaan akal untuk mencapai
pengetahuan termasuk pengetahuan pendidikan Islam mendapat pembenaran agama
Islam. Karena, sebagaimana telah di
ketahui bahwa al-Quran merupakan petunjuk yang memberikan tuntunan
bimbingan serta bantuan dalam memahami realitas sesuatu. Akan tetapi, al-Qur’an
tidak akan dapat dipahami oleh orang-orang yang tidak menggunakan akalnya,
melaingkan oleh orang-orang yang memiliki ilmu serta mempergunakan akalnya
untuk mengetahui. Oleh karena itu, dibutuhkan pemikiran yang makin rasional dan
logis sebagai media atau alat untuk mendapatkan pengetahuan dan pemahaman
terhadap kandungan al-Qur’an sebagai cermin dari ajaran Islam. Dalam Islam
mengetahui sesuatu ilmu pengetahuan sama pentingnya dengan pengamalannya secara
konkrit. Oleh sebab itu, pendekatan rasional memiliki posisi dan fungsi
yang penting dimana pendidikan Islam berusaha untuk menyelaraskan antara iman,
ilmu, dan amal.
3. Pendekatan
Emosional
Pendekatan emosional merupakan usaha
yang dilakukan oleh pendidik untuk mengubah perasaan dan emosi peserta didik
dalam meyakini ajaran Islam serta dapat merasakan mana yang baik dan yang
buruk. Peristiwa yang terjadi dalam kehidupan peserta didik akan menjadi
bangunan emosi atau perasaan mereka. Proses belajar di sekolah adalah proses belajar
yang sifatnya kompleks dan menyeluruh. Untuk meraih prestasi yang tinggi,
seseorang harus memiliki Intelligence Quetient (IQ) yang tinggi,
karena intelegensi merupakan bekal potensial yang akan memudahkan dalam belajar
dan pada giliranya akan menghasilkan prestasi belajar yang optimal.
4. Pendekatan
Pembiasaan
Pendekatan pembiasaan merupakan suatu
tingkah laku tertentu yang sifatnya otomatis tanpa direncanakan terlebih dahulu
dan berlaku begitu saja tanpa dipikirkan lagi. Pembiasaan pendidikan memberikan
kesempatan kepada peserta didik untuk terbiasa mengamalkan ajaran agamanya,
baik secara individu maupun secara berkelompok dalam kehidupan sehari-hari.
Teori pembiasaan merupakan teori
belajar yang masih sangat berpengaruh dikalangan para ahli psikologi masa kini.
Pencetusnya bernama Burrhus Frederic Skinner lahir tahun 1904, seorang penganut
behaviorisme yang dianggap kontroversial. Salah satu tema pokok yang mewarnai
karya-karyanya adalah bahwa tingkah laku itu terbentuk oleh
konsekuensi-konsekuensi yang ditimbulkan oleh tingkah laku itu sendiri. Pendekatan
pembiasaan meningkat menjadi kebiasaan membutuhkan suatu proses yang bertahap
seperti halnya ketika Allah swt. melarang hamba-hamba-Nya melakukan perzinahan dan
meminum-minuman keras, tidak secara langsung diperintahkan untuk meninggalkan
secara total tetapi melalui langkah-langkah pembiasaan secara bertahap sehingga
tidak dirasakan larangan itu sebagai suatu beban yang sulit ditinggalkan. Imam
al-Gazali mengatakan bahwa metode pembiasaan sangat tepat diterapkan dalam
mendidik peserta didik.[10]
Belajar dengan pendekatan kebiasaan,
bertujuan agar peserta didik memperoleh sikap-sikap dan kebiasaan-kebiasaan
perbuatan baru yang lebih tepat dan positif dalam arti selaras dengan aturan
dan prinsip-prinsip agama Islam sebagai sumber dan landasan ideologi dalam
menetapkan tujuan yang sesuai dengan kebutuhan ruang dan waktu (kontekstual).
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Pendekatan pendidikan agama Islam
multikultural suatu cara untuk menciptakan solusi dalam menghadapi pelaksanaan pembelajaran
pendidikan agama Islam yang terkendala oleh keberagaman budaya. Oleh karena itu
dengan adanya pendekatan maka akan mampu membuat proses pembelajaran pendidikan
agama Islam semakin lancar. Selain itu murid juga akan mampu menghargai antara
satu dan lain tanpa memandang perbedaan budaya.
B.
Saran
Sebaiknya setiap guru mampu melakukan
pendekatan pembelajaran multikultural. Mengingat Indonesia merupakan sebuah
negara yang memiliki keberagaman budaya. Hal itu dilakukan agar tidak terjadi
konflik antar murid dengan budaya yang berbeda.
DAFTAR PUSTAKA
Amini, Ibrahim. 2006. Agar Tak Salah
Mendidik. Jakarta: Al-Huda.
Amri, Sofan, dkk. 2010. Kontruksi
Pengembangan Pembelajaran; Pengaruhnya Terhadap Mekanisme dan Praktik Kurikulum.
Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher.
An-Nawawi, Abdurrahman. 1996. Prinsip-prinsip
dan Metode Pendidikan Islam Dalam Keluarga, Di Sekolah dan di Masyarakat. Bandung:
CV. Diponegoro Darul Fikr.
Bachri, Syaiful, Djamrah dan Aswan Zain. 1997.
Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Chaeruddin. 2009. Metodologi Pengajaran
Agama Islam Luar Sekolah. Yogyakarta: Lanarka.
Freire, Paulo, dkk. 2009. Menggugat
Pendidikan; Fundamentalis, Konsesvatif, Liberal, Anarkis. Cet. VII. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Majid, Abdul. 2004. Pendidikan Agama
Islam Berbasis Kompetisi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Sutisna, Oteng. 1983. Administrasi
Pendidikan Dasar Teoristis untuk Praktek Profesional. Bandung: Angkasa.
Tim Dosen IKIP Malang. 1981. Pengantar
Dasar-dasar Kependidikan. Malang: Usaha Nasional.
Tri, Joko, Prasetya. 2009. Ilmu Budaya
Dasar. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
[1]Oteng Sutisna, Administrasi
Pendidikan Dasar Teoristis untuk Praktek Profesional, (Bandung: Angkasa,
1983), hlm.35.
[2] Tim Dosen IKIP Malang, Pengantar
Dasar-dasar Kependidikan, (Malang: Usaha Nasional, 1981), hlm.3.
[3] Abdurrahman An-Nawawi, Prinsip-prinsip
dan Metode Pendidikan Islam Dalam Keluarga, Di Sekolah dan di Masyarakat,
(Bandung: CV. Diponegoro Darul Fikr, 1996), hlm.33.
[4] Abdul Majid, Pendidikan
Agama Islam Berbasis Kompetisi, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2004),
hlm.130.
[5] Joko Tri Prasetya, Ilmu
Budaya Dasar, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2009), hlm.28
[6] Syaiful Bachri Djamrah
dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT. Rineka Cipta,
1997), hlm.70.
[7] Ibrahim Amini, Agar
Tak Salah Mendidik, (Jakarta: Al-Huda, 2006), hlm.237.
[8] Paulo Freire,
dkk., Menggugat Pendidikan; Fundamentalis, Konsesvatif, Liberal,
Anarkis, Cet. VII, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), hlm.247.
[9] Sofan Amri, dkk., Kontruksi
Pengembangan Pembelajaran; Pengaruhnya Terhadap Mekanisme dan Praktik Kurikulum,
(Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher, 2010), hlm.206.
[10] Chaeruddin,
Metodologi Pengajaran Agama Islam Luar Sekolah, (Yogyakarta:
Lanarka, 2009), hlm.45.

0 Komentar